Mungkin Kamu memiliki ide cemerlang, sudah punya rencana matang, modal ada, pendek kata siap menjalani bisnis. Tapi tahukah Kamu, orang sering membuat kesalahan yang tidak terpikirkan pada awal merencanakan bisnisnya. Mau tahu apa saja kesalahan itu? Yuukkk…
1. ALASAN TAK TEPAT
Biasanya menjalankan bisnis dilakukan ketika seseorang baru saja di-PHK. Padahal, Kamu memerlukan waktu untuk menilai kelebihan dan kekurangan sebelum mengeluarkan sejumlah besar uang dan tenaga untuk berspekulasi dalam wiraswasta. Kecuali Kamu memang telah mempersiapkan jauh hari sebelumya dengan baik. Yang kerap terjadi, karena panik dan berpikir harus segera menghasilkan uang serta kembali berkegiatan, orang membuka bisnis secara terburu-buru.
Ingat, tidak ada kamus “menjadi kaya dalam sekejap”. Namun bila sejak dulu Kamu memang bercita-cita menjadi seorang pengusaha dan telah melakukan penelitian sebelumnya, baik tentang rencana bisnis ataupun cara mengevaluasi pro dan kontra, wujudkan impian itu dengan mata yang terbuka lebar-lebar.
2. TAK ADA RENCANA JANGKA PANJANG
Pemula bisnis perlu mengawasi bisnisnya secara intensif selama 6 sampai 12 belas bulan pertama. Jadi, pastikan Kamu memiliki ide kongkret untuk mempertahankan keuntungan perusahaan selama beberapa tahun mendatang. Untuk itu, diperlukan rencana yang jelas. Bila Kamu tak melakukan riset pasar yang memadai, kegagalan dan kerugian finansial jelas bakal dialami.
Perusahaan yang tumbuh berkembang adalah yang secara konstan melakukan penemuan-penemuan baru, memperbaiki, dan mengembangkan produk serta pelayanannya. Juga selalu mencari jalan untuk meningkatkan pendapatannya. Antara lain dengan mengikuti seminar-seminar, mahir berbicara, dan membuat kontrak.
3. BELUM-BELUM SUDAH “ROYAL”
Berhati-hatilah menginvestasikan tabungan untuk berspekulasi. Mengorbankan uang yang sudah disiapkan untuk pendidikan anak-anak serta uang belanja bulanan keluarga, bukan merupakan ide yang baik. Meminjam uang dari sanak keluarga ataupun teman-teman dapat merusak hubungan baik.
Oleh karena itu, bila tidak dapat memperoleh pinjaman dari bank, maka sebaiknya pikirkan kembali rencana bisnis Kamu. Kesalahan lain yang sering terjadi adalah pembagian keuntungan yang tidak sama. Bila partner bisnis memberi jumlah yang besar pada awal berdirinya usaha Kamu, maka keuntungan harus dibagi secara adil.
4. TAK PUNYA KETERAMPILAN MENGELOLA
Bila usaha Kamu memerlukan tenaga kerja, Kamu harus dapat melakukan wawancara saat mencari tenaga, mempekerjakan dengan baik, mengelola, dan memecat pegawai. Kamu perlu memiliki keterampilan memimpin untuk memotivasi pegawai agar tidak putus asa bila mengalami masalah-masalah.
Pemimpin yang senang memperhatikan yang kecil-kecil (mikro manajer) dengan pegawai yang tidak terampil, hasilnya adalah motivasi yang tidak baik. Bersikaplah diplomatis, profesional, dan sabar.
5. MERASA PALING HEBAT
Pada akhirnya pengusaha harus tahu, dia tidak dapat melakukan semuanya secara sendirian. Jadi, tak perlu bersikap atau merasa paling tahu, paling hebat. Pekerjakan orang yang mampu dan dapat Kamu percayai sesuai dengan bidangnya.
6. DIKELILINGI PARA ABS
Pemimpin yang kuat dan tegas akan membentuk tim kerja yang beranggotakan orang-orang yang mampu dan terampil dalam bidangnya. Jadi, bukan mempekerjakan orang yang hanya bisa mencari muka alias ABS (Asal Bapak Senang).
Kamu memerlukan penasihat, mitra, dan pegawai yang dapat dipercaya, yang memberikan umpan balik yang Kamu perlukan secara jujur dan bukan hanya ingin menyenangkan hati belaka. Seorang pengusaha dapat menjadi buta secara sementara terhadap masalah-masalah penting. Pastikan keluarga, teman-teman, dan mitra kerja merasa cukup nyaman untuk mengatakan secara jujur kepada Kamu tentang kesalahan yang Kamu lakukan.
7. SALAH PILIH MITRA
Pastikan Kamu melakukan bisnis secara legal. Seorang akuntan yang curang akan menghilang begitu ada pemeriksaan dari kantor pajak atau kantor keuangan. Bahkan mitra yang tidak ikut bekerja secara operasional pun, bisa memiliki niat jahat yang tersembunyi kendati ia merupakan sahabat baik Kamu.
Kamu harus berhati-hati karena mereka dapat menjadi bumerang bagi Kamu bila kepribadian serta etika kerja Kamu berdua tidak sesuai. Bicarakan pembagian kerja, tanggung jawab, dan apa yang diharapkan dari awal untuk menghindari masalah di kemudian hari.
8. MEMUTUS NET WORKING
Mungkin usaha yang Kamu jalani memberikan keuntungan dan pemasukan keuangan yang baik. Terbuai dengan sukses ini, Kamu jadi “lupa” pada komitmen untuk selalu melakukan rencana masa depan.
Jadi, jangan pernah lelah mempromosikan perusahan Kamu dan cari jalan untuk meningkatkan reputasi serta jaringan pelanggan. Pengusaha properti rumah, contohnya, menangguk hasil gemilang setelah ia memberikan kalender, buletin, pamflet sehingga nama perusahaannya makin dikenal. Cari peluang jaringan di berbagai acara dan kesempatan. Ingatkan teman-teman dan kenalan-kenalan pada produk serta layanan yang Kamu berikan dan jangan lupa untuk memperbarui atau barang-barang promosi Kamu.
9. TIDAK SELALU SIAP BERKOMPETISI
Bila Kamu berhasil membuat suatu penemuan yang inovatif seperti konsep baru atau hak paten, tidak berarti semua ini dapat betul-betul melindungi Kamu dari para plagiat. Adalah wajar jika semua orang yang melihat keberhasilan Kamu, ingin menirunya.
Kamu harus siap untuk berkompetisi dan masukkan poin ini ke dalam rencana bisnis. Jangan lupa buat proyeksi perkembangan untuk 5 tahun ke depan. Akan luar biasa jika Kamu bisa mempertahankan tingkatan yang sama di tahun-tahun mendatang dan bukannya menurun dari tahun ke tahun.
10. PENGELUARAN BERLEBIHAN
Mungkin salah satu bagian dari impian Kamu adalah memiliki ruang kerja di sudut kantor menghadap kolam renang atau meja kerja beserta kursi buatan Perancis yang harganya amat sangat mahal. Kamu harus dapat bersabar. Menggunakan sebagian besar modal untuk hal-hal seperti itu, jelas tidak bijaksana. Membelanjakan uang hasil jerih payah Kamu hanya untuk kesenangan dalam satu malam benar-benar merupakan suatu kebodohan.
11. KEHILANGAN PERSPEKTIF
Pada awalnya, semua pengusaha menenggelamkan dirinya dalam kesibukan operasional harian. Jangan lupa untuk bersantai sebentar seperti minum kopi dengan teman-teman sesudah jam kantor, pergi ke pantai atau makan malam di restoran kesayangan saat akhir pekan.
Sesudah pembicaraan bisnis yang pendek, alihkan pembicaraan ke topik yang lebih ringan. Entah tentang olah raga, hobi, dan lainnya. Untuk menjadi pengusaha yang sukses, Kamu memerlukan keseimbangan dalam kehidupan.
12. TAK PUNYA RENCANA CADANGAN
Tidak seorang pun ingin berpikiran negatif. Namun sebagai seorang pengusaha, Kamu harus dapat mempersiapkan diri pada hal-hal yang mungkin terjadi di luar dugaan dan kemampuan Kamu. Mulai dari produk yang dilarang sampai pada permasalahan buruh, asuransi, serta bursa pasar.
Intinya, Kamu harus mempersiapkan diri untuk hal yang terburuk yang mungkin saja terjadi. Siapkan sejmlah rencana cadangan. Jadi, jika gagal di rencana A, Kamu masih bisa menjalani rencana B, dan seterusnya. Dengan demikian Kamu dapat menyiapkan segala sesuatunya secara matang sebelum perusahaan yang baru Kamu rintis hancur berantakan.
sumber: prabuwardhana.wordpress.com
Selengkapnya...
Kamis, 25 November 2010
12 KESALAHAN SAAT MEMULAI BISNIS
Senin, 04 Oktober 2010
MEMAHAMI TIPE PESAING DALAM BISNIS
Saat ini persaingan strategi bisnis provider seluler pada titik puncak, tekanan-tekanan pesaing tidak saja muncul dari satu lini namun sudah mulai menyeluruh. Menyeluruh dari lini penurunan harga, produk dan layanan, kedekatan fungsi dan kedekatan harga dengan kepentingan pelanggan.
Satu hal, bahwa persaingan dalam strategi bisnis dengan lini penurunan harga akan memberikan keuntungan bagi pelanggan, karena masyarakat golongan menengah ke bawah merasakan harga yang semakin terjangkau, namun hal ini bisa menurunkan aspek kepuasan pelanggan jika hal ini muncul dengan tujuan untuk memunculkan persepsi; siapa termurah maka terbaik bagi pelanggan, dan menjadi pilihan masyarakat. Benarkah??
Ketika tarif sms awalnya adalah 350 rupiah, maka SMS merupakan alternative komunikasi yang terjangkau dan digunakan oleh kebanyakan pelanggan, baik dari masyarakat menengah maupun atas. Dan histerisnya tingkat penggunaan call/telepon lebih rendah daripada SMS, dilihat dari sisi kuantiti utility. Namun semua akan berubah ketika tarif telepon didiskon mati-matian dibawah variable harga SMS, konkretnya bawah telepon permenit bisa mencapai Rp. 1/detik, bahkan gratis. Sedang SMS masih di tingkat Rp. 350. Apa yang terjadi dari dampak persaingan ini?
Pernahkan anda merasakan nomor HP anda sulit dihubungi? Atau anda merasa bahwa telepon anda terputus saat pembicaran berlangsung? Yah semua ini adalah dampak dari manajemen harga yang muncul dari dampak persaingan. Harga telepon per menit menurun, sehingga memecau tingkat penggunaan telepon juga meningkat, karena murah, dampaknya frekuensi penggunaan menjadi overload, BTS mencapai rate dan tinggat penggunaan yang sangat tinggi, sehingga kualitas per calling jadi rendah, karena tentu BTS mempunyai batasan-batasan akses.
Penyebab lain adalah bahwa Call/telepon membutuhkan resource “ pita data” yang lebih lebar dari pada SMS, sehingga BTS overload karena Call/telepon, maka sebagai strategi “penyeimbang” tarif SMS pun diturunkan, demi keseimbangan penggunaan antara call/telepon dan sms, dengan nilai ideal bagi BTS dan dukungan hardware.
Persaingan harga ini lah yang menguntungkanpelanggan dari sisi “harga”, namun mengorbankan pelanggan dari sisi “kualitas layanan”, baik telepon yang terputus, sms yang tertunda, telepon susah masuk dan lain2.
Memahami Tipe Pesaing
Dalam penguatan dan kehandalan strategi bisnis tentu manajemen baik sektor perusahaan besar atau UKM harus memperhatikan pesaing. Pesaing tidak untuk diserang layaknya musuh namun sebagai bentuk pemicu, pemacu langkah-langkah bisnis yang cerdik, implementatif dan cocok dengan kebutuhan masyarakat dari sisi bentuk produk/layanan dan kualitasnya.
Persaingan secara umum terbagi menjadi 2
1. Pesaing Destruktif
2. Pesaing Konstruktif
Pesaing Destruktif.
Dalam strategi bisnis, pesaing tipe ini lebih kepada menguatkan kekuatan untuk menghancurkan pengaruh pasar terutama dalam margin dari lawan atau justrumengurangi margin perusahaan itu sendiri. Seperti kasus di atas sebuah provider sengaja menurunkan margin lawannya dengan banting harga dan diskon di semua lini, harga per unit selalu dibawah pesaing. Pesaing ini memicu tingkat Profit Margin perusahan itu sedikit terganggu, namun tujuan utama memang bukan profit margin, tapi lebih kepada tujuan menurunkan omset dan margin dari pesaing, untuk dialihkan/direbut. Sehingga terkadang perusahaan sengaja mengganti-ganti harga sesuai dengan pergantian harga perusahaan lain. Ada pula provider yang berusaha menurunkan tingkat akses call/telepon, untuk mengalihkan kepada sms, agar BTS tetap mampu melayani.
Pesaing konstruktif
Dalam stategi Bisnis,pesaing konstruktif adalah pesaing yang membangun iklim persaingan sehat dan saling mendukung dengan perusahaan lawan. Pesaing konstruktif bertujuan meningkatkan nilai tambah, nilai manfaat, nilai pemuasan dan nilai kecocokan yang tinggi dengan pelanggan dengan tidak melakukan pola strategi bisnis yang menurunkan profit margin perusahaan itu sendiri. PEsaing konstruktif mempunyai ciri yaitu menawarkan produk dan layanan dengan nilai tambah tinggi dan dengan tujuan untuk pemenuhan segmen yang masih kosong atau segmen yang tidak teridentifikasi secara khusus, dengan tujuan untuk menggairahkan Suasana manajemen yang beriklim baik pada perusahaan tersebut. Ciri inilah yang justru akan meningkatkan gairah persaingan yang sehat, daling mendukung dan saling menguji efektifitas strategi bisnisnya. Contohnnya dari tip pesaing ini Bergabungnya Bank dalam ATM bersama, bersaing namun tetap salling mendukung.
