Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Desember 2010

MENGAPA BARU SEKARANG

Oleh buya Hamka

Upik ketek
Mengapa baru sekarang
setelah berkerut jidatku
setelah ubanku mulai tumbuh
engkau beri aku harapan
dengan satu senyuman
dimana senyuman itu akan ku letakkan, sayang

Apakah ini suatu nikmat
apakah ini suatu hukuman
jika ini nikmat ? dengan apa akan ku sambut
jika ini hukuman
apakah salahku gerangan

dalam perjalananku yang mulai menurun
engkau mendaki dalam hatiku
hentikanlah senyuman itu, sayang

dan aku akan engkau tinggalkan sendirian
dalam kesepian

engkau akan lari dari sisiku
engkau akan lepas
dengan kakimu yang ringan
laksana anak kijang yang pulang ke rimba
meniti akar

memanjat tubir-tubir batu
ke tempat yang aku
tak dapat mengejarnya lagi

aku kan tinggal seorang diri
dalam kenang-kenangan
atas harapan yang pernah kau berikan
- bagiku hal ini berat
tiada terpikul tertanggungkan
sedangkan bagikau, hanya satu senyuman
yang menggelikan

upik ketek
mengapa baru sekarang
setelah berkerut jidatku
setelah ubanku mulai tumbuh

dari buku kenang-kenangan hidup
Selengkapnya...

BERJUMPA PULA

Oleh: Buya Hamka

Oh kau kiranya ; bertemu pula
Setelah 15 tahun kita berpisah
Janganlah gugup
sudahkah sembuh luka hatimu ?
di aku sudah !
Tapi payah aku melipur jejaknya
Parutnya masih terkesan di dadaku

15 tahun, bertemu pula
Setelah kita lalui jalan hidup masing-masing
maafkan daku, bersiapakah aku mestinya ?
adinda, kekasih, juwita ?
yang pernah kuucapkan di mukamu dulu
atau dalam surat-surat yang pernah ku ucapkan di mukamu dulu
tidak akan kuucapkan lagi
aku takut
ubat lekat pantang terlampau
kembali penyakit lama
-Ah, tidak ; aku mulai tua

15 tahun
sudah berapakah anakmu
adakah suamimu sehat saja
beruntung dalam rumah tangga
- tak usah gugup !

15 tahun
melihat kau yang sekarang, kuteringat kau yang dulu
kau yang ada dalam kenanganku
kau yang tergambar dalam hatiku
aku teringat
mudaku dan mudamu
semasa kita masih menyangka, alam boleh sekehendak kita

padahal : takdir tak mengizinkan kita bertemu
hidup kita tak dapat di padu menjadi satu
kau mengambil jalanmu sendiri - terpaksa atau tidak
dan akupun mengambil jalanku pula

15 tahun
aku telah berjalan, dan berjalan jua
tapi dalam sudut hatiku, kau telah menjadi pelita yang hidup
kaulah pelitaku
tanglongku
dalam kegelapan malam yang senyap sunyi
sehingga aku menjadi aku
walaupun kau tak merasa, barangkali

15 tahun
tertawa aku, tertangis aku
tersenyum tersedu
mendaki ku menurun
melereng ku mendatar
pernah ku naik, pernah ku jatuh
jatuh dan bangkit lagi
lalu berjalan jua
sahaja mati yang belum kurasai
sehingga aku menjadi aku
dan perjumpaan kita, 15 tahun yang lalu
adalah pendorong perjuangan hidupku, hari ini

setelah 15 tahun
kitapun berjumpa pula
aku dengan engkau
kau yang sekarang
maka teringatlah aku. kau yang dulu
kalau bukan lantaran kau yang dulu
tentulah air mataku tidakkan titik ke bumi
garam hidupku yang ku lalui
air mata itulah yang ku susun kembali
sesudah ia jatuh berderai bagai manik putus pengarang
kujadikan gubahan buat kau. kau yang dulu
sehingga aku menjadi aku

15 tahun......
alangkah cepatnya putaran jaman
wahai orang yang sekian lama terlukis di sudut hatiku
jangan engkau salah terima, wahai kau yang sekarang

sekiranya aku melihat tenang
merenung wajahmu
izinkanlah sejenak, aku mencari, mencari
aku ini kehilangan
dia. dia akan ku cari dalam ruang matamu
kau yang dulu

berjalan terus, dan teruslah
pikullah kewajiban yang telah di tentukan Tuhan
buat kau, dan akupun
meneruskan jalanku pula
berjalan dan berjalan jua
mendatar, melereng, mendaki dan menurun
kau lihat. rambut putih telah mulai ada di keningku
alamat sengitnya perjuangan yang telah kutempuh
dulu dan kuhadapi lagi
marilah bersama-sama, meneruskan perjalanan
melaksanakan hayat
jauh,........ dan jauh lagi
hanya sebuah harapanku tinggal

semoga usia sama panjang
dapat berjumpa pula 15 tahun yang akan datang
mau atau tidak mau
kau.........dan aku.......

dari buku kenang-kenangan hidup
Selengkapnya...

