Tampilkan postingan dengan label ayah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ayah. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Juli 2010

KISAH SEORANG AYAH BERNAMA DICK HOYT

Dick Hoyt seorang pensiunan Letnan Kolonel Air National Guard yang bekerja di Boston College. Ia mempunyai harapan besar ketika istrinya mengandung seraya membayangkan anak pertamanya adalah seorang yang kuat dan tampan.
Hasil pemeriksaan dokter pun mendukung sehingga Dick pun mempersiapkan nama yang cukup keren: Rick Hoyt. Namun, Tuhan berkehendak lain. Tali pusat melilit leher Rick menyumbat aliran oksigen ke otaknya sehingga menyebabkan Rick menderita kelumpuhan otak (cerebral palsy).

Pada usia delapan bulan, kondisi Rick memburuk dan dokter menyarankan Dick untuk membuang Rick karena dikhawatirkan akan menjadi beban keluarga seumur hidupnya. Namun Dick dan istrinya berkomitmen untuk tetap merawatnya sampai besar.

Rick pun tumbuh menjadi remaja dengan keempat anggota tubuhnya lumpuh dan tidak dapat berbicara. Kedua orangtuanya tak putus asa meski Rick nyaris tak pernah turun dari kursi rodanya. Suatu hari, Rick melontarkan keinginan untuk ikut lomba lari. Dick sangat terkejut dan berulang kali menanyakan keinginan putranya, tapi berulang kali pula Rick menegaskan keinginannya. Akhirnya Dick memesan kursi roda khusus yang bisa dipakai untuk berlari jauh. Ia pun berjanji untuk menjadi tangan dan kaki putranya.

Pada 1981, masyarakat Boston pun dibuat terbelalak, sebab di antara peserta marathon yang akan berlomba di Marathon Boston ada seorang ayah dan putra yang lumpuh di kursi roda. Meski dalam perlombaan itu Dick dan Rick tidak menjadi juara, tapi mereka menjadi inspirasi bagi banyak orang. Sejak itu mereka mengikuti lomba marathon selama 20 tahun di kota tersebut dan menamakan diri Team Hoyt

Setelah pengalaman di Boston, mereka juga mengikuti triathlon (perlombaan yang menggabungkan lari, renang, dan balap sepeda). Bila berlari Rick didorong di kursi roda; bila berenang Rick ditempatkan di perahu karet dengan talinya diikat di pinggang sang ayah yang berenang di depannya; dan bila bersepeda Rick ditempatkan di depan. Mereka bahkan menjajal lomba Ironman Triathlon di Hawaii yang jarak tempuhnya lebih berat dan panjang. Pada Maret 2001, mereka telah mengikuti 731 lomba! “Bila menyatukan keterbatasan kami berdua, tak satu pun di dunia ini yang tidak dapat kami taklukkan!” ujar Dick.

sumber: kaskus.us
Selengkapnya...

MAMPUKAH KITA MENCINTAI ISTRI KITA TANPA SYARAT

Ini cerita nyata, beliau adalah Bp. Eko Pratomo, Direktur Fortis Asset Management yg sangat terkenal di kalangan Pasar Modal dan Investment, beliau juga sangat sukses dlm memajukan industri Reksadana di Indonesia.

Apa yg diutarakan beliau adalah Sangat Benar sekali. Silahkan baca dan dihayati.

*MAMPUKAH KITA MENCINTAI ISTRI KITA TANPA SYARAT

Buat para suami baca ya … istri & calon istri juga boleh..

Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yg sudah senja bahkan sudah mendekati malam, Pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua.. mereka menikah sudah lebih 32 tahun.

Mereka dikarunia 4 orang anak disinilah awal cobaan menerpa, setelah istrinya melahirkan anak ke empat tiba2 kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi.

Setiap hari Pak Suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja dia letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian. Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat.

istrinya tersenyum, untunglah tempat usaha Pak Suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa2 saja yg dia alami seharian.

Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, Pak Suyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur. Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke empat buah hati mereka, sekarang anak2 mereka sudah dewasa tinggal si bungsu yg masih kuliah.

Pada suatu hari ke empat anak Suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka sambil menjenguk Ibunya. Karena setelah anak mereka menikah sudah tinggal dengan keluarga masing2 dan Pak Suyatno memutuskan Ibu mereka dia yg merawat, yang dia inginkan hanya satu … semua anaknya berhasil.