Pola persaingan yang sehat akan memunculkan penurunan harga namun justru meningkatkan kualitas layanan dan produknya.
sumber: ipan.web.id
Selengkapnya...
MENANG DALAM PERSAINGAN BISNIS
Dalam setiap bisnis, Anda tidak akan lepas dari persaingan. Apalagi jika bisnis Anda sukses, tentu pesaing-pesaing baru akan mengikuti kesuksesan Anda. Strategi yang biasa digunakan para pebisnis dalam menghadapi persaingan adalah perang harga. Masalahnya, jika Anda perang harga, maka Anda harus siap kehilangan sebagian profit. Dan perang harga yang berkepanjangan hanya akan ‘merusak’ bisnis secara keseluruhan. Bagaimana cara menghadapi persaingan dalam bisnis tanpa harus menurunkan harga ?
1. Pilih Pesaing Yang Tepat
Menghadapi persaingan membutuhkan energi, waktu dan biaya. Karena itu, sebelum melangkah lebih jauh, sebaiknya Anda menetapkan siapa pesaing Anda saat ini. Jangan sampai salah dalam menetapkan pesaing. Siapa pesaing Anda akan menentukan bagaimana cara menghadapinya. Pesaing Anda boleh jadi skala bisnis lebih kecil atau lebih besar dari Anda. Pesaing Anda juga boleh jadi tidak dari kategori bisnis yang sama dengan Anda.
2. Fokus Kepada Keunggulan Anda
Jika selama ini bisnis Anda sudah ‘jalan’, saya yakin bisnis atau produk Anda memiliki keunggulan. Buktinya ada yang beli, kan ? Menghadapi sengitnya persaingan, Anda harus focus pada keunggulan bisnis atau produk Anda. Jika misalnya keunggulan bisnis Anda terletak pada kualitas produk, maka pertahankan kualitas tersebut. Lebih baik lagi tingkatkan kualitas produk Anda. Dan dalam setiap promosi, tonjolkan saja keunggulan produk Anda tadi. Contoh lagi, kalau keunggulan Anda terletak pada kecepatan pelayanan, maka keunggulan inilah yang harus Anda pertahankan dan tingkatkan
3. Fokus Kepada Kelemahan Pesaing
Tahukah Anda apa kelemahan pesaing Anda saat ini ? Jika sudah tahu, mengapa Anda tidak menggunakan kelemahan pesaing Anda untuk kesuksesan bisnis Anda sendiri ? Sediakan untuk customer Anda apa yang tidak disediakan pesaing. Berikan customer Anda apa yang tidak diberikan pesaing Anda.
4. Belajar Dari Pengalaman
Pengalaman adalah guru terbaik. Anda bisa belajar dari pengalaman Anda sebelumnya, atau belajar dari pengalaman orang lain dalam menghadapi persaingan. Menghadapi persaingan tidak melulu urusan strategi bertindak, tapi juga bagaimana sikap dan mental Anda. Tidak ada salahkan Anda belajar kepada mereka yang berpengalaman
5. Keluar Dari Persaingan
Persaingan kadang tidak selalu harus Anda hadapi. Ada kalanya dalam kondisi tertentu, Anda harus keluar dari persaingan. Keluar dari persaingan bukan berarti menutup bisnis Anda. Keluar persaingan bisa berarti Anda mencari ceruk pasar baru, membuat produk baru, inovasi, dll
6. Berdoa
Nah, kalau ini strategi paling akhir dan harus Anda lakukan. Bagaimanapun juga, bisnis itu kan masalah rezeki. Seberapa hebatpun strategi yang Anda lakukan, hanya Tuhan saja yang menentukan hasilnya. Semoga Anda sukses dalam menghadapi persaingan bisnis. Bagaimana pendapat Anda ?
sumber: alarief.com
Selengkapnya...
Sabtu, 02 Oktober 2010
KARAKTERISTIK MENJADI PENGUSAHA YANG SUKSES
1. Kemampuan untuk mengembangkan fokus yang jelas.
Anda harus tahu betul apa yang membuat usaha Anda berbeda dari para pesaing. Kembangkan sebuah visi dan laksanakan, jangan beralih dari satu ide ke ide yang lain. Banyak pengusaha gagal karena mereka merasa bahwa ide baru yang mereka temukan lebih menarik daripada yang mereka jalankan sekarang.
2. Harapan yang realistis.
Jika Anda melakukan diet dan berharap bisa menurunkan berat badan lima kilo pe rminggu, Anda pasti akan kecewa dan menyerah. Jika tujuan Anda lebih realistis, kemungkinan besar Anda akan tetap berpegang padanya dan berhasil. Sangat jarang ada orang yang “kaya mendadak”.
3. Kemauan untuk membuat rencana.
Para pengusaha paling sukses adalah orang-orang yang memiliki tujuan dan rencana yang jelas untuk meraihnya. Mereka mempelajari pasar, persaingan, dan mekanismenya, serta bersedia mempelajari sungguh-sungguh semua kendala yang mungkin akan dihadapi.
4. Fleksibilitas dan adaptabilitas.
Selain membutuhkan rencana dan fokus yang jelas, Anda juga perlu memiliki fleksibilitas dalam menanggapi perubahan situasi. Dalam bisnis, dan juga hidup, segalanya berubah, dan masalah pasti ada.
5. Kemampuan untuk mengatasi kekhawatiran karena harus menjual.
Dalam artian tertentu, semua pengusaha adalah penjual. Anda tidak boleh takut berhadapan dengan konsumen, memotivasi pegawai, dan menjalin hubungan baik dengan pemasok. Anda tidak harus punya keahlian tersebut saat memulai usaha, tetapi Anda harus mempelajarinya agar usaha Anda tetap berjalan.
6. Bersedia bekerja keras.
Tidak ada jalan pintas disini; menjalankan usaha berarti bekerja keras sepanjang waktu.
7. Tujuan pribadi yang jelas.
Kita semua punya keinginan yang berbeda-beda. Kita ingin punya banyak uang dan sekaligus sudah berada di rumah saat anak-anak pulang sekolah. Kita ingin mengontrol semua kegiatan tetapi produk dan jasa yang kita hasilkan sangat beragam. Tujuan-tujuan tersebut jelas saling bertentangan satu sama lain. Untuk mencapai keberhasilan, Anda harus fokus pada apa yang benar-benar penting bagi Anda dan apa yang dapat Anda capai.
8. Pengalaman.
Anda tidak perlu berpengalaman sebagai manajer sebuah perusahaan mobil untuk memulai bisnis mobil bekas, tetapi Anda harus punya pengalaman dalam bidang terkait atau pengalaman dalam menerapkan kemampuan yang Anda miliki sebagai manajer, sebelum mengawali suatu usaha.
(sumber : THE OWNER’S MANUAL for small business , Rhonda Abrams)
sumber: bisnisukm.com
Selengkapnya...
FOKUSLAH PADA USAHA ANDA
Orang yang sukses pada tujuan hidup mereka melalui perjuangan dengan cara mengatasi kendala sehingga mereka termotivasi.
Biasakan Diri Tetap Fokus
Fokus merupakan bagian terpenting untuk membantu Anda mengelola usaha dengan tepat. Fokus juga merupakan hal terpenting bagi seorang entrepreneur, pemimpin, karyawan, atau siapa saja yang menginginkan meraih sukses dalam mencapai tujuan hidup. Oleh sebab itu penting bagi Anda untuk membiasakan diri terfokus pada satu bidang saja sehingga pikiran Anda terpusat atau terkonsentrasi pada satu hal dan tidak terpecah-pecah.
Lain halnya jika Anda tidak terfokus—pada kondisi ini pikiran Anda bercampur baur pada beberapa bidang—yang mengakibatkan konsentrasi Anda terpecah-pecah dan apa yang sedang Anda kerjakan itu sifatnya setengah-setengah, atau hanya mengikuti kulit luarnya saja—tidak mengetahui secara detail dan keseluruhan. Berbeda jika pikiran Anda terfokus pada satu bidang saja, pikiran Anda akan terpusat secara utuh pada keseluruhan satu bidang yang sedang Anda kerjakan—pada kondisi ini tenaga dan pikiran Anda benar-benar terkuras/terpusat pada satu hal saja.
Berkaitan dengan dunia bisnis, seorang pengusaha atau pemimpin yang memusatkan tenaga, pikiran dan perhatiannya sepenuhnya pada “bidang usaha” yang tengah digarapnya tentu akan mudah mencapai sukses. Sering kali kita mendengar keluhan klise dari mulut seorang pengusaha suatu ketika ia mengeluh bisnisnya mengalami masalah. Maka dengan cepat mereka langsung mengomentari bahwa core businessnya tidak terfokus.
Boleh saja Anda menangani berbagai bisnis, misalnya mengelola salon, elektronik dan ritail sekaligus. Tetapi pikirkanlah akibatnya, karena sifat manusia tidak pernah lepas dari keserakahan, selalu saja merasa “ingin lebih”. Coba renungkan dan pikirkan, dalam bisnis sikap semacam ini tidak bisa Anda terapkan. Sebab dengan bertambahnya banyaknya bidang bisnis yang Anda masuki akan membuat waktu dan pikiran Anda tersita dan super sibuk.
Akibatnya?Waktu dan tenaga Anda akan terasa kurang. Kecuali Anda mampu mendelegasikan pucuk pimpinan dari bidang usaha yang berbeda bidang itu kepada orang kepercayaan Anda. Tapi kalau tidak bisa, sadarilah secepatnya, agar Anda untuk kembali pada core business saja.
Andaipun Anda ingin melakukan ekspansi atau diversifikasi usaha, sebaiknya Anda masuk pada bidang usaha yang masih berhubungan dengan bisnis inti Anda sehingga memudahkan Anda untuk melakukan sinergi bisnis secara bersamaan. Contohnya, jika Anda seorang pengusaha rumah makan jika ingin melakukan peluasan usaha pilihan lahan yang masih ada hubungannya dengan bisnis rumah makan_misal Anda menambahkan divisi catering atau mendirikan café atau restoran bertaraf internasional. Hal ini akan mudah Anda lakukan secara bersamaan dan efisien waktu dan tenaga Anda.
Banyak pengalaman dari beberapa pengusaha yang mengerjakan berbagai kegiatan usaha, bukannya untung tapi malah buntung. Niatnya mungkin ingin menguasai semua sector bisnis. Buanglah anggapan keliru semacam itu. Yang benar adalah apabila bisnis Anda pada satu bidang saja akan membuat seseorang semakin kuat (menghadapi pelanggan, rintangan,dan segala permasalahannya).
Akan lebih baik lagi jika Anda membuka usaha sesuai dengan keinginan, minat, pendidikan yang Anda kuasai. Atau menggali keunikan yang ada pada diri Anda untuk kemudian Anda kembangkan sebagai usaha, jika Anda serius melakukannya jalan menuju sukses tentu akan mudah Anda lalui.
Perusahaan yang bijaksana adalah perusahaan yang terfokus. Ingat pepatah kuno: Jika Anda mengejar dua ekor kambing sekaligus, maka kedua-duanya akan kabur. Begitu juga dalam bisnis,pilihlah celah bisnis yang dapat memenuhi kebutuhan mereka karena jika Anda bisa memilih sasaran bisnis yang lebih baik dari pesaing-pesaing maka Anda akan menjadi pemenang atau Anda akan “tersisih”?
Penting buat Anda yang sedang melakukan usaha baru, pikirkanlah beberapa saat kemudian putuskanlah “satu” bidang usaha yang ingin Anda masuki, dari sepuluh “angan-angan” Anda tentu tidak bisa semua bidang ingin Anda masuki, jadi pilihlah satu bidang saja—carilah satu bidang usaha yang Anda rasa dan Anda pikirkan “tepat” bagi diri dan potensial Anda.
Tapi jangan sekali-kali Anda memfokuskan pilihan Anda pada kelemahan-kelemahan Anda, karena itu jangan pernah membanding-bandingkan kelemahan-kelemahan diri Anda dengan orang lain—Maksudnya disini : Anda jangan latah meniru bisnis orang lain yang sukses disatu bidang karena belum tentu bidang yang sukses dilakukan orang tersebut Anda mengerti.
sumber: connecti.biz
Selengkapnya...
4 FOKUS DALAM MENGEMBANGKAN USAHA
.Penjualan harus lebih besar dari biaya :
Dengan tingkat persaingan bisnis yang ketat dewasa ini, maka owner dituntut untuk menciptakan strategi penjualan yang tepat. Pemilik harus aktif membuat program program campaign, atau ”mengemas” produknya untuk mendongkrak omset. Namun, agar efektif ( program tepat sasaran ) & efisien ( program dilaksanakan dengan benar), sebaiknya owner sesekali perlu mengawasi secara langsung eksekusi program oleh karyawan dilapangan , dan mengevaluasi / mengukur hasil program dalam rentang waktu tertentu. Bila program promosi tidak efektif, segera ganti dengan program lain yang lebih mengena. Point utama disini adalah bahwa produk atau layanan sebagus apapun, kalau tidak dibarengi dengan penawaran yang kreatif dan komunikasi yang tepat, pasti akan terseok-seok di pasar.
Namun pemilik jangan hanya fokus pada penjualan ( omset ) saja, tapi perhatikan juga biaya / pengeluaran usaha :
• Pastikan keuangan usaha Anda dipisah dengan keuangan pribadi Anda Sebaiknya bisnis Anda menerapkan sistem gaji untuk Anda, sehingga tampak jelas mana kekayaan usaha, dan mana kekayaan pemilik. Banyak terjadi, pemilik ”mengkorupsi” keuangan usahanya sendiri tanpa disadarinya.
Sedangkan untuk penyusutan aset usaha yang meliputi : mobil, komputer, gedung, dll, sebaiknya dibuatkan rekening khusus yang terpisah dengan rekening operasional usaha.
• Sisihkan waktu tiap bulan untuk mengevaluasi laporan laba rugi bisnis Anda. Cermati kemungkinan kemungkinan untuk menaikkan pendapatan dan menekan biaya. Bila perlu, mintalah masukan dari karyawan yang notabene lebih mengenal kondisi lapangan dan pelanggan.
2. Perhatikan Piutang :
Hanya ada 3 kunci sukses dalam berbisnis, yaitu cash, cash, dan cash !!