Sabtu, 25 September 2010

PUISI BJ HABIBIE UNTUK ISTRINYA

Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu.

Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya,

dan kematian adalah sesuatu yang pasti,

dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu.

Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat,

adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.

Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.

Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang,

pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada,

aku bukan hendak megeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.
Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang,

tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik.

mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.

Selamat jalan,

Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya,
kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada.

selamat jalan sayang,
cahaya mataku, penyejuk jiwaku,
selamat jalan,
calon bidadari surgaku ....

BJ.HABIBIE
Selengkapnya...

Minggu, 25 Juli 2010

ANTARA AKU DAN KAMU

aku mencintaimu
setara dengan
kebencianmu padaku
antara cinta dan benci
ada dendam yang membara

aku memujimu
setara dengan
hinaanmu padaku
antara pujian dan hina
ada angkara murka yang menerpa

aku mengagumimu
setara dengan
muakmu padaku
antara kagum dan muak
ada kesedihan yang mendalam

aku mengejarmu
setara dengan larimu menghindariku
antara kejar dan hindar
ada lelah yang mendera.

Aku berharap padamu
Pada setiap mimpi yang ku punya
Pada setiap kaki yang ku langkah
Pada setiap tangan yang ku ulur
Pada setiap hening yang mencekam
Pada setiap badai yang menghantam
Pada setiap hari berlalu
dan
Pada setiap mimpi yang tak pernah menjadi kenyataan.

Aku berdoa untuk mu
Pada setiap malam yang tiba
Pada setiap pagi yang menghampiri.
Pada setiap siang yang benderang.
Pada setiap petang yang datang

Tapi…..
selalu saja….
Hanya
kekosongan
Yang tiada pernah
berbuah kenyataan.
Selengkapnya...

KEKASIHKU

Kekasihku
telah belajar menangis dan kelaparan
dari musuhku
yaitu penderitaan

Tapi…
aku akan mengajarinya
untuk meneteskan air mata permohonan
dari mata jiwanya
dan berharap kepada yang Maha Kuasa
agar ia bahagia

Aku mencari kekasihku
diantara kesombongan dan ketamakan manusia
Tapi aku menemukannya
dengan segala kelembutannya
tak berdaya…
terhimpit oleh tipu daya dunia

Aku kejar kekasihku
di ladang-ladang kesenangan
dan taman-taman kebodohan
Tapi aku menemukannya
Terbelenggu
di lorong-lorong pengetahuan
dan mesjid-mesjid Allah.

Aku mencarinya
diantara para tiran dan para penipu
Tapi aku menemukannya khusuk berdoa dan menangis dihadapan Rabbnya

Kekasihku…
Aku adalah miliknya dan ia adalah sesuatu yang pernah tersia.
Selengkapnya...

PUISI TENTANG CINTA

Kekasihku bertanya
Cintakah kau padaku
Entahlah jawabku

Kekasih
Cinta lebih indah dari sekedar puisi
Cinta lebih berharga dari semua emas permata
Cinta tak membutuhkan kata-kata
Karena cinta adalah pengabdian dalam kesunyian
Cinta adalah pemberian tanpa balas jasa

Cinta menangisi kesedihanmu
Tanpa mengerti penderitaannya

Cinta mengangkatmu ketempat yang tinggi
Sementara ia terhempas ke tempat yang rendah

Kekasih
Tak juakah kau mengerti
Bahwa kata-kata takkan bisa mewakili
Apa yang kurasakan padamu
Karena ia berada disudut hati tersuci

Kekasih
Cinta sejati bukanlah pendendam
Yang akan memporandakan orang yang dicintai

Walaupun begitu kekasih
Bahwa cinta itu tumbuh
Ia harus kau pupuk dengan kasih sayang
Kau sirami dengan senyuman
Dan kau belai dengan kelembutan

Cinta akan layu dengan kebohongan
Dan ia akan mati dengan pengkhianatan

Maka kekasih
Ketika cinta datang padamu
Maka katakanlah
“SELAMAT DATANG CINTA”
Selengkapnya...

Rabu, 07 Juli 2010

PUISI TERPENDEK DI DUNIA

Aku

Karya:
Ayah dan ibuku Selengkapnya...

Kamis, 24 Juni 2010

ADINDAKU

Adindaku
Sekarang tidurlah kau dalam pelukan malam
Biar kuselimuti dengan doa yang kukirim entah dari mana
Bermimpilah tentang esok pagi yang penuh bahagia
Biarlah duka mengalir dari tetes air matamu
Untuk kemudian lenyap bersama angin yang berhembus

Adindaku
Kesedihanmu telah membuat malam ini terasa panjang
Air matamu tlah membuat kegelapan tak lagi menemukan cahaya

Adindaku
Dengarlah rintihan hujan malam ini
Seakan membawa berita tentang dukamu
Yang tak sembuh jua

Adindaku
Kau dengarlah desiran lembut angin di telingamu
Tlah ku bisikkan agar dia mengantarmu ke peraduan Selengkapnya...