Dengan kalimat yg cukup hati2 anak yg sulung berkata "Pak kami ingin sekali merawat Ibu semenjak kami kecil melihat Bapak merawat Ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir Bapak. … bahkan Bapak tidak ijinkan kami menjaga Ibu". dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata2nya "sudah yg keempat kalinya kami mengijinkan Bapak menikah lagi, kami rasa Ibupun akan mengijinkannya, kapan Bapak menikmati masa tua Bapak dengan berkorban seperti ini kami sudah tidak tega melihat Bapak, kami janji kami akan merawat Ibu sebaik-baik secara bergantian ..."

Pak Suyatno menjawab hal yg sama sekali tidak diduga anak2 mereka."Anak2ku … Jikalau perkawinan & hidup didunia ini hanya untuk nafsu, mungkin Bapak akan menikah… tapi ketahuilah dengan adanya Ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian ... sejenak kerongkongannya tersekat … kalian yg selalu kurindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta yg tidak satupun dapat menghargai dengan apapun.

Coba kalian tanya Ibumu apakah dia menginginkan keadaannya seperti ini? Kalian menginginkan Bapak bahagia, apakah batin Bapak bisa bahagia meninggalkan Ibumu dengan keadaanya sekarang, kalian menginginkan Bapak yg masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan Ibumu yg masih sakit."

Sejenak meledaklah tangis anak2 Pak Suyatno merekapun melihat butiran2 kecil jatuh dipelupuk mata Ibu Suyatno … dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu.. Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat sendiri Istrinya yg sudah tidak bisa apa2..

disaat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yg hadir di studio kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru disitulah Pak Suyatno bercerita. "Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi (memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian) adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya mencintai saya dengan hati dan batinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 orang anak yg lucu2 ...

Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kita bersama … dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit,,,"

sumber: kaskus.us
Selengkapnya...

ITU BURUNG APA NAK ?

suatu hari seorang ayah yg sudah tua sedang duduk bersebelahan dengan anak nya yg sudah dewasa di halaman rumah nya. anak nya sedang membaca sebuah koran sedangkan ayah tsb sedang diam termenung melihat pemandangan sekitar.

tiba2x ada seekor burung gereja (maaf kalo salah, lupa2x inget soalnya ) hinggap di sebuah pohon. lalu sang ayah bertanya kepada anak nya,"hey nak burung apakah itu?" suasana diam sejenak. setelah itu sang anak menjawab "itu burung gereja ayah". anak nya pun kembali membaca korannya.

seekor burung gereja hinggap (lagi) di atas pancuran air. ayah nya pun kembali bertanya "burung apa itu nak?". sang anak dengan sabar menjawab nya "hmm itu burung gereja ayah" dan dia pun kembali membaca korannya.

dan untuk ketiga kali nya sang ayah bertanya "apa itu nak?" dengan hati mulai memanas sang anak menjawab "itu burung ayah!"

setelah itu sang ayah pun bertanya utk ke 4 kali nya (gw kalo jd anak nya sih jg BT pastinya) "burung apa itu nak?". dan pada akhir nya hati anak nya pun sudah memanas hingga membentak dengan nada yg keras "ITU BURUNG AYAH! SEKALI LAGI ITU BURUNG. APA AYAH TIDAK INGAT SAMA SEKALI?! PERTANYAAN ITU MEMBUATKU GERAM. APAKAH AYAH TIDAK LIHAT KALAU AKU SEDANG SIBUK?! LIHAT SAJA LAH PEMANDANGAN YG ADA!"

sang ayah pun mulai kesal dengan perbuatannya. dia pun masuk ke dalam rumah dan sang anak mulai ada penyesalan. secara tiba2x ayah nya keluar dengan membawa sebuah buku yg berisi diary nya sendiri.

ayah nya berkata "bukalah halaman 405 dan baca dengan jelas". anak nya menuruti nya. "yang keras" kata sang ayah. sang anak pun menuruti nya "suatu hari aku membawa anakku ke sebuah taman utk pertama kali nya. di sana kami melihat banyak sekali burung gereja. dan suatu saat anakku pun bertanya "burung apakah itu ayah?". aku menjawab "itu burung gereja". anaknya mengangguk tanda mengerti. tak lama kemudian anakku bertanya kembali "burung apa itu ayah?". aku kembali menjawab "itu burung gereja nak". dan setelah itu anakku bertanya kembali dengan pertanyaan yg sama sampai 22 kali. tetapi aku tetap sabar menghadapi nya karena aku tahu aku akan seperti itu di hari tua ku nanti". sang ayah dan sang anak pun berlinangan air mata.

akhirnya sang anak sadar dan menangis tersedu di samping ayah nya. tiba2x dia memeluk ayah nya kuat2x dan mencium nya. anak nya berkata "maafkan aku ayah, aku memang salah. aku mencintai mu"

sumber: kaskus.us
Selengkapnya...