Meskipun meningkatkan pendapatan penting, namun setiap pengusaha harus selalu menjaga keuntungan dengan mengelola biaya dan menagih piutang. Pastikan piutang tidak lebih dari 30 hari. Jangan sampai usaha Anda, kesulitan keuangan untuk menggaji karyawan diakhir bulan, membayar tagihan yang jatuh tempo, atau operasional bulanan lainnya, karena piutang yang tidak tertagih. Ingat, usaha Anda bukan bank buat pelanggan.
3. Perhatikan Pelanggan :
Pelanggan adalah sumber kelangsungan hidup bisnis Anda. Sebenarnya merekalah yang memberikan pendapatan ke usaha Anda, membayar pengeluaran, tagihan, dan gaji karyawan tiap bulannya. Ingatlah selalu bahwa kita bekerja untuk pelanggan, dan dengan keberadaan kompetitor yang semakin banyak, pelanggan memiliki semakin banyak pilihan. Maka perlu ditumbuhkan kesadaran pada seluruh karyawan, bahwa kitalah yang membutuhkan mereka, dan pentingnya menjaga hubungan jangka panjang dengan pelanggan.
4. Perhatikan Karyawan :
Banyak pemilik bisnis yang menyia-nyiakan karyawannya, namun berharap mereka tetap dapat melayani dan tersenyum ramah kepada pelanggan.
Ken Blanchard dalam salah satu bukunya ”One minute Entrepreneur” memberikan nasehat : ” Karyawan bukanlah aset terpenting dalam perusahaan. Mereka adalah perusahaan. Ketika kamu menutup pintu di sore hari, dan para karyawan pulang ke rumah, bisnismu ikut pergi bersama mereka. ”
Jadi sangat penting untuk memastikan bahwa karyawan telah terpenuhi kesejahteraannya dengan layak, karena merekalah yang menjalankan bisnis kita.
Berikut hal hal yang perlu diperhatikan dalam mengelola karyawan :
a. Pastikan sistem pengupahan telah memenuhi asas keadilan untuk kedua belah pihak baik karyawan maupun owner. Sebaiknya jangan menggunakan sistem bagi hasil, karena sistem ini hanya cocok untuk skala bisnis yang kecil . Daripada menggunakan sistem bagi hasil, lebih baik gunakan sistem gaji pokok yang rendah dengan insentif atau tunjangan yang besar.
b. Berikan rasa aman karyawan dalam bekerja, dengan memberikan asuransi kesehatan atau kecelakaan kerja.
c. Perhatikan suasana lingkungan kerja, pastikan tiap karyawan memiliki motivasi kerja, dan media untuk berkomunikasi dengan atasannya atau ownernya. Lakukan pertemuan harian, mingguan dan bulanan. Sekali waktu, ajaklah karyawan untuk refreshing bersama, disesuaikan dengan kemampuan bisnis Anda..
Lakukan evaluasi atas 4 komponen diatas secara berkala tiap bulan. Inventarisasi dan susun pareto atas kendala kendala yang ditemui dari masing masing komponen. Segera selesaikan sesuai dengan pareto dan sumber daya yang dimiliki.
Dengan fokus pada 4 komponen diatas, diharapkan bisnis Anda dapat berkembang, dan Anda dapat menikmati profit yang baik tiap bulannya...
Salam sukses ! ( Mbah Darmo )
Referensi : "One Minute Entrepreneur" ( Ken Blanchard )
Selengkapnya...
FOKUS, FOKUS DAN FOKUS
“ JIka kamu menginginkan semuanya, akhirnya kamu tidak akan mendapatkan apa-apa”
Sering kali saya mengamati teman-teman yang baru memulai usaha mempunyai semangat yang tinggi. Itu baik dan seharusnya begitu. Pemula bisnis harus mempunyai semangat yang menyala-nyala. Karena jika awalnya saja tidak bergaerah, takutnya baru kesandung masalah kecil saja sudah jatuh dan tidak mau bangun lagi.
Namun sayangnya, menurut hemat saya, ada yang salah dengan apa yang mereka lakukan. Semangat yang menyala-nyala tersebut mereka pakai untuk terus menggali peluang-peluang baru. Jika mereka belum mempunyai usaha dan masih bingun usaha apa yang akan digeluti, ini tidak menjadi masalah. Tetapi jika sudah mempunyai usaha, kemudian masih mencari-cari usaha lain, saya kawatir usahanya malah menjadi berantakan semua.
Jika anda sudah memutuskan menggeluti suatu jenis usaha, kenapa tidak usaha itu saja yang dipikirkan bagaimana caranya agar bisa berkembang dan maju. Apalagi jika anda masih nyambi sambil bekerja. Tentunya waktu dan tenaga yang anda pakai untuk mengelola bisnis anda adalah waktu dan tenaga sisa. Jika bisnis anda segera menghasilkan mungkin tidak menjadi masalah, anda dan istri anda akan sedikit terhibur dengan benghasilan yang didapat. Namun jika usaha tidak berkembang, maka tinggal menunggu bubarnya saja. Apalagi jika anda mengelola bisnis yang lain.
“Kan bisa cari orang untuk menjalankannya pak” ya memang benar. Tetapi semangat orang bekerja berbeda dengan semangat pemiliknya. Selain itu kecakapan mereka untuk menjalankan bisnis tidak mereka miliki. Pekerja tidak risau dan merasa rugi jika usaha tempat dia bekerja rugi atau bubar. Apalagi jika usaha anda hanya bermodal kecil. Seandainya berhasil bisa berjalanpun anda akan mendapatakan tantangan “Enak ya si Bos. Enak-enak di rumah atau jalan-jalan tigal memetik hasilnya. Sementara aku banting tulang kerja disini. Kenapa saya tidak buka usaha sendiri saja. Kan modalnya kecil?”
Karena itulah saya merasa focus dalam satu bidang itu sangat penting. Jika usaha anda ingin berkembang, ya besarkan saja. Tambah omzet penjualannya. Namun dalam tahap awal jangan anda berpikir ingin menggandakan usaha anda menjadi 2, 3 dan seterusnya. Tetapi besarkan dan buatlah sistemnya terlebih dahulu. Jika usaha anda sudah bisa berjalan sendiri beberapa bulan tanpa kedatangan anda. Anda boleh memulai berpikir untuk menggandakannya.
Saya mempunyai beberapa teman yang berusaha dibidang kuliner. Mereka kebanyakan berpikir untuk mengembangkan usahanya, satu-satunya jalan adalah membuka cabang. Berbagai macam alasan dipakai untuk membenarkan pendapatnya. Padahal usaha yang sekarang ada saja profitnya belum maksimal. Bahkan ada yang masih merugi.
Saya sudah sering menasehati mereka, namun rupanya mereka masih kekeh pada pendiriannya. Satu-satunya cara untuk berkembang adalah pindah tempat atau membuka yang baru lagi.
Padahal sudah sering saya katakan” carilah dulu solusinya bagaimana anda dapat meningkatkan omzet ditempat yang sekarang. Seandainya tempat sekarang ini tidak cocok, tidak strategis. Alihkan strategi anda dari menunggu bola menjadi menjemput bola. Pasarkan dan jajakan produk anda keluar. Bukalah hotline pesan antar. Carilah mitra yang mau menjual produk anda. Jadikan pesaing sebagai mitra. Saya yakin cara ini akan lebih efektip dan efisien. Bahkan anda tidak perlu mengeluarkan biaya lagi”
Jadi fokuslah pada satu usaha terlebih dahulu. Besarkan dan kembangkan usaha anda, sampai anda merasa tidak ada cara lain untuk mengembangkan usaha anda. Galilah dan tanyakan kepada orang yang lebih sukses dari anda masih adakah cara lain untuk mengembangkan usaha anda? Jika memang sudah tidak ada, baru anda berpikir menggandakan usaha anda.
sumber: forumwirausaha.blogspot.com
Selengkapnya...
PENGHEMATAN, CARA EFEKTIF MENYELAMATKAN BISNIS
Dalam situasi bisnis sekarang ini, pengusaha dihadapkan pada pilihan yang sulit. Di satu sisi bahan baku & biaya operasional terus melonjak naik, namun disisi lain harga jual tidak dapat didongkrak ke atas, karena barang import dari China yang relatif lebih murah. Salah satu cara untuk tetap bertahan dalam situasi demikian adalah dengan melakukan penghematan.
Sebagai contoh, menggunakan paper klip berulang kali tentu saja bukan cara effektif dalam penghematan.
Sebagai orang yang berkecimpung dalam masalah keuangan, biasanya akan dirasakan betapa sulitnya mencari waktu untuk memulai mengurangi biaya.
Akan tetapi bila keadaan bisnis menjadi jelek, pengurangan biaya akan sangat membantu perusahaan untuk tetap hidup. Bila keadaan bisnis sedang baik, hal itupun akan membantu perusahaan untuk mendapatkan keuntungan yang lebih baik.
Juga sebenarnya masih dapat diperdebatkan bahwa ukuran dalam nilai uang pun masih sulit untuk ditetapkan. Karena suatu usaha pengendalian biaya secara ketat sama saja menggenggam segumpal lumpur. Semakin keras ia digenggam, semakin banyak lumpur yang keluar di sela sela jemari.
Untuk meningkatkan disiplin keuangan, perlu dilakukan pengamatan yang jeli terhadap praktek-praktek pemborosan suatu perusahaan. Tentu saja, hal ini dapat dilihat dalam apa yang disebut ‘Cost Drivers’. Yakni kegiatan kegiatan yang sangat mempengaruhi pengeluaran uang.
Seringkali kegiatan ini tidak dapat menunjukan jalan menuju sukses, karena tampaknya hal itu tidak ada kaitannya bahkan seharusnya dibatasi. Beberapa area nampaknya perlu diamati, bila ingin menemukan titik tolak untuk mulai melakukan pengurangan biaya. Antara lain hal hal seperti disebutkan di bawah ini dibahas secara lebih mendalam. Yaitu, yang ada kaitannya dengan jumlah transaksi, posisi pekerjaan dan departemen, produk dan jalur produksi, kualitas yang rendah, dan sifat manajemen. Area ini bukanlah bersifat mutlak tetapi merupakan sifat umum yang bisa terjadi dimana mana.
Jumlah Transaksi
Menurut Peter F. Drucker dalam bukunya yang berjudul ‘Managing For Result’ transaksi dalam perusahaan perlu diamati secara teliti. Karena pendapatan berbanding secara proporsional dengan volume produksi dan penjualan sedangkan biaya sebanding jumlah transaksi yang dilakukan.
Ini berarti bahwa dalam praktek cara yang paling efektif mengurangi biaya adalah mengurangi jumlah transaksi. Tentunya hal ini dapat terjadi dalam suatu perusahaan, dimana mulai terlihat gejala gejala sebagai berikut : jumlah hutang yang berumur 30 hari menumpuk, satu check digunakan untuk membayar beberapa faktur, dan para penagih tak henti-hentinya menelpon setiap hari.
Cara yang lain adalah menyederhanakan cara pelaporan ‘sales call’ dari bagian penjualan secara langsung. Sehingga mereka dapat melipatgandakan kegiatan penjualan dan mengurangi setengah dari biaya sales call.
Dengan demikian pemborosan dari transaksi dapat diketahui dari 2 cara. Yang pertama adalah bagaimana dapat diketahui secara pasti cara-cara mengurangi jumlah transaksi dan ‘overhead cost’ yang diperlukannya. Dan yang kedua adalah menemukan cara cara agar transaksi tidak memakan waktu, dan mendorong orang lain untuk membuat jumlah transaksi yang besar.
Posisi Pekerjaan dan Departementalisasi
Setiap posisi dan bagian dalam perusahaan merupakan ‘cost driver’. Dan seringkali mereka ini berubah menjadi tidak diperlukan dan bahkan menjadi hambatan bagi keberhasilan perusahaan.
Banyak perusahaan harus merencanakan beberapa posisi yang diperlukan pada masa lampau tetapi sekarang tidak lagi. Sebagai contoh, seorang wakil presiden bidang keuangan di sebuah perusahaan yang kecil seringakli harus bekerja keras. Untuk meningkatkan uang tunai dan menekan biaya, kadang kadang yang perlu dilakukan adalah menjual pabrik dan kemudian membeli produk berlabel dari orang lain. Dengan demikian berarti bahwa struktur organisasi mesti dirubah dan disesuaikan agar sesuai dengan tuntutan perusahaan.
Produk dan Jalur Produksi
Mungkin benar apa yang dikatakan sebuah pepatah kuno yang mengatakan demikian. Biasanya 80% dari keuntungan berasal dari 20% produk yang dihasilkan, dan banyak dari produk yang tidak dapat direalisasikan adalah sampah yang harus dihancurkan. Tetapi memutuskan yang mana harus dibuang tentunya sangat mengkhawatirkan, karena informasi dari cost accounting seringkali menyembunyikan cara cara yang menimbulkan biaya perusahaan.
Sebagai contoh, analisa struktur biaya dari pabrik multi produk yang menderita kerugian yang sangat besar. Seperti biasanya pembebanan overhead cost terhadap masing masing produk diperhitungkan sebagai persentase atas dirrect labor. Tetapi jika bagian yang terkecil dianggap sebagai angka rata rata biaya overhead, dan manucfacturing cost ditetapkan dua kali maka harga barang juga proporsional.
Struktur biaya overhead perlu diketahui untuk dokumentasi, pembelian, penjadwalan, perhitungan , dan pengawasan kualitas bahan baku langsung. Sedangkan direct labor perlu dikendalikan oleh manajer dengan tingkat menengah. Dirrect labor tidak meningkatkan biaya overhead. Tetapi tidak demikian dengan biaya bahan baku langsung.
Dengan demikian cara yang paling baik adalah di satu pihak mengurangi produk yang mengandung bahan baku tinggi. Dan dilain pihak menambah produk yang mengandung tenaga kerja yang lebih banyak.
Tetapi suatu struktur harga yang disebabkan oleh salah informasi dari accounting departement dapat mendorong langganan untuk membeli barang barang yang pada gilirannya menimbulkan membengkaknya overhead cost.