Senin, 21 Juni 2010

CINTA SEJATI

Sejatinya
atas nama semua cinta
padanya dituntut pengorbanan

Adakah cinta yang lebih sempurna
seperti cinta keluarga nabi Ibrahim
kepada rabbnya

Ya Allah
anugerahkanlah keselamatan dan kemuliaan
kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya

Ajarkanlah kepada kami kesempurnaan cinta
pahamkan kepada kami
arti sebuah pengorbanan

Sebab tanpa cinta
tidaklah kami merasakan nikmatnya ibadah
tanpa pengorbanan
apalah arti cinta yang selalu kami ucapkan. Selengkapnya...

SERING

Sering…
aku mencintai manusia
tapi…
sering pula aku merasa kecewa
Karena….
tak kutemui pada diri menusia
suatu yang sempurna.
Tapi…
ketika aku mencintai yang MAHA SEMPURNA
akupun kecewa
karena
cintaku yang tak sempurna. Selengkapnya...

PERNAH

Pernah…
aku mencintaimu
seperti ombak mencintai pantainya
Tapi…
perlahan cinta itu musnah
seperti bunga jatuh dari tangkainya
Musnah… hilang… lenyap…senyap… gelap…

Pernah…..
Aku menyayangimu
Seperti seorang ibu menyayangi anaknya.
Tapi sayang itu lenyap
Seperti panah yang lepas dari busurnya

Pernah……
Aku merindukanmu
Seperti kekasih yang terpisah entah berapa lama
Tapi kerinduan itu sirna
Seperti asap yang membumbung ke awan gelap Selengkapnya...

BIARKAN AKU MENCINTAIMU

Biarkan aku mencintaimu
seperti kumbang mencintai setangkai kembang
Tapi…
kau selalu mencurigaiku
seperti seorang jaksa menuntut seorang terdakwa.

Biarkan aku menyayagimu
tak seperti kumbang menyayangi sang kembang
Karena aku mempunyai bahasa cinta
yang tak dimengerti oleh para penguasa.
Tapi…
kau selalu menuduhku menduakan cinta

Maka…
biarkanlah aku mencintaimu
seperti apa adanya cintaku.
Jangan kau paksakan cintamu
pada singa yang sedang terluka.
Selengkapnya...

SURAT SEORANG ISTRI

Suamiku
Kebahagiaan bukan sekedar kau telah memenuhi nafkah lahir ku
Tapi batinkupun menuntut untuk kau cintai
Tapi tahukah kau
Kalau kebahagiaanku ada bersamamu.


Aku mengerti kalau kebahagiaanmu
Adalah bersama alam bebas dan rimba belantara
Tapi jiwaku selalu merintih
Ketika kau nyenyak dalam hening
Saat dipeluk oleh dinginnya malam.

Suamiku,
Dalam heningnya malam
Ketika anak-anak kita telah memejamkan mata
Sering aku bertanya-tanya tentang kau yang di sana
Sampai kapan hidup seperti ini akan kita jalani

Suamiku
Betapa aku selalu iri pada teman-temanmu
Ketika ku dengar kau bercanda dengan mereka
Sementara…
Malam demi malam adalah sebenarnya adalah milikku
Untuk bisa tertawa bersamamu

Suamiku
Sering aku dibayangi oleh perasaan ngeri
Kalau sekarang ada wanita lain disisimu
Tapi aku percaya padamu
Bahwa tak mungkin kau menghianatiku.

Suamiku
Susah dan senang telah kita lalui bersama.
Betapa hidup terasa mudah saat kesulitan
Mesti datang menerpa

Tapi ….
Kita terpaksa dipisahkan oleh kewajiban
Kau yang berkewajiban mencari nafkah
Untuk kita dan anak-anak kita.
Sementara aku wajib menjaga rumahmu
Dan membesarkan anak-anak kita
Untuk menjadi manusia yang berguna.

Sementara hak kita
Untuk bisa menikmati hidup bersama
Untuk bisa selalu bersama
Untuk bisa menangis bersama
Untuk bisa tertawa bersama
Untuk bisa membesarkan anak-anak bersama
Terpaksa harus kita pendam
Sampai semua kewajiban
Mungkin mesti kita tuntaskan.

Suamiku
Mesti Jauh
Tiap malam aku selalu berdoa untukmu
Agar Rabb Pemilik hati selalu memberikan hidayah padamu
Agar Rabb Pemilik gunung, rimba, belantara, laut dan pemilik angkasa
Menjagamu dan Menghindarkanmu dari segala marabahaya.

Selesai ditulis di Padang
Tanggal 12 mei 2010
Oleh Abu Umar Abdul Aziz
Selengkapnya...