AYAH, AJAK ANAKMU BICARA

SEBUAH penelitian mengatakan, jika ayah menghabiskan waktu bersama anak secara rutin, maka inilah kunci kebahagiaan anak. Selain kedekatan dengan ibu, anak pun ingin merasakan kedekatan dengan ayah.

Anak-anak yang ngobrol secara teratur dengan ayah mereka lebih bahagia daripada anak-anak yang jarang melakukannya. Mereka memiliki nilai 87 dalam nilai 100 skala pengukur kebahagiaan, sedangkan anak-anak yang jarang ngobrol dengan ayahnya hanya punya nilai 79. Demikian menurut penelitian baru yang dihelat NY Daily News, Sabtu (3/7/2010).

Hasil studi—dirilis oleh Children’s Society di Britania Raya tepat pada Hari Ayah—menyebut temuan ini "sangat signifikan" karena telah menunjukkan bahwa kesejahteraan seseorang di kemudian hari memiliki kaitan besar dengan kedekatannya bersama orangtua selama masa-masa remaja.

Dari 1.200 partisipan penelitian berusia 11-15 tahun, sekira 50 persen mengatakan mereka "hampir tidak pernah" ngobrol dengan ayah mereka tentang subyek penting. Sementara 72 persen partisipan mengatakan lebih sering mendiskusikan hal penting dengan ibu mereka.

Ayah mungkin tidak memiliki bahan percakapan berarti dan cukup banyak dengan anak-anak mereka, dan cenderung senang terlibat dalam permainan fisik. Namun penelitian menegaskan, permainan anak bersama ayah juga penting bagi perkembangan dan kebahagiaan anak.

"Ada penelitian terkini yang menunjukkan bahwa permainan fisik bisa mendukung eksplorasi yang sehat di kemudian hari dalam hidup (anak)," kata professor William Pollack dari Harvard Medical School.

"Dulu, orang khawatir bahwa permainan fisik bisa meningkatkan agresivitas pada anak lelaki, tapi ada banyak data di luar sana yang menunjukkan bahwa permainan fisik dapat menuntun mereka untuk lebih empati," tambahnya.

Studi juga menunjukkan bahwa ayah sering memberdayakan dan mendorong anak-anak mereka untuk mengeksplorasi dan bertemu orang baru.

"Ibu membantu anak-anak merasa terhubung, merasa terlindungi, dan diinginkan. Ayah mengajari anak-anak tentang bagaimana berinteraksi dengan orang lain dan bagaimana mengontrol diri ketika keinginan tidak terpenuhi," kata Patrick Tolan, profesor di Curry School di University of Virginia.

sumber: kaskus.us
Selengkapnya...

CATATAN SEORANG ANAK UNTUK AYAHNYA

ayah, sudah berapa kali aku menyakitimu hatimu sudah keberapa kalinya aku menyinggung perasaanmu dengan kata-kata dan sikap yang tidak pantas diucapkan seorang anak terhadap orang tuanya

ayah, sungguh betapa besar pengorbananmu untuk anak-anakmu walaupun kau tidak menyetujui keinginan anak-anakmu yang macam-macam tapi dengan terpaksa kau mengabulkannya hanya untuk menyenangkan hati anakmu yang pada akhirnya memang kata-katamu benar bahwa keinginan kami tersebut, sedikit banyak tidak begitu bermanfaat

ayah, banyak sekali kurasakan pengorbananmu terhadap kami namun sering kali keluar dari mulutku kata-kata yang menyakiti hatimu kata-kata yang seolah-olah kau tidak pernah berbuat sesuatu untuk membahagiakan anak-anakmu kata-kata yang seolah-olah kau begitu jahat dan tak pernah mengalah bagi kami namun dibalik itu semua kau berkorban diatas kepentinganmu untuk kepentingan kami anakmu