Kualitas yang Jelek
Lebih dari yang lain, ‘kualitas yang jelek adalah virus yang mematikan dan dapat mencemari seluruh perusahaan. Masalah yang utama adalah kegagalan dari dirrect cost. ini terjadi sebagai akibat produk yang dihapuskan, kesalahan yang musti dibetulkan, ataupun pekerjaan yang makan waktu 2 sampai 3 kali dari yang seharusnya.
Pemborosan tentu saja mempengaruhi bagian lain dari perusahaan, semakin banyak pegawai yang bekerja penuh, menggunakan telpon jarak jauh untuk menyelesaikan pekerjaan. Supervisi tugas yang dikerjakan lagi. Penyerahan dengan ekpedisi, proses mengkoreksi kertas kerja dan minta maaf pada langgganan.
Sesudah itu semakin banyaak manajer yang berusaha meluruskan kesalahan. Semakin rumit problem, semakin jelas mendorong para langganan berhenti membeli. Bagi penjual, ia akan mengetatkan kreditnya.
Melakukan pekerjaan – pekerjaan pembetulan seringkali menghancurkan suatu kebanggaan dan meyebabkan rasa sakit hati. Sehingga sebenarnya tidak mengherankan kalau kualitas yang jelek itu bisa juga berarti tingkat produktivitasnya juga rendah.
Sikap Manajemen
Perasaan bersalah terhadap pemborosan juga dapat menimbulkan pemborosan. Sikap semacam ini seringkali menimbulkan sedikitnya 3 problem.
Yang pertama, ia menggunakan sumberdaya hari ini yang dibutuhkan area lain untuk mendapatkan keberhasilan di masa mendatang.
Yang kedua, bila sumber daya itu dibutuhkan. Perundingan yang lalu dapat merubah ukuran yang salah atau model yang basi.
Dan yang terakhir adalah potongan – potongan dari pembelian tidak selalu dibutuhkan karena bisa menjadi pemborosan.
Sikap lain yang juga dapat menimbulkan masalah yaitu bila ada pemilik dan manajer terlalu dini mencapai sukses. Karena hal ini tentu saja akan mendorong pemborosan besar-besaran.
Hanya ketekunan yang dapat membuahkan sukses dalam bisnis. Namun tidaklah perlu memberlakukan pekerjaan jauh berlebihan dengan menganggap ‘cost driver’ sebagai lahan yang sangat berat.
sumber: henkynjotowidjaja.com
Selengkapnya...
APAKAH PRODUSEN HARUS SELALU MENDENGARKAN KONSUMEN ?
Seorang ibu rumah tangga yang baru membuka usaha baru, merasa bingung tujuh keliling. Konsumen yang satu mengkritik produknya kurang ini, sedang yang lain lagi bilang kurang begitu. Apakah semua kritikan ini harus diterima dan dijalankan ?
Dalam dunia marketing kita memang selalu dianjurkan untuk bersikap “customer oriented”, atau berorientasi pada konsumen, apa yang dikehendaki oleh konsumen, itulah yang harus kita berikan selaku produsen. Itulah prinsip utama dalam marketing. Dan disinilah letak perbedaan antara selling / menjual, dan marketing / pemasaran. Kalau dalam selling kita pokoknya berusaha untuk menjual produk yang sudah ada, maka dalam marketing produknya dibuat dan / atau dirubah sesuai selera konsumen.
Itulah latar belakang keadaan yang membuat si ibu rumah tangga tadi bingung. Apakah dia harus memperhatikan dan melaksanakan kritikan konsumen demi prinsip marketing, atau diacuhkan saja?
Selera orang pasti bermacam – macam. Bahkan dalam 1 market segment pun, selalu akan ada ketidakcocokan. Mari kita ambil contoh tentang rokok kretek, yang ditujukan pada segment golongan menengah keatas, khususnya pria, yang menghendaki rasa mantap / berat. Walaupun rokok tersebut dibuat dari bahan bermutu dan secara keseluruhan memang enak, pasti akan ada yang merasa kurang wangi, dan ada pula yang justru merasa terlalu wangi. Kalau ada produsen rokok ini misalnya merubah rokok kreteknya menjadi lebih wangi atau dikurangi rasa wanginya, maka dia akan menghadapi risiko kehilangan kelompok konsumen yang sekarang sudah merasa puas ! Nah, keputusan apa yang sebaiknya diambil produsen rokok kretek tadi ?
Jalan Keluarnya
Untuk consumer goods jalan keluar yang paling ideal ialah dengan melakukan survey secara profesional. Baik dalam hal jumlah dan cara memilih sample, questionnaire, dan cara analisa dan seterusnya.
Melalui cara ini kita bisa mengetahui apa sebenarnya kelemahan produk kita, serta berapa persen yang merasa kekurangan tadi. Jika ternyata yang merasa kurang tadi hanya 3,8 % misalnya maka produsen mungkin bisa bersikap acuh saja. Sebaliknya, bila yang merasa kurang tersebut berjumlah beberapa puluh persen, maka produsen tentu harus mengadakan perubahan terhadap produknya.
Sedang kalau tidak ada dana untuk bikin survey profesional, maka produsen bisa mentest beberapa puluh orang, lalu mengambil keputusan berdasarkan “ Marketing Judgement” atau logika. Kalau point yang dikritik itu memang menjadi kelemahan pabrik / mesin kita, atau memang kurang dibandingkan produk saingan pada umumnya, serta jumlah orang yang mengkritik cukup banyak, maka produsen harus mengadakan perbaikan.
Untuk usaha yang lebih bersifat retail bussiness seperti salon, restoran, bengkel, toko dan sebagainya, jalan keluarnya lebih mudah. Dalam bisnis demikian kita cukup melihat frekuensi “ Repreat Bussiness “, atau jumlah langganan yang datang kembali. Kalau frekuensi “ Repreat Bussiness “ tinggi, maka ini suatu pertanda bahwa produknya secara umum sudah diterima. Walaupun tidak semua, tetapi mayoritas dari para langganan sudah cocok dengan produk atau jasa kita. Jadi, sebagai seorang pengusaha kita tidak perlu merubah apa apa. Karena kalau setiap kritikan kita layani. Maka bisa bisa kita justru akan kehilangan mayoritas dari para langganan!
Dalam retail bussiness seperti diatas, pengusaha harus tetap observasi walaupun omzetnya naik berkat periklanan. Kalau kita hanya mendapat langganan baru, tanpa ada “ Repreat Bussiness “ yang cukup banyak, maka lama kelamaan usaha kita akan mati juga. Bila sebagian besar penduduk telah melihat iklan dan mencoba produk / jasa kita dan sebagian besar tidak kembali, maka produknya kurang diterima sehingga tak lama kemudian usahanya pasti akan bangkrut.
Strategi lain adalah dengan me-launch produk baru, yang ditujukan kepada kelompok konsumen yang kurang puas tadi. Jika persentasinya dianggap cukup memadai. Kembali ke contoh rokok kretek tadi, sang produsen bisa membuat rokok yang lebih wangi, atau kurang wangi, kalau jumlahnya memang cukup lumayan.
Tujuan Utama
Dalam marketing tujuan utamanya ialah memenangkan hati mayoritas konsumen target market kita. Karena produsen toh tidak akan bisa memuaskan SEMUA konsumen target market. Dalam dunia ini tidak ada, dan tidak akan ada, produk yang sempurna!
Kalau seorang pengusaha ingin memuaskan secara sempurna atau hampir sempurna. Maka dia harus memasuki bisnis yang bersifat “ Tailor Made “. Jadi jangan buat real estate , namun jadilah kontraktor. Dalam bisnis beginilah pengusaha baru bisa berusaha memuaskan selera SETIAP konsumen.
Sedang dalam bisnis yang lebih bersifat mass – market, kita cukup memuaskan MAYORITAS konsumen target market. Karena sekali kita merubah produk untuk memenuhi selera sekelompok konsumen. Maka kelompok konsumen yang mayoritas tadi bisa lari!
Jadi dalam marketing kedua titik ekstrim, harus sama sama dihindari. Titik ekstrim yang pertama ialah sama sekali tidak mau menggubris konsumen. Contoh yang baik ialah kisah Henry Ford dahulu. Pendiri pabrik mobil Ford ini dulu pernah berkata, “You can get any color, as long as it’s black!” ( Anda bisa dapat warna apa saja, asal warnanya hitam !) dengan lain perkataan, ia tidak mau bikin warna lain selain hitam. Padahal selera konsumen pasti tidak semuanya hitam. Tentu ada yang suka warna coklat, biru tua, atau bahkan warna warna yang lebih muda dan cerah. Nampaknya inilah yang antara lain dimanfaatkan ileh pabrik Jepang. Seingat penulis, pabrik mobil Jepanglah yang mempelopori mobil dengan warna muda – cerah dengan sangat berhasil.
Sedang titik ekstrim yang kedua ialah mengabulkan semua permintaan / kritikan konsumen. Semua kritikan atau saran mau diakomodir, sehingga akhirnya produk tersebut justru kehilangan mayoritas konsumen langganannya, yang sudah merasa cocok.
Mungkin ada baiknya kalau kita mengingat bunyi pepatah berikut : You can’t win them all ! Anda tidak akan bisa memenangkan kesemuanya, alias semua konsumen. Memenangkan mayoritas konsumen target market anda, sudah lebih dari cukup. Don’t try to win every battle, but try to win the war! Jangan mencoba memenangkan setiap pertempuran ( setiap konsumen ) tetapi cobalah untuk memenangkan peperangannya ( mayoritas konsumen )!
sumber: henkynjotowidjaja.com
Selengkapnya...
MENGAPA PRODUK ANDA GAGAL ?
Para pakar pemasaran mengatakan bahwa unsur terpenting dalam paduan pemasaran (marketing mix) adalah produk. Karenanya, sukses atau gagalnya suatu produk/jasa itu sebagian besar bergantung kepada produk/jasa itu sendiri. Kegagalan suatu produk jarang sekali yang disebabkan oleh unsur/faktor non-produk.
Kegagalan suatu produk itu biasanya disebabkan produk yang bersangkutan tidak bisa memuaskan kebutuhan pasar. Namun demikian, toh produk yang sehat pun bisa mengalami kegagalan. Dalam hal ini, kegagalan itu disebabkan oleh adanya faktor persaingan, bisnis yang bersangkutan telah memasuki tahap kejenuhan, atau karena situasi dan lingkungan telah mengalami perubahan besar.
Dua Problem
Melalui penerapan strategi manajemen yang tepat, upaya “menyegarkan” kembali produk yang “loyo” bukanlah merupakan hal yang mustahil. Sudah barang tentu, upaya ini harus dimulai dengan langkah penganalisisan problem secara cermat.
Pada dasarnya, problem yang dihadapi oleh para pemasar itu dibagi dalam dua golongan besar, yaitu :
- problem yang berkaitan dengan produk
- problem yang berkaitan dengan pasar
Kita mulai dengan problem yang berkaitan dengan produk terlebih dahulu. Problem ini meliputi beberapa faktor, antara lain :
1. Kejenuhan dalam penggunaan
Bila terjadi kelambanan dalam pertumbuhan atau kemerosotan profit, hal pertama yang perlu kita teliti adalah produk kita sendiri. Ini, misalnya bisa terjadi bila produk mulai memasuki tahap decline dalam product life cycle ( daur hidup produk).
Strategi yang dapat kita pergunakan untuk mengatasinya adalah dengan memperluas cakrawala produk, yaitu memperluas fungsi produk disamping fungsi yang telah dikenal. Proses ini membutuhkan dua tindakan pertimbangan penting :
a. Berkonsentrasi pada fungsi tertentu produk yang bisa memuaskan kebutuhan pasar.
b. Menganggap produk sebagai suatu komponen dalam sebuah sistem
Disamping itu dapat digunakan pula strategi lain, yaitu berusaha pula menemukan cara penggunaan/aplikasi baru untuk produk yang bersangkutan.
Cara ini biasanya membutuhkan dua tahapan :
a. Mengidentifikasikan kebutuhan fungsional (functional needs) baru yang bisa dipenuhi oleh produk disamping kebutuhan fungsional yang dirancng semula.
b. Mencari keinginan non-fungsional (nonfunctional wants) yang bisa dikaitkan dengan produk.
Motivasi untuk functional needs itu sifatnya mengacu pada segi kepraktisan. Sedangkan motivasi untuk nonfuctional wants itu mengacu pada segi sosio - psikologis (status, karakteristik kepribadian, rasa memiliki, perasaan senang/puas).
Para ahli menyatakan bahwa functional needs suatu pasar itu dapat menerbitkan penggunaan baru dari produk yang bersangkutan, dan bisa memungkinkan terbukanya peluang lain untuk meraih keberhasilan. Oleh karena itu, seseorang bisa mengantisipasi kejenuhan produk dengan mencari situasi baru lewat : waktu, sistem distribusi atau positioning. Strategi ini adalah strategi mencari functional wants baru yang diharapkan bisa memuaskan pasar. Dengan demikian, produk menjadi remaja segar kembali.
Misalnya, Amerika Express berhasil meningkatkan pangsa pasarnya dalam bisnis kartu kredit lewat 2 produknya (untuk memenuhi satu kebutuhan) : Green card dan Gold card. Kedua kartu ini bisa memuaskan functional needs yang sama. Namun adanya perbedaan warna dan hak/fasilitas tambahan untuk pemegang Gold Card, maka kartu berwarna emas ini bisa memiliki daya tarik tambakan : nonfunctional wants.
Bila konsumen lebih bisa dimotivasi lewat segi kepraktisan (aspek functional), maka segi inilah yang harus ditekankan dalam mencari penggunaan baru. Namun, bila functional needs itu tidak begitu menonjol atau produknya tidak kompetitif, maka nilai-nilai functional seyogyanya dicari dan dikembangkan berdasarkan manfaat yang relevan.
2. Positioning yang keliru
Suatu produk bermutu tinggi bila diposisikan secara keliru, dapat mengalami kegagalan. Cara paling tepat untuk memperbaikinya adalah dengan melakukan repositioning.
Strategi repositioning dapat menimbulkan pergeseran/perubahan menuju suatu penggunaan atau pasar baru. Hal ini mengandung pengertian bahwa perusahaan dan konsumen perlu memandang produk dalam cara lain yang berbeda. Dengan cara demikian, produk yang bersangkutan memperoleh persepsi yang berbeda dan memiliki serangkaian nonfunctional wants. Terkadang sedikit pergeseran citra atau persepsi penggunaan dapat menghasilkan perubahan besar dalam fungsi produk serta pasar.
3. Nilai end-user yang rendah.
Bila kesalahan dalam positioning itu mungkin lebih melibatkan masalah psikologis, maka problem yang satuini lebih berorientasi pada masalah fungsional.
Dalam masalah ini, konsumen akhir tak mengenal seluk-beluk manfaat produk, atau paling sedikit, tidak mampu membeli produk tersebut dalam jumlah yang memadai. Karenanya, perusahaan perlu lebih menekankan usaha lewat perantara yang menjual kembali (intermediary), ketimbang memotivasi kunsumen untuk membeli produk lewat upaya periklanan, promosi dan perbaikan sistem distribusi.
Perusahaan melakukan strategi push terhadap pihak intermediary yang memiliki posisi yang lebih menguntungkan. Dengan demikian, mereka ini memiliki kekuatan pull yang lebih kuat terhadap end user.
Kini kita beralih pada problem kedua, yaitu problem yang berkaitan dengan pasar. Problem ini antara lain meliputi:
1. Perubahan kebutuhan pasar
Problem merosotnya pertumbuhan atau keuntungan tidak hanya bisa terjadi pada suatu merek produk, tetapi bisa juga melanda industri produk yang bersangkutan sacara keseluruhan. Sesuai dengan berjalannya waktu, banyak perubahan dinamis yang terjadi. Keputusan poitioning yang tepat di masa lalu ternyata bisa tidak sesuai lagi di masa sekarang. Kebutuhan pasar sekarang ini berbeda dengan kebutuhan beberapa tahun yang lalu.
Strategi untuk menghadapi hal ini adalah dengan melakukan repositioning secara tepat. Atau, dengan cara melakukan perubahan besar. Bila upaya memilih citra atau pasar baru ini mengalami kegagalan, masih bisa diupayakan cara penggunaan baru terhadap produk secara tepat.
2. Pasar yang jenuh
Sebagaimana halnya dengan produk, industri dan pasar itu juga memiliki daur hidup. Bila pasar telah sampai pada tahap jenuh, maka situasi akan berubah menjadi lebih kompetitif.
Salah satu strategi untuk mengatasinya adalah dengan memasuki segmen yang berbeda untuk katagori produk yang berbeda pula. Sudah barang tentu, hal ini harus dilakukan sebelum produk menunjukan tanda-tanda “loyo”.
Strategi lainnya dapat berupa upaya mempertahankan loyalitas dari para heavy user. Atau, mengusahakan konsumen untuk mengalihkan loyalitasnya pada produk Anda. Sebagai pengusaha, Anda tak perlu menunda upaya ini sampai terlihat tanda-tanda terjadinya kesulitan.
3. Kelesuan pasar
Problem ini merupakan problem yang memiliki pengaruh paling hebat di seantero dunia. Pasar tampak payah meskipun produknya memiliki kualitas baik, karena konsumen tidak memiliki motivasi untuk membeli. Masalahnya bukanlah kekurangan dana/uang, tetapi tidak adanya motivasi.
Cara mengatasinya : melakukan penjualan lewat pihak intermediary.
Terlepas dari polemik “diciptakan” atau “dicari”, faktor kesempatan memang tergolong langka. Kesempatan mencari kerja kini begitu ketat. Kesempatan promosi juga bukan anugerah Tuhan, namun harus disertai ketekunan dan kemauan meningkatkan diri. Beberapa orang menyebutnya sebagai ambisi. Beberpa orang keliru menafsirkan ambisi dengan memperbudak diri sendiri. Beberapa orang saya mengatakan saya bahagia di kantor, tapi tidak bahagia di rumah. Saya setia di kantor tapi tidak setia di rumah. Untuk menjawab pengutaraan-pengutaraan diri seperti di atas hanya ada satu orang yakni anda sendiri. Kebahagiaan ada di dalam diri anda sendiri. Anda baru saja membahagiakan orang lain kalau anda dulu sudah bahagia. Kalau anda bekerja dan sekarang merasa menjadi budak, maka anda pasti tidak bahagia. Berwiraswasta atau bekerja makan gaji ada seninya sendiri-sendiri, ada resikonya masing-masing, ada pahit getir dan kepuasannya sendiri. Asalan anda tidak merasa dan mengasosiasikan ‘makan gaji’ sama dengan menjadi ‘budak’. Memang setia tidak berarti menjadi budak, anda ‘kan punya hak untuk bicara.
Anda harus setia
Seorang supervisor adalah seorang pemimpin. Seoarang pemimpin harus meneladani dengan kesetiannya untuk menuntut para bawahannya agar setia. Untuk bisa setia diperlukan beberapa persyaratan kualitatif.
• Memberi semangat pada bawahan, anda bukan anda yang mengeluh kepada dia.
• Beremosi stabil, dapat dipercaya, dapat jadi tempat bertanya.
• Mempengaruhi rekan-rekan melalui sifat menyenangkan, riang, jujur, sabar dan penuh semangat.
• Berani bertanggung jawab dan tidak pandai melempar tanggungjawab atau menyalahkan/menjelekkan orang lain.
• Menekan biaya atau ongkos.
• Pandai berkomunikasi lisan dan tertulis.
• Berani menghadapi masalah, kreatif dalam memecahkannya.
• Bersedia mambagi pengetahuan dan pengalaman kepada para bawahannya, termasuk mendelegasikan pekerjaan.
• Berani menegur, tapi juga pintar memuji yang bukan basa-basi.
• Menjaga keberhasilan lingkungan kerjanya, termasuk inventaris yang dipercayakan kepadanya.
Di antaranya adalah terjaminnya kualitas barang, janji yang tepat, pesanan yang sesuai dengan order, dan pelayanan yang baik.
Dalam bisnis sudah sepantasnya kalau mereka yang terlibat di dalamnya mulai memikirkan hubungan yang bersifat jangka panjang. Sehingga tingkah laku orang-orang bisnis sesuai dengan norma dan etika yang akan mendukung kelestarian kepercayaan.
Bisnis memang seringkali menimbulkan konflik kepentingan. Etika bisnis bertujuan untuk menghindarkan konflik kepentingan pribadi dan perusahaan. Oleh karena itu batas-batas kepentingan itu harus jelas.
Sebaiknya dalam sebuah perusahaan ada ‘rule of the game’ yaitu, suatu aturan permainan yang harus dipatuhi olah setiap karyawan.
Sebagai contoh, kaaryawan bagian pembelian tidak dibenarkan membeli suatu barang yang memberi peluang untuk memberikan keuntungan pribadi. Atau bagian penjualan tidak diijinkan memberikan potongan harga yang tidak adil.
Kepentingan
Secara umum ada beberapa kemungkinan untuk memperoleh modal yang dapat digunakan untuk membangun suatu kerajaan bisnis.
Modal yang diperoleh dari harta warisan. Modal yang didapat karene menang lotere. Keduanya berdasarkan nasib baik.
Kemudian ada lagi modal yang berhasil dikumpulkan karena bekerja keras dan menabung. Atau dapat juga modal yang diperoleh karena melakukan penelitian dan menemukan sesuatu yang bisa didaftarkan patennya.
Ada kemungkinan yang lain. Yaitu, terjadinya komersialisasi birokrasi. Dimana hal ini merupakan pertemuaan kepentingan antara kekuatan politik dan kekuatan ekonomi. Hal ini juga dapat menimbulkan sumber permodalan. Gejalanya adalah adanya penguasa yang menjadi pengusaha. Atau ada pengusaha yang sangat bergatung pada penguasa.
Komersialisasi birokrasi seringkali menimbulkan kerancuan dalam etika bisnis. Juga terhadap hukum yang berlaku dlam bisnis. Karena disamping pertemuan kepentingan, seringkali juga menimbulkan konflik kepentingan.
Sehingga mekanisme pasar tidak sepenuhnya berjalan atas kekuatan ekonomi tetapi ada intervensi politik dalam bisnis. Dan etika politik juga dimasukkan sebagai pedoman. Akibatnya adalah keruwetan dalam dunia bisnis. Barangkali tindakan non etis dilakukan oleh orang yang sebetulnya kurang memahami kodrat bisnis dan ekonomi yang berdasarkan pemikiran jangka panjang.
sumber: henkynjotowidjaja.com
Selengkapnya...
PERLUKAH SEBUAH PRODUK DIBERI MEREK
Dalam memasarkan sebuah produk atau layanan jasa berhubungan erat dengan apa yang disebut MEREK. Andaikan suatu waktu anda kehausan dan pada saat itu anda melihat sorang penjual minuman dibuah kedai, yang menjual berbagai minuman, baik dalam kemasan ataupun yang diracik ditempat, dan anda berniat membeli sebotol minuman dingin, apapun itu. Kira-kira apa yang akan anda tanyakan kepada sipenjual minuman tersebut? tentu anda akan menyebutkan “MEREK” yang anda inginkan bukan?
Jadi, sebetulnya, apa fungsi MEREK itu?
Ahli pemasaran, Hermawan Kartajaya pada seminar bertema: “Menaklukkan Pasar Dunia: Membangun dan Melindungi Merek“, di Gedung Departemen Perindustrian, Jakarta selatan (Selasa, 13/05/2008), mengatakan bahwa, “Merek sebuah barang atau jasa sangat erat hubungannya dengan pemasaran. Makanya, tanpa merek, barang atau jasa menjadi tidak jelas identitasnya“.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Fungsi merek merupakan “Identitas”, dimana Identitas ini merupakan faktor pembeda antara suatu produk / jasa dengan produk/ jasa lainnya. Merek disini yang membedakan “nilai jual” sebuah produk, meskipun berasal dari bahan baku yang sama.
Contoh:
Jika anda pemain konveksi, mungkin pernah bekerjasama dengan perusahaan garmen besar dan “punya nama”, katakanlah namanya ABCDEF. Disini anda memproduksi sebuah kemeja/ kaos tanpa merek, yang jika dijual dihargai pasar senilai Rp.50.000/ pcs. Tatapi, perusahaan garmen besar ABCDEF tadi memesan kemeja/ kaos dari anda tanpa merek dan oleh perusahaan tersebut kaos/ kemeja tersebut di beri sebuah “MEREK” mereka, dan bisa dijual di pasaran senilai Rp. 150.000 / pcs.
Jadi, sebenarnya, apakah yang dibeli konsumen? Baju atau Merek-nya?
Sebenarnya yang dibeli konsumen adalah sebuah merek. Fungsi merek disini adalah “faktor pembeda”, antara suatu produk dengan produk lainnya, walaupun bahan, warna, dan kualitasnya sama.
Selain faktor pembeda, ternyata merek disini juga memberikan “value” yang berbeda pula, baik dengan produk yang tidak diberi merek atau produk dengan merek lain.
“Seringkali orang tidak sadar bahwa merek adalah bagian penting dari marketing. Buat apa produk bagus tetapi tidak diikuti dengan merek yang kuat,” ujar Hermawan. Lebih lanjut hermawan mengatakan, “keberadaan merek tak ubahnya dengan jati diri sebuah barang atau jasa. Apalagi bagi pengusaha yang memang ingin bersaing di pasar global, merek menjadi suatu pegangan dalam pemasaran barang atau jasa“.
“Jika pengusaha ingin mencari pelanggan yang setia, biasanya diperlukan merek. Tapi kalau ingin sekedar jualan, ya tidak perlu merek,” ujar Hermawan lagi. Menurut Hermawan, harus ada kesadaran yang kuat dari para pelaku bisnis di Indonesia untuk mendaftarkan merek barang atau jasa yang dihasilkan. Karena, kelalaian itu menjadi makanan empuk bagi pengusaha di luar negeri untuk mencuri Hak atas Kekayaan Intelektual (HAKI). “Jadi, kalau sebuah produk belum mendapatkan sertifikat HaKI, jangan marah kalau produk tersebut di gunakan oleh orang-orang dari negara *Maxxxxxx,” tegas Hermawan.
[*sensor]
Direktur Merek Departemen Hukum dan HAM, Ahmad fauzan, mengakui bahwa pemerintah hanya melindungi barang dan jasa yang merek-nya sudah didaftarkan. “Berdasarkan ketentuan hukum, siapa yang mendaftar, dia yang dilindungi,” katanya. Menurut Ahmad, biaya pendaftaran merek tidak mahal, yaitu Rp 450.000. Makanya tidak ada alasan bagi pengusaha untuk tidak mendaftarkan mereknya.
Sumber: Koran Warta Kota dan Media lainnya.
sumber : partisimon.com
Selengkapnya...
BAGAIMANA MEMBANGUN SEBUAH MEREK MENJADI BRAND SUPERIOR
Merek yang superior dan brand yang kuat tertancap di pikiran konsumen, merupakan impian dan keinginan hampir semua perusahaan. Semua berlomba membangun brand yang kuat dan super.
Untuk membangun merek yang super memang bukan perkara gampang, apalagi untuk produk/ merek yang baru dilounching ke pasar. Langkah awal dari sebuah produk / merek supaya menjadi super adalah mendapatkan trustworthiness dari konsumen terhadap produk itu. Dan tidak ada jalan lain untuk mendapatkan ‘kepercayaan’ dari konsumen selain daripada ‘lolos dan teruji‘ di pasar yang serba kompetitip ini.
Misalnya begini, jika kita memiliki sebuah produk, katakanlah produk yang kita miliki adalah sejenis herbal yang diberi merek ’viagra jawa‘, misalnya dalam promosi yang kita sampaikan ke calon customer bahwa herbal yang kita jual dengan merek viagra jawa ini dapat membantu vitalitas pria tanpa efek samping setelah diminum secara teratur 3 hari berturut-turut. Nah, promosi dan kualitas produk kita akan di uji oleh sistem pasar, apakah yang kita promosikan itu terbukti atau tidak. Misalnya tidak terbukti, berarti produk tersebut calon tereliminasi dari kompetisi persaingan produk. Tetapi jika memang apa yang kita promosikan terbukti, pada saat itulah kita baru mendapatkan trustworthiness dari konsumen, dan ini baru langkah awal, dimana produk kita lolos dari ujian dasar dan mulai di percayai konsumen.