sering kali apa yang kau berikan untuk kami sebagai tanda perhatianmu terhadap anak-anakmu yang ternyata membutuhkan pengorbanan yang tidak kecil dan tidak mudah untuk kau lakukan, kami sia-siakan begitu saja seolah-olah semua yang kau berikan bagi kami, tidak ada artinya buat kami

entah dengan cara apa kami harus meminta maaf ? entah cukupkah kebahagiaan dan kebanggaan yang akan kami beri untukmu nanti ? untuk menebus kesalahan dan kebodohan kami

ayah, walau kami merasa sikap dan tindakan yang kau tunjukan dan yang kau ajarkan pada kami begitu keras, namun semua itu benar pada akhirnya semua itu ternyata berguna bagi kami sebagai bekal persiapan mental kami, bahwa ternyata hidup di dunia ini sangat keras, bahwa ternyata hidup di dunia ini sangat kejam, bahwa ternyata betul hidup didunia ini butuh perjuangan untuk menghadapinya

ayah, kau bekerja begitu keras diusiamu yang tidak muda lagi dan dengan kondisi tubuh yang tidak seperti 25 tahun lalu kau bekerja keras membanting tulang pergi kesana kemari hanya untuk menghidupi kami tertama untuk pendidikan kami yang tak pernah kau kompromikan, karena hanya hal itu yang kau utamakan bukan untuk siapa-siapa melainkan sebagai modal bagi kami untuk dimasa depan kami kelak

ah, ayah....
semoga kami masih bisa mempunyai waktu yang cukup untuk bisa membuatmu bangga, untuk bisa membahagiakan mu ayah,maafkan kami,
anak-anakmu

sumber: kaskus.us
Selengkapnya...

SEPOTONG CERITA TENTANG AYAH

suatu malam mendekati jam 9, jaman ane SMA belasan tahun lalu, di palembang, kota di mana ane lahir & besar, ane sama 3 temen di dalam mobil, abis jalan. di pinggir jalan raya, dengan lampu jalan yang temaram, dari kejauhan ane melihat seorang pria bersimpuh di dekat sepeda pancalnya. sepertinya sepedanya rusak. temen ane yang duduk di depan melihat,"kasihan banget tuh orang, malem sepi begini."

temen ane yang lain menimpali,"udah nasib wong itu mang, buntu." tak terasa, laju mobil yang temen ane bawa, mendekati si bapak." ane terkejut, membatin dalam hati,"itu bokap ane." temen2 ane ngga ada yang mengenali kalau itu bokap ane, karena mereka temen2 ane di SMA, yg belum pernah ke rumah ane, ane pun baru beberapa bulan akrab sama mereka, anak2 orang kaya di sebuah SMA paling elite di kota ane.

dalam hati, ane ingin meminta turun, tapi, ada suara lain, suara ego seorang remaja yang "malu" & "gengsi" kalau sampai temen2nya tau, bahwa bapaknya seorang buruh harian pabrik, yg kerja lembur setiap malam, mengayuh sepeda 6 KM PP setiap hari. mobil yang kami naiki melintas begitu saja.15 menit kemudian, ane minta diturunkan depan gang rumah ane. ane masih belum PD utk menunjukkan rumah ane yg gubuk & sederhana.

sekitar 30 menit kemudian, terdengar suara dering sepeda, bapak ane menuntun sepedanya, rupanya ada pelek sepeda yang patah. ane menyambut dingin, masih ada rasa "menyesal" & "mangkel" punya seorang ayah yg berpendidikan hanya SMP, buruh kasar, penghasilan pas-pasan, dibanding ayah2 temen ane yg rata-rata pejabat, pegawai berpangkat atau pengusaha kakap.

saat itu, ane masih ingat aroma keringat campur oli menempel di baju kerja bokap ane. beliau duduk melepas lelah, beberapa saat kemudian ibu ane keluar membawa teh hangat, trus, bokap ane berdiri, mengambil bungkusan kresek di setang. tercium aroma khas, nasi bungkus rendang. "anak-anak, bapak bawa'in nasi bungkus lemburan."

subhanallah, beliau menahan lapar hanya utk menyenangkan ketiga buah hatinya. 2 adik ane keluar, mencium tangannya dan menyambut riang nasi bungkus. perlahan, hati ane mencair, ada rasa sesal, apalagi ketika menatap mata beliau yg jernih & tulus, helaan nafas kelelahan, tak terasa mata ane berkaca-kaca. bisik ane dalam hati"maafin aku pak, aku janji akan membuatmu bangga & bahagia." malam itu, ane tidur sambil terisak-isak.