Baru langkah awal ?
Ya … supaya produk / merek yang kita miliki menjadi superior atau bahkan menjadi market leader di pasaran, masih banyak hal-hal lain yang harus kita benahi dan kerjakan. Misalnya, dari segi konsep produk, inovasi produk, strategi marketing, advertising dan persepsi tentang produk kita yang harus sangat melekat dibenak konsumen sehingga memiliki bonding yang sangat kuat. Artinya, konsumen sangat percaya terhadap produk kita, itu berarti 99% dari merek yang kita miliki di persepsikan sebagai atribut bukan fisik.
Beberapa hal yang dapat dijadikan tolak ukur sebuah produk / merek yang superior adalah : Sales, Market Share, Customer Awareness, Customer Image, Customer Satisfied, Customer Loyality dan Stake Holder Value. Persepsi yang produk kita miliki dibenak konsumen dapat di lihat dari parameter Customer Imege dan Customer Satisfied. Sedangkan aspek penerimaan pasar di lihat dari segi Sales, Market Share, Customer Awareness, Customer Loyality dan Stake Holder Value. Kebanyakan kita lebih fokus pada aspek ‘penerimaan pasar’, padahal yang tak kalah pentingnya adalah aspek ‘persepsi’ itu sendiri.
Untuk membangun sebuah merek yang super memang banyak hal yang harus dilakukan. Selain harus mampu mempertahankan pelanggan yang sudah ada, sebuah produk juga harus mampu menarik pelanggan baru. Untuk mempertahankan pelanggan yang sudah ada, misalnya dengan membangun kemunitas diantara pelanggan. Contohnya: komunitas pencinta motor Harley Davidson. Sehingga dengan adanya komunitas tersebut, diharapkan pelanggan dengan sendirinya menjadi pelaku yang mempromosikan produk tersebut secara tidak langsung kepada orang lain. Sedangkan untuk menarik pelanggan baru dapat dilakukan dengan cara meningkatkan brand awareness, memperjelas identitas merek dan memberikan keyakinan kepada calon pelanggan bahwa produk / layanan yang di berikan benar-benar unggul, bermutu dan memiliki nilai yang tinggi. Jika hal-hal tersebut dapat dilakukan dengan baik, maka diharapkan produk yang kita miliki akan memiliki nilai trustworthiness yang tinggi di benak konsumen.
Contoh perusahaan yang terus melakukan inovasi terhadap produk dan memperjelas merek adalah Bogasari. Seperti kita ketahui, beberapa tahun lalu, mekanisme pasar di terapkan terhadap tepung terigu, artinya Pemerintah tidak memproteksi lagi perusahaan tepung terigu dalam negeri terhadap serangan atau persaingan tepung terigu luar negeri, dan tepung terigu impor boleh masuk dengan bea 0%.
Perubahan pada sistem pasar ini membuat Bogasari langsung merespon dengan melakukan langkah-langkah perbaikan pada produk dan brand image-nya supaya selalu menjadi yang market leader di bisnis tepung terigu. Langkah-langkah penting Bogasari antara lain dengan ‘meremajakan’ kembali merek yang sudah ada, yaitu: Kunci Biru (KB), Segitiga Biru (SB) dan Cakra Kembar (CK). Untuk meremajakan kembali ketiga merek yang berbeda ini dilakukan dengan memperbaiki penampilan/ kemasan, promosi merek yang afresif dan upaya memperjelas identitas merek pada kemasan. Bahkan dalam promosi ketiga merek tersebut, “fungsi atau kegunaan masing-masing merek juga di jelaskan kepada customer”. Misalnya merek ‘Kunci Biru‘ ditujukan untuk pembuatan kue, cake dan biscuit, Merek ‘Segitiga Biru‘ adalah tepung terigu aneka makanan dan ‘Cakra Kembar‘ dikhususkan untuk mie dan roti.
Dengan demikian, dapat dilihat, bahwa Bogasari mencoba memberikan pilihan, untuk kebutuhan pelanggan yang berbeda. Langkah Bogasari dalam hal inovasi produk yaitu melakukan perubahan pada sistem pengemasan produk. Jika sebelumnya Bogasari hanya memasukkan tepung terigu dalam kemasan 25 Kg yang dijual ke pedagang, dimana selanjutnya pedagang yang membungkus ulang tepung terigu tersebut dalam kemasan kecil 1/2 atau 1 kg dalam plastik bening biasa untuk dijual secara retail kepada konsumen rumah tangga.
Disini, Bogasari menyadari adanya resiko terjadinya penurunan kualitas tepung terigu tersebut dalam proses pengemasan kembali oleh padagang (repack), misalnya tercampur dengan benda-benda asing, dan ini pada akhirnya akan menurunkan nilai trustworthiness pelanggan terhadap tepung terigu yang di produksi oleh Bogasari. Oleh karena itu, Bogasari membuat langkah terobosan dalam hal pengemasan tepung terigunya, yaitu dengan adanya tepung terigu dalam kemasan kecil dan anti bocor, kemasannya juga lebih bagus dan yang terlebih penting adalah ‘merek-nya’ terpajang di kemasan tersebut.
Dari contoh langkah-langkah Bogasari tersebut, dapat dilihat bahwa perusahaan harus selalu memonitor perubahan pada pelanggan terkait dengan produk, sehingga dapat dilakukan beberapa inovasi yang kadang terlihat sepele, tetapi berpengaruh besar terhadap pelanggan. Atau dengan kata lain, perusahaan harus tanggap terhadap perubahan kebutuhan pelanggan, sehingga oleh pelanggan akan dianggap ‘teman dekat’ yang mengerti dan peduli terhadap masalah yang dihadapi pelanggan (berkenaan dengan produk), dan oleh karena ini akan meningkatkan kepercayaan dan loyalitas pelanggan terhadap sebuah produk / merek.
Yang perlu di ingat dalam advertising produk / merek adalah jangan ikut-ikutan dengan apa yang dilakukan oleh kompetitor. Kalau bisa produk dan advertising harus tampil beda, keluar arus, karena hal ini akan membuat produk / merek tersebut lebih mudah diingat, daripada tampil mirip atau sekedar mengikuti konsep produk dan strategi kompetitor.
Contoh dalam hal produk yang tampil beda, misalnya iklan-iklan Sampoerna, Khususnya iklan A mild dan Sampoerna Hijau. Kedua iklan rokok tersebut sangat kreatif dalam hal mengkomunikasikan produknya kepada masyarakat luas. Konsep A Mild dibuat sportif, jenaka, cerdas dan kaya imajinasi. Iklan A mild membuat kompetitor lain ikut-ikutan dalam konsep advertising mereka. Sedangkan iklan Sampoerna Hijau diasosiasikan dengan konsep merakyat, penuh kejutan, dan “rame-rame”. Disini, Sampoerna Hijau membuat positioning baru sebagai rokok life style, yaitu rokok untuk gaul beramai-ramai.
Inilah yang luar biasa dari creator pemasaran A Mild dan Sampoerna Hujau, mereka membuat kampanye promosi yang inovatif, bukan sekedar meniru. Iklan yang sangat menancap kuat dibenak masyarakat, baik yang merokok maupun yang bukan perokok. Dan tentu saja sulit bagi kompetitor untuk mengungguli kedua merek tersebut jika cuma menjadi follower tanpa inovasi dan kreativitas.
Ada beberapa inovasi yang dapat di lakukan antara lain :
* Pengembangan dan pembenahan distribusi
* Manajemen pengembangan produk (Product development)
* Manajemen sumber daya manusia yang dimiliki
* Pengembangan produk dan pelayanan
* Efisiensi dan efektivitas proses
* Aplikasi teknologi
* Ekspansi pasar (termasuk edukasi pasar, model periklanan dll)
‘Kreativitas’ adalah kata kunci dan menjadi faktor penting dalam upaya menjadikan produk atau merek superior dimata konsumen. Dan yang perlu diingat, antara persepsi merek dan kinerja produk harus berjalan bersama, jangan sampai ada kesenjangan diantara keduanya.
Ciri-ciri merek superior yaitu:
* Produk inovatif, artinya produk yang selalu up-date dan diperbaharui (completely renewed), supaya kekuatannya dipasar tetap terpelihara.
* Proses yang inovatif, yaitu kondisi internal perusahaan yang diperbaiki terus menerus, sehingga tercipta produk berkualitas dengan efisiensi yang tinggi.
* Pemasaran yang inovatif, misalnya kombinasi antara product line dan analisis peluang pasar, identifikasi potensi pasar dan pemecahan potensi pasar kedalam bagian-bagian yang lebih kecil, misalnya berdasarkan demografi, geografi, psikografi dll, dan tentu saja perbaikan terus-menerus cara dan metode pelayanan.
Sumber Referensi: Majalah Marketing MIX
sumber: partisimon.com
Selengkapnya...
BAGAIMANA MENJADIKAN SEBUAH PRODUK MENJADI MARKET LEADER
Sebuah produk, merupakan sebuah hasil dari proses berfikir atau mungkin sebuah penelitian panjang dengan metode trial and error yang melelahkan, dan proses produksi yang sedemikian hingga, sehingga terwujudlah hasil berupa sebuah “produk“, yang kita yakini – -memiliki nilai jual.
Ternyata, sebuah produk tersebut merupakan awal dari kerja keras kita. Karena kita harus meluncurkan produk tersebut ke pasar, untuk diuji, apakah memiliki nilai trustworthiness yang pantas atau tidak dibenak konsumen. Saat seperti ini merupakan masa-masa mendebarkan hati, dan muncullah sejumlah pertanyaan: mampukan produk ini menembus pasar? seberapa jauh penetrasinya? bagaimana respon pasar? bagaimana taktik dan strategi pemasarannya? dan apakah ada kemungkinan produk ini menjadi pemimpin pasar (market leader)?
Kebimbangan dan kekuatiran seperti ini sangat manusiawi, karena banyak faktor yang berpengaruh terhadap sukses atau tidak sebuah produk/ merek di pasar. Sebagian faktor bisa dikontrol atau diintervensi, tetapi sebagian lainnya tidak, misalnya faktor tingkat kompetisi, kebijakan dan peraturan pemerintah, faktor sosial, budaya, politik dan keamanan sangat sulit dikontrol. Jadi jangan heran, perusahaan besar sekelas Unilever pun bisa gagal membesarkan merek ‘Tara Nasiku’ dan ‘Mie & Me’.
Dengan perencanaan yang sangat baik sekalipun, produk yang di launching ke pasar masih berisiko terancam gagal, baik pada saat penetrasi produk maupun dalam upaya membangun dan membesarkan merek tersebut. Agar peluang keberhasilan peluncuran produk baru semakin besar, resiko kegagalan dapat diperkecil dengan melakukan pengujian terhadap pasar terlebih dahulu (trial market) melalui Soft launch. Jika ternyata pasar merespon produk tersebut dengan baik (attractive), dan harganya terjangkau (affordable), selanjutnya yang harus dilakukan adalah optimisasi availability dan awareness-nya.
Jadi, attractiveness, affordability, availability dan awareness adalah variabel dari permintaan konsumen. Dengan demikian, supaya demand dapat tercipta, sebelum meluncurkan sebuah produk yang kita harapkan menjadi superior, keempat variabel diatas harus diperiksa dengan detail.
Yang tidak kalah penting dalam peluncuran sebuah produk adalah “timing“nya, atau istilah lainnya: “In the right time and right condition“. Usahakan timing-nya tepat. Misalnya pada waktu momen hari raya, atau misalnya pada saat krisis moneter beberapa tahun lalu, sangat pas untuk me-launching produk yang harganya lebih murah daripada harga kompetitor yang telah terlebih dahulu menguasai pasar.
Namun, bukan berarti launching produk ke pasar harus selalu menunggu momen tertentu. Jika produk/ merek tersebut dibungkus dengan Unique Selling Proposition (USP) yang sudah teruji dan dipersepsikan penting oleh target market, disertai dengan kampanye promosi dan komunikasi yang mudah dimengerti serta faktor harga yang mendukung, launching dapat sukses merebut pangsa pasar dari produk/ merek yang telah lama mapan. Contohnya So Klin, Promag dan A Mild. Bahkan A mild telah menjadi Top Of Mind untuk katagori rokok Low Tar dan mendapatkan Brand Equity yang tinggi.
Umumnya, merek/ produk yang sukses di pasar dan menjadi market leader adalah merek yang inovatif dari sisi produk, proses produksi dan marketing. Inovasi pada produk yang terus menerus sangat penting supaya produk tetap bertahan posisinya dalam persaingan yang ketat. Sedangkan inovasi pada proses produksi ditujukan untuk terus memperbaiki kualitas produk dan efisiensi biaya produksi. Dan inovasi pada sisi pemasaran atau marketing dimaksudkan untuk memenangkan strategi kompetisi merek, baik melalui analisis pelanggan, kompetitor dan kompetensi supply.
Tetapi tidak selalu produk yang superior dan pemegang market leader adalah produk yang pertama kali launching. Bisa jadi sebuah produk menjadi superior kalau ia adalah produk pengikut atau follower alias me too. Contohnya merek So Klin. Parameter superioritas suatu produk/ merek, tidak dapat dilihat dari apakah produk itu market leader atau tidak dipasar, tetapi juga harus dilihat dari omsetnya, share of voice-nya (hal ini bisa dilihat dari biaya iklannya), langkah terobosan pemasarannya, tingkat awareness-nya, pertumbuhannya stabil atau tidak, dan besar kecilnya profit yang masuk ke kas perusahaan.