garis nasib membawa ane ke Institut Gadjah Duduk, lulus dan kerja jadi kuli minyak di Aberdeen, kemudian bisa lanjut master di Univ. Texas, Austin, dan skg kerja di Jakarta. tadi sore, pulang kerja, ane janjian ama bini ketemu di PS. sambil nunggu, ane ke metro, ane inget bokap ane ultah, ane ambil sepotong jack nicklaus, dan sepasang sandal kulit. sepanjang yang ane inget, bokap ane hanya punya beberapa potong baju, yg bertahun2 dikenakannya hingga lusuh. bokap & nyokap ane mulai kelihatan "rapi" justru setelah ane & adik2 lulus kuliah & kerja, kami sering membelikan mereka busana yg pantas, ngajak makan di luar, sesuatu yg tidak pernah kami rasakan dulu, ketika di masa kecil.

di masa remaja, jujur ane malu kalau diajak bokap & nyokap menemani mrk ke suatu tempat, skg, dosa itu ane tebus dgn selalu menggandeng mrk ketika ke luar rumah.
bini ane pernah bertanya, kenapa ane begitu care sama orang kecil, belanja ngga pernah nawar, naek taksi/ojek kasih tips banyak, murah hati kpd org2 susah, kepada pedagang2 kecil, ane hanya menjawab,"aku juga sama spt mereka, dulu. dan bisa menjadi begini, karena jerih payah orang tua, mereka memang miskin harta, tapi kaya hati."

sampai detik ini, ortu ane ngga pernah meminta uang sepeserpun, ngga pernah mengungkit2 jerih payah mereka, ngga pernah mengharap imbalan sedikitpun.
kebanggaan mereka amat sederhana, ketika ditanya orang2 di kampung, "anak-anak sekarang bagaimana? ada di mana? jadi apa mrk skg?" mrk tidak pernah menjawab dengan sombong,"anakku jadi manager, rumahnya bagus, ke mana2 naik mobil diantar sopir, dll". tak pernah, mereka menjawab dgn lembut, diplomatis:"alhamdulillah, anak2 sehat, ada koq di jkt, ya, kerja biasa lah."

namun, ketika bersama kami, mereka mengungkapkan betapa bangga & bahagia, melihat kami skg, hanya itu.

agan-agan, sayangi, beri perhatian & senangkanlah kedua orang tua kita. doakanlah mereka, karena mereka telah berjuang, bekerja keras demi kita, doa mereka setiap hari, tak kunjung putus, cinta & kasih sayang mereka, sepanjang jalan.

sumber: kaskus.us
Selengkapnya...

AYAH, SEX ITU APA SICH ?

Suatu pagi seorang anak yang baru masuk sekolah dasar bertanya kepada ayahnya,

‘Yah…….. ayah….. ….sex itu apa sih, yah…..?’

Terperanjat si ayah mendengar pertanyaan si upik. Terbayang dia tentang arus modern zaman sekarang yang membuat manusia berfikiran terbuka, termasuk anak yang masih kecil. Sesuai dengan konsep pendidikan seks yang sedang hangat dibicarakan, mulailah si ayah mencari-cari jawaban yang sesuai dengan umur dan harapan anaknya yang ia harapkan tak mau tertinggal dalam arus pendidikan modern.

Maka si ayah pun mulai memberikan jawaban dengan mengkiaskan kumbang dan bunga, telur yang menetas berudu dan kemudian menjadi katak, serta benih yang berkembang menjadi tunas, diikuti dengan pembentukan bayi dalam kandungan.
Sebelum mengakhiri semua jawaban itu, si ayah menyelipkan juga kisah pertemuan antara ia dan mamanya hingga sampai kelahiran seorang bayi comel yaitu si anak yang bertanya itu.

Tiba-tiba si anak menangis terisak-isak. Si ayah keheranan.

‘Eh kenapa, nak…..?’ Si ayah bertanya keheranan.

Tetapi si anak masih tetap menangis.

“Jawabannya panjang amat.. hu..hu..hu, terus dimana tempat untuk nulis jawabannya…? Ayah ajalah yang nulis jawabannya!!! hu..hu..hu..”

Si ANAK lantas menyerahkan buku latihan Bahasa Ingris yang pada muka depannya, tertulis...

NAME : __________________
SCHOOL : __________________
CLASS : __________________
SEX : __________________

sumber: kaskus.us
Selengkapnya...