Jika produk yang hendak diluncurkan adalah produk me too atau follower, perlu upaya yang lebih keras dalam penetrasi produk tersebut dipasar. Karena dapat dipastikan, sang Market Leader tidak akan tinggal diam menyaksikan pangsa pasarnya digerogoti merek pendatang baru. dalam proses penetrasi produk me too ini, lebih baik pelan-pelan dan setahap demi setahap. Unique Selling Proposition merek harus dipastikan benar-benar teruji dengan baik dan pastikan di mata target market, merek tersebut di persepsikan “penting”. Setelah merek tersebut semakin besar dan terkenal, baru gelontorkan iklan gede-gedean untuk menggeser posisi sang market leader/ kompetitor.
Jika modal keuangan produk me too lumayan kuat, launching produk dapat dilakukan dengan cara All Out. Setelah mengkomunikasikan value yang penting yang akan didapatkan customer, dan customer sudah aware denan nilai yang diberikan oleh sebuah produk, maka harga bisa disetting lebih murah dari kompetitor, dan melakukan promosi yang gencar bahkan bisa disertai gimmick berupa hadiah. Pendek kata, harus mempersiapkan diri dengan matang dan menyediakan nafas panjang untuk menghadapi ‘penghadangan’ yang akan dilakukan oleh sang market leader.
Namun yang perlu diketahui, bahwa dengan strategi promosi dan penetrasi yang jor-joran menguras isi kantong seperti ini, harus commitee untuk tidak mencetak laba dalam jangka pendek. Untuk merebut pangsa pasar, harus rela memberikan value lebih kepada pelanggan berupa harga yang lebih murah dari penguasa pasar. Atau dengan kata lain, diperlukan daya tahan besar, karena harus memberikan share of value dan experience yang lebih besar daripada yang diberikan oleh kompetitor. Jadi, fokuskan terlebih dahulu pada ‘memperbesar pangsa pasar’, tidak apa-apa profit tipis, yang penting pangsa pasar semakin besar dan besar. Istilah pepatah: “Berakit-rakit kehulu, berenang-renang ketepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian“.
Tetapi jika merek yang diluncurkan benar-benar termasuk katagori produk baru, butuh waktu lama supaya pasar aware. Contohnya beberapa tahun silam, katagori ini termasuk baru dan nyeleneh –pada saat itu, yaitu katagori ‘air minum dalam kemasan‘, dan Aqua, sang perintis, memerlukan waktu 10 tahun untuk menjadi merek superior di Indonesia. Karena pada waktu peluncuran produk Agua ini, pasar masih merasa “aneh” dengan ‘air minum dalam kemasan‘, apalagi pada waktu itu harga 1 liter Agua lebih mahal dari harga 1 liter minyak tanah (maklum, saat itu minyak tanah masih disubsidi-red). Pada masa itu, orang berfikir produk ini mengada-ngada. Tetapi lama-kelamaan pasar bisa menerima produk air dalam kemasan ini, karena kepraktisannya, higenitasnya dll.
Dan karena Aqua terlebih dahulu masuk sebagai pionir di katagori ‘air minum dalam kemasan’ ini, akhirnya Aqua menjadi market leader dalam waktu lama. Sampai akhirnya bermunculan pesaing yang tergiur lezatnya kue bisnis air minum dalam kemasan ini. Tidak mudah untuk menggeser Aqua, karena merek “AQUA” sudah menancap begitu kuat dibenak konsumen. Coba dengar percakapan pembeli yang hendak membeli air minum dalam kemasan, pasti kalimat yang di ucapkan si pembeli ke penjual adalah :
” Mbak …ada jual Aqua ndak? “
Padahal belum tentu pembeli tersebut mencari air minum dalam kemasan dengan merek ‘Aqua’, tetapi yang dimaksud dengan ‘Aqua’ disini adalah ‘air minum dalam kemasan’, apapun mereknya. Jadi, konsumen sudah memiliki persepsi, bahwa kata ‘Aqua’ adalah menunjukkan maksud pada ‘air minum dalam kemasan’. Dan tentu saja ini merupakan keuntungan besar untuk merek Aqua. Dan dalam kasus jual beli diatas, tentu saja si pedagang akan mengeluarkan air minum dalam kemasan dengan merek ‘Aqua’, bukan merek yang lainnya.
Untuk produk yang masuk dalam katagori baru, dimana katagori itu masih asing dibenak konsumen, kampanye promosi harus dilakukan secara perlahan-lahan. Sebab jika langsung promosi secara jor-joran, hasilnya tidak akan memuaskan, antara budget promosi dan hasil yang didapat. Strategi Unique Selling Proposition (USP) juga tidak akan terlalu berpengaruh secara signifikan untuk kasus produk baru pada katagori baru.
Bagaimana dengan produk baru yang sudah diluncurkan ke pasar dan ternyata gagal? biasanya hal ini terjadi karena produk tersebut paa saat Soft Launch belum sampai menciptakan demand pada konsumen, dan langsung di lakukan promosi secara besar-besaran, akibatnya sangat fatal, yaitu budget iklan yang besar tersebut menjadi sia-sia, karena konsumen belum aware dan pada akhirnya perusahaan akan ”kehabisan nafas” dalam kompetisi.
Produk yang sudah dilaunching kepasar dan ternyata gagal, baik menjadi produk superior maupun mendapatkan pangsa pasar, masih dapat diperbaiki dengan menyusun strategi marketing baru dan meluncurkan kembali produknya. Namun sebelum diluncurkan kembali, harus dilakukan customer insight yang mendalam terlebih dahulu. Apalagi jika produk tersebut memasuki pasar yang tingkat persaingannya sangat ketat (hypercompetition). Bila perlu, untuk pasar yang hypercompetition ini, pemasar harus berani menciptakan trend baru.
Contoh produk yang pada saat peluncuran pertamanya tidak sukses adalah Extra Joss pada tahun 1994. Padahal, produk Extra Joss pada waktu itu bisa dikatakan sangat inovatif karena belum ada merek minuman kesehatan dalam bentuk serbuk yang dikemas dalam sachet seperti Extra Joss ini. Namun kenyataanya, dari tahun 1994-1996, pertumbuhan penjualan Extra Joss sangat lambat, padahal praktis tidak ada pesaing dan harga yang disetting murah. Selama 2 tahun pasar masih tidak aware terhadap merek Extra Joss, bahkan dianggap aneh, karena pada saat itu produk dalam bentuk sachet kebanyakan berupa produk shampo, jadi Extra Joss dalam benak konsumen di anggap sejenis shampo baru.
Oleh sebab itu, pada tahun 1996, Extra Joss di re-launch kembali dan memakan bujet sekitar 15-20% dari total sales. Strategi pemasaran Extra Joss di set kembali dengan tidak hanya menonjolkan value benefit dan fungsional produk. Oleh karena itu, pemasar Extra Joss melompat dengan menciptakan emotional benefit dengan trend “Generasi Biang” atau GenBi, dan dipilihlah orang-orang terkenal sebagai endoser seperti atlet olahraga softball, public pigure seperti Dony Kusuma, pemain sepakbola dari Italia Del Piero, bahkan grup musik “Zamrud” – -walau hanya suaranya saja yang keluar.
“GenBi” alias Generasi Biang adalah persepsi yang sengaja diciptakan pemasar Extra Joss supaya konsumen tidak berfikir sempit bahwa Extra Joss hanya diperuntukkan bagi sopir truk dan sejenisnya. Persepsi “GenBi” tidak hanya dilihat dari apa pekerjaan konsumen, atau status sosial, atau sekedar minuman kesehatan, tetapi lebih jauh dari itu, yaitu “biang-nya“, biang sportivitas, biang selalu aktif kapan saja dan dimana saja dan lain sebagainya.
Intinya, agar Extra Joss tidak dipersepsikan hanya sebagai “sachet“, tetapi sebagai “biang-nya”. Jadi istilah “biang” itu sendiri digunakan untuk mewakili positioning Extra Joss sebagai minuman kesehatan, supaya sachet Extra Joss didalam benak konsumen diterjemahkan sebagai sesuatu yang positif bagi kesehatan. Joss ! …
sumber: partisimon.com
Selengkapnya...
Selasa, 21 September 2010
BERBISNIS SECARA JUJUR
Anda tidak perlu khawatir menjadi rugi dan bangkrut karena bisnis jujur, mengapa? Ada banyak alasan mengapa harus jujur, lagi pula adakah keuntungan dengan berbohong? Baiklah saya mencatat beberapa manfaat penting dari bisnis jujur.
1. pada dasarnya semua orang tidak suka dibohongi, demikian juga dengan pedagang, oleh sebab itu bohong yang terbongar menjadi bomereng dan mematikan bisnis anda. Baik juga mengingat pepatah “Serapi-rapi membungkus bangkai akan tercium juga”. Kalau anda pernah dibohongi oleh seseorang kemudian mengetahui bahwa anda adalah korban kebohongan. Bisa dipastikan anda akan marah, atau apapun namanya, dan mungkin bersumpah didalam hati tidak akan berhubungan bisnis dengan pembohong. Ini ancaman latent dengan dampak buruk luar biasa. Perlu anda waspadai dan kalau sudah demikian matilah bisnis anda.
2. berkata jujur adalah strategi bisnis. anda tidak perlu ragu menceritakan bsnis anda dengan batas-batas wajar, berilah pencerahan pada mindset pelanggan, bahwa anda memiliki kepentingan sama, yaitu manfaat semua pihak yang berhubungan bisnis dengan anda. Paradigma bisnis dewasa ini memberikan pencerahan bahwa customer memerlukan value lebih atas barang atau jasa yang mereka bayar. Setiap pengeluaran rupiah harus memberikan value yang berarti, oleh sebab itu kesungguhan melayani dengan sepenuh hati menjadi keunggulan bersaing berkelanjutan. Jargon jujur digunakan sebuah perusahaan telekomunikasi besar di Indonesia untuk promosi “jujur tarif kami paling murah, silahkan diadu”.
3. perkembangan teknologi dewasa ini tidak memungkinkan anda berbohong. sekecil apapun kebohongan yang dilakukan pasti akan terbongkar. Mungkin dahulu teknologi informasi masih banyak menghadapi kendala, tetapu saat ini, informasi berkembang sedemikian pesat, sehingga persaingan bisnispun mengikuti. Misalnya harga HP yang dijual antara lokasi satu dengan lainnya, lengkap dimiliki oleh customer karena mereka menerima informasi dari multisumber yang dapat diakses dengan mudah dan cepat. Anda yang menjual produk homogen hanya akan bisa menginformasikan apa adanya. Anda tidak bisa mengatakan harga kami lebih murah dari tempat lain, karena mereka tahu lebih banyak dari apa yang diperkirakan. Anda hanya cukup melayani dengan sepenuh hati.
4. katakan saya berterima kasih atas kunjugan tuan/nyonya, silahkan kembali dan kami dengan senang hati malayani. Inilah value yang jarang ditemui apabila anda bertransaksi bisnis. oleh karena itu Coba anda rasakan sendiri, pada saat semua serba cepat, kalau perlu tanpa tatap muka, semua dilayani mesin, tanpa tegur sapa, senyum atau isyarat-syarat wajah, kemudian anda menawarkan sesuatu yang beda dan memberikan kedamaian bak air segar menyirami tanaman layu.
5. Saya tidak bohong, tapi tidak mengatakan yang sebenarnya. Ini ungkupan primitif yang tidak fair. Customer anda adalah masa depan bisnis, artinya kelangsungan bisnis anda tergantung pada kunjungan customer. Hanya customer delight yang akan melakukan re-order.
Kebiasaan berbisnis secara jujur masih kurang disadari oleh orang Indonesia. Perilaku ini didasari oleh kurang paham dengan customer satisfaction. Bahwa customer yang puas akan melakukan re-order belum diyakini sepenuh hati.
Mari berbisnis dengan jujur, siapapun customer anda.
sumber: jaiman1.wordpress.com
Selengkapnya...
Rabu, 25 Agustus 2010
PROSES KREATIF BERWIRA USAHA
Kita berani berpikir kreatif.
Itu berarti kita sudah berani mengambil risiko
SALAH satu tugas kita sebagai pengusaha, selain memiliki ketrampilan interpersonal, leadership, dan managerial, juga harus mampu melakukan tugas kreatif. Kreativitaslah, unsur penting eksis dan berkembangnya sebuah usaha. bagi entrepreneur, seolah tiada hari tanpa kreativitas. Saatnya kita terus kreatif. Apalagi, kalau di bagian sebelumnya, kerap disebut-sebut angka luar biasa pertumbuhan kewirausahaan di Amerika Serikat, di Indonesia sendiri, keragaman usaha maupun jumlah wirausahawannya, belum sebanyak di Amerika Serikat ataupun di negara lain.
Di Amerika Serikat misalnya, ada bisnis yang masih langka dan belum memasyarakat di Indonesia, yakni bisnis menyewakan pakaian dan perlengkapan bayi. Jadi sebenarnya banyak macam usaha yang bisa kita kerjakan, asal kita mau kreatif. Dalam hal apa saja, kita harus kreatif? Kreatiflah dalam beberapa hal, antara lain, memilih jenis usaha dan memilih waktu untuk memulainya.
Maka, jangan ragu menciptakan kondisi yang memungkinkan setiap unsurnya bisa kreatif. Jadikan setiap sudut, setiap suasana dalam usaha Anda, kondusif bagi munculnya ide-ide kreatif. Kreativitas itu sendiri, memang memerlukan proses, yakni proses kreatif. Jadi pada awalnya, untuk kreatif itu perlu persiapan, meski secara tidak formal. Tinggal, bagaimana kita sendiri membuat suasana kerja itu kreatif.
Dalam prosesnya, ternyata kreatif itu juga membutuhkan konsentrasi kita. Padahal, yang kerap terjadi, saat kita melakukan konsentrasi, malah menemui jalan buntu. Akibatnya, kita tak bisa berbuat apa-apa, dan berangsur-angsur menjadi frustrasi. Dan, sebenarnya frustasi itu merupakan bagian dari proses kreatif itu sendiri.
Dalam kondisi inilah, menurut saya, sebaiknya kita tidak menyerah atau putus asa. Jangan berhenti sampai di situ. Yakinlah, pada saatnya, wawasan atau iluminasi akan muncul. Kemudian, kita melewati proses kreatif berikutnya: inkubasi atau pengendapan masuk ke dalam alam bawah sadar. Pada saatnya, yaitu pada kondisi yang tidak disengaja, bisa saja muncul iluminasi itu artinya ide kreatif telah kita temukan.
Langkah penting untuk ini, mengolah atau menjalankan ide kreatif menjadi konkret, demi kemajuan bisnis kita. Bahkan menurut kami, demi kepuasan pelanggan pun, perlu pendekatan kreatif. Kreatif, juga kata kunci dalam urusan mencari modal atau dana pengembangan usaha, peningkatan kegiatan produksi, perbaikan desain, pemasaran, dan lain sebagainya.
Orang kreatif, adalah orang yang berani mengambil risiko. Hanya tinggal seberapa besar sebenarnya kualitas kreativitas itu akan mempengaruhi risiko usaha yang dijalankan. Bahkan, seseorang yang berani berpikir kreatif, berarti dia sudah berani mengambil risiko. Kami pun yakin, hanya pengusaha yang berani mengambil risiko itulah yang usahanya dapat berkembang maju, baik untuk saat ini ataupun untuk masa depan.
sumber: bangzabar.com
Selengkapnya...
ENTREPRENEUR: KREATIFITAS YANG TIADA HENTI
Kalau Anda berani tanpil beda,
itu berarti Anda memiliki jiwa entrepreneur
KUTIPAN di atas, sangat mungkin, mengundang senyum meremehkan. Masa, berbeda saja, sampai menjadi ciri jiwa enterpreneur. Kalimat itu terasa berlebihan. Pembaca, entrepreneur sendiri adalah dunia yang unik. Itu sebabnya, mengapa entrepreneur atau wirausahawan dituntut untuk selalu kreatif setiap saat. Dengan kreativitasnya, tak mustahil akan terbukti bahwa ía betul-betul memiliki citra kemandirian yang memukau banyak orang. Karenanya, ia pantas dikagumi, dan selanjutnya diikuti.
Menjadi entrepreneur kreatif di saat krisis ekonomi, tentu saja tantangan yang sangat berat. Siapa saja yang mencoba terjun menjadi entrepreneur kreatif, ia harus bekerja 24 jam sehari, 7 hari dalam seminggu. Ini masih harus dijalankan sedikitnya untuk kurun waktu sekitar dua tahun pertama. Sebuah babak baru yang berat, berjuang tanpa henti dengan berbagai tekanan fisik maupun psikis.
Bisnis modern? Apalagi! Ia boleh dikatakan, mustahil bisa eksis dan berkembang tanpa kemampuan menciptakan sesuatu yang baru pada setiap harinya. Berpikirlah kreatif setiap hari. Dari mana ia datang? Dari mana saja, dari siapa saja. Interaksi sosial Anda, menjadi stimulan munculnya ide inovatif. Memang, tak mudah melahirkan sesuatu yang orisinal atau sama sekali baru. Bisa saja, ia adalah kombinasi “sentuhan baru” pada karya-karya yang sudah ada. Kesan, aksentuasi disain, modifikasi, adalah bagian dari proses kreatif.
Milik siapakah kemampuan ini? Apakah ini hanya dimiliki pribadi tertentu? Tegas, kami nyatakan: tidak. Pada dasarnya, kita semua kreatif. Tentu saja, dengan kualitas dan kuantitas yang berbeda-beda.
Kemampuan kreatif itu terdistribusi hampir secara universal kepada seluruh umat di muka bumi ini. Kreativitas, bak sebuah mata air, jangan biarkan sumbernya mengering. Agar tetap berair, gali terus, agar “mata air kreativitas” kita tetap berair.
Raudsepp, peneliti dari Princeton Research Inc.
Kreativitas: Keharusan dalam Kewirausahaan
Jangan terpaku saja melihat gemerlap perubahan! Anda, satu di antara sekian orang yang sanggup menghadirkan hal baru! Pikirkanlah hal ini sebagai kebiasaan. Karena Anda hidup dalam abad kreativitas. Kreatif adalah, kunci memenangkan kompetisi. Ada banyak konsep kreativitas. Salah satunya, mengambil inspirasi dari dunia musik, tepatnya, musik jazz. Dalam musik jazz, ada istilah jam session, saat pemusik tidak memainkan lagu tertentu, tapi alat musiknya mengalunkan paduan nada tanpa terikat lagu, bebas-mengalir saja. Jamming, menjadi inspirasi John Kao menuangkan teorinya dalam buku yang sudah beredar dalam bahasa Indonesia, “Jamming: Seni dan Disiplin Kreativitas Bisnis”.
Kalau jamming bisa menggelitik telinga dengan alunan musik indah, bisnis pun, amat mungkin mengambil langkah alternatif di luar yang biasa berlaku. Hasilnya, seperti jamming dalam jazz, tetap “berirama dan enak didengar”. Begitulah analogi teori Kao dalam dunia bisnis.
Jamming dalam bisnis, adalah ikhtiar kreatif. Ada imajinasi, totalitas berkreativitas, menyerap pendar-pendar inspirasi dari mana-mana. Dari sana tercipta ide-ide kreatif dalam pengembangan bisnis. Siapa “sparing partner” seorang wirausahawan dalam mengeksplotasi gagasan kreatifnya? Ia bisa sesama wirausahawan, meskipun tak ada salahnya dengan orang lain yang sangat berbeda dunia kerja (bukan wirausahawan).
Bekerja “serba rutin”, “manut pakem”, di level pengambilan keputusan tertinggi, terutama sebagai pusat penyikapan terhadap realitas bisnis, diyakini merupakan sebuah sikap berbahaya bagi keberlangsungan usaha. Rutinitas, pakem-pakem itu, menjadi belenggu bagi kemajuan. Namun begitu, jangan salah memaknainya. Manajemen kreativitas, bukan “anti aturan”. Aturan tertentu, harus tetap ada, tetapi keberadaannya tidak memasung kreativitas. Ada yang “ekstrim” dalam kasus pembaharuan ini. Misalnya, produsen piranti keras komputer yang mendunia, Intell. Intell, secara berkala selalu menghancurkan produk lama mereka setelah memproduksi produk baru hasil kreativitas timnya. Langkah yang serupa, meskipun “tak sengaja” dialami perusahaan Unilever. Begitu produk barunya muncul, produk lama Unilever “otomatis” dikalahkan produk barunya sendiri.
Kalau ada contoh Intell dan Unilever di bagian ini, dua dari sekian big corporate dunia, sejatinya kreativitas tidak menjadi monopoli korporat besar. Dalam sektor usaha kecil pun, ide kreatif muncul dari perenungan dan perbincangan akan hal-hal yang tak pernah terpikirkan. Justru dalam usaha kecillah, kreativitas seharusnya lebih berkembang, karena biasanya usaha kecil, punya sumber daya insani tak banyak. Ini poin lebih sehingga usaha kecil relatif lebih kompak orang-orangnya, sehingga transfer kreativitas baru bisa lekas merata. Dalam usaha berskala kecil transfer kreativitas lebih pendek jalurnya. Seorang inovator dalam tempo pendek ia bisa langsung mentransfer temuan barunya kepada semua orang yang bekerja bersamanya. Bukan mustahil, proses mentransfer temuan baru itu, sekaligus bisa memicu tumbuhnya kreativitas.
Luwes Menyikapi Peluang
Jika Anda termasuk dalam golongan orang yang selalu ingin tahu, kemudian dapat melihat suatu peristiwa dan pengalaman untuk dijadikan sebuah peluang, di mana orang lain tidak melihatnya, kemudian memiliki keberanian berpikir kreatif dan inovatif, bersiaplah Anda untuk menjadi entrepreneur.
Banyak contoh yang dapat memberikan gambaran kepada kita, bahwa tidak ada sesuatu yang tidak mungkin dilakukan wirausahawan. Keluarkan semua ide atau gagasan Anda, jangan takut diremehkan atau dihina orang. ‘Ide gila” yang Anda sampaikan, boleh jadi suatu waktu akan mengundang kekaguman banyak orang. Begitu Anda mulai menuai sukses, barulah orang akan berguman, “Mengapa itu tak terpikirkan oleh saya sejak dulu, ya?”
Kalau Anda berani tampil beda, itu berarti Anda berjiwa entrepreneur. Saya setuju pendapat yang mengatakan, keberhasilan entrepreneur ibarat kesabaran dan ketenangan seorang aktor akrobatik meniti tambang tipis hingga sampai ke tujuan. Ia tidak menghabiskan waktunya dengan perasaan khawatir, tapi konsentrasinya tertuju pada tujuannya. Tak kalah pentingnya, jangan malu akan kesalahan yang kita buat. Seorang entrepreneur memang tidak menyukai kesalahan, tapi ia tetap akan menerimanya sepanjang hal itu dapat memberikan pelajaran berharga. Ia harus mampu meloloskan diri dari situasi-situasi yang hampir mustahil bisa diatasi. Dalam era global sekarang ini, kegiatan usaha yang kita jalankan hampir 90% justru tidak sesuai rencana.
Karena itu, kita harus luwes dengan rencana yang telah kita buat. Bersiaplah berpindah dari satu rencana ke rencana lainnya. Seorang entrepreneur juga tidak boleh mudah berputus asa. Ia harus yakin dengan kreativitasnya. Selalu ada jalan yang tidak pernah terbayang sebelumnya.
sumber: bangzabar.com
Selengkapnya...
Selasa, 24 Agustus 2010
WIRAUSAHA vs ENTREPRENEUR
Kewirausahaan pertama kali muncul pada abad 18 diawali dengan penemuan-penemuan
baru seperti mesin uap, mesin pemintal, dll. Tujuan utama mereka adalah pertumbuhan
dan perluasan organisasi melalui inovasi dan kreativitas. Keuntungan dan kekayaan
bukan tujuan utama.
Secara sederhana arti wirausahawan (entrepreneur) adalah orang yang berjiwa berani
mengambil resiko untuk membuka usaha dalam berbagai kesempatan Berjiwa berani
mengambil resiko artinya bermental mandiri dan berani memulai usaha, tanpa diliputi
rasa takut atau cemas sekalipun dalam kondisi tidak pasti. (Kasmir, 2007 : 18).
kewirausahaan dipandang sebagai fungsi yang mencakup eksploitasi peluang-
peluang yang muncul di pasar. Eksploitasi tersebut sebagian besar berhubungan dengan
pengarahan dan atau kombinasi input yang produktif. Seorang wirausahawan selalu
diharuskan menghadapi resiko atau peluang yang muncul, serta sering dikaitkan dengan
tindakan yang kreatif dan innovatif. Wirausahawan adalah orang yang merubah nilai
sumber daya, tenaga kerja, bahan dan faktor produksi lainnya menjadi lebih besar
daripada sebelumnya dan juga orang yang melakukan perubahan, inovasi dan cara-cara
baru.
Selain itu, seorang wirausahawan menjalankan peranan manajerial dalam
kegiatannya, tetapi manajemen rutin pada operasi yang sedang berjalan tidak
digolongkan sebagai kewirausahaan. Seorang individu mungkin menunjukkan fungsi
kewirausahaan ketika membentuk sebuah organisasi, tetapi selanjutnya menjalankan
fungsi manajerial tanpa menjalankan fungsi kewirausahaannya. Jadi kewirausahaan bisa
bersifat sementara atau kondisional.
Kesimpulan lain dari kewirausahaan adalah proses penciptaan sesuatu yang
berbeda nilainya dengan menggunakan usaha dan waktu yang diperlukan, memikul
resiko finansial, psikologi dan sosial yang menyertainya, serta menerima balas jasa
moneter dan kepuasan pribadi. Istilah wirausaha muncul kemudian setelah dan sebagai padanan wiraswasta yang sejak awal sebagian orang masih kurang sreg dengan kata swasta.
Persepsi tentang wirausaha sama dengan wiraswasta sebagai padanan entrepreneur. Perbedaannya adalah pada penekanan pada kemandirian (swasta) pada wiraswasta dan pada usaha (bisnis) pada wirausaha. Istilah wirausaha kini makin banyak digunakan orang terutama karena memang penekanan pada segi bisnisnya. Walaupun demikian mengingat tantangan yang dihadapi oleh generasi muda pada saat ini banyak pada bidang lapangan kerja, maka pendidikan wiraswasta mengarah untuk survival dan kemandirian seharusnya lebih ditonjolkan.
Sedikit perbedaan persepsi wirausaha dan wiraswasta harus dipahami, terutama
oleh para pengajar agar arah dan tujuan pendidikan yang diberikan tidak salah. Jika yang diharapkan dari pendidikan yang diberikan adalah sosok atau individu yang lebih
bermental baja atau dengan kata lain lebih memiliki kecerdasan emosional (EQ) dan
kecerdasarn advirsity (AQ) yang berperan untuk hidup (menghadapi tantangan hidup dan
kehidupan) maka pendidikan wiraswasta yang lebih tepat.
Sebaliknya jika arah dan tujuan pendidikan adalah untuk menghasilkan sosok individu yang lebih lihai dalam bisnis atau uang, atau agar lebih memiliki kecerdasan finansial (FQ) maka yang lebih tepat adalah pendidikan wirausaha. Karena kedua aspek itu sama pentingnya, maka pendidikan yang diberikan sekarang lebih cenderung kedua aspek itu dengan menggunakan kata wirausaha. Persepsi wirausaha kini mencakup baik aspek finansial maupun personal, sosial, dan profesional (Soesarsono, 2002 : 48)
Karakteristik tipikal entrepreneur (Schermerhorn Jr, 1999) :
1. Lokus pengendalian internal 2. Tingkat energi tinggi
3. Kebutuhan tinggi akan prestasi
4. Toleransi terhadap ambiguitas
5. Kepercayaan diri
6. Berorientasi pada action
Karakteristik Wirausahawan (Masykur W)
1. Keinginan untuk berprestasi
2. Keinginan untuk bertanggung jawab
3. Preferensi kepada resiko menengah
4. Persepsi kepada kemungkian berhasil
5. Rangsangan untuk umpan balik
6. Aktivitas Energik
7. Orientasi ke masa depan
8. Ketrampilan dalam pengorganisasian
9. Sikap terhadap uang
sumber: id.answers.yahoo.com
Selengkapnya...