AYAH, BERAPA LAMA KITA DI KUBUR ?

Awan sedikit mendung, ketika kaki kaki kecil Yani berlari-lari gembira
di atas jalanan menyeberangi kawasan lampu merah Karet.
Baju merahnya yg Kebesaran melambai Lambai di tiup angin. Tangan
kanannya memegang Es krim sambil sesekali mengangkatnya ke mulutnya
untuk dicicipi, sementara tangan kirinya mencengkram Ikatan sabuk celana ayahnya.

Yani dan Ayahnya memasuki wilayah pemakaman umum Karet, berputar sejenak ke kanan & kemudian duduk Di atas seonggok nisan “Hj Rajawali binti Muhammad 19-10-1915: 20- 01-1965″

“Nak, ini kubur nenekmu mari Kita berdo’a untuk nenekmu” Yani melihat
wajah ayahnya, lalu menirukan tangan ayahnya yg mengangkat ke atas dan
ikut memejamkan mata seperti ayahnya. Ia mendengarkan ayahnya berdo’a untuk Neneknya…

“Ayah, nenek waktu meninggal umur 50 tahun ya Yah.”
Ayahnya mengangguk
sembari tersenyum, sembari memandang pusara Ibu-nya.
“Hmm, berarti nenek sudah meninggal 42 tahun ya Yah…” Kata Yani
berlagak sambil matanya menerawang dan jarinya berhitung. “Ya, nenekmu
sudah di dalam kubur 42 tahun … “

Yani memutar kepalanya, memandang sekeliling, banyak kuburan di sana .
Di samping kuburan neneknya ada kuburan tua berlumut “Muhammad Zaini:
19-02-1882: 30-01-1910″

“Hmm.. Kalau yang itu sudah meninggal 106 tahun yang lalu ya Yah”,
jarinya menunjuk nisan disamping kubur neneknya. Sekali lagi ayahnya
mengangguk.

Tangannya terangkat mengelus kepala anak satu-satunya. “Memangnya
kenapa ndhuk ?” kata sang ayah menatap teduh mata anaknya. “Hmmm, ayah
khan semalam bilang, bahwa kalau kita mati, lalu di kubur dan kita banyak
dosanya, kita akan disiksa dineraka” kata Yani sambil meminta
persetujuan ayahnya. “Iya kanyah?”

Ayahnya tersenyum, “Lalu?”
“Iya .. Kalau nenek banyak dosanya, berarti nenek sudah disiksa 42
tahun dong yah di kubur? Kalau nenek banyak pahalanya, berarti sudah 42
tahun nenek senang dikubur …. Ya nggak yah?” mata Yani berbinar karena bisa menjelaskan kepada Ayahnya pendapatnya.

Ayahnya tersenyum, namun sekilas tampak keningnya berkerut, tampaknya
cemas ….. “Iya nak, kamu pintar,” kata ayahnya pendek.
Pulang dari pemakaman, ayah Yani tampak gelisah Di atas sajadahnya,
memikirkan apa yang dikatakan anaknya… 42 tahun hingga sekarang…
kalau kiamat datang 100 tahun lagi…142 tahun disiksa .. atau bahagia
dikubur …. LaluIamenunduk … Meneteskan air mata…
Kalau Ia meninggal .. Lalu banyak dosanya …lalu kiamat masih 1000 tahun
lagi berarti Ia akan disiksa 1000 tahun?

InnalillaahiWAinna ilaihi rooji’un …. Air matanya semakin banyak
menetes, sanggupkah ia selama itu disiksa? Iya kalau kiamat 1000 tahun
ke depan, kalau 2000 tahun lagi? Kalau 3000 tahun lagi? Selama itu ia akan
disiksa di kubur. Lalu setelah dikubur? Bukankah Akan lebih parah lagi?
Tahankah? padahal melihat adegan preman dipukuli massa ditelevisi
kemarin ia sudah tak tahan?

Ya Allah… Ia semakin menunduk, tangannya terangkat, keatas bahunya
naik turun tak teratur…. air matanya semakin membanjiri jenggotnya
Allahumma as aluka khusnul khootimah.. berulang Kali di bacanya DOA itu
hingga suaranya serak … Dan ia berhenti sejenak ketika terdengar batuk
Yani.

Dihampirinya Yani yang tertidur di atas dipan Bambu. Di betulkannya
selimutnya. Yani terus tertidur…. tanpa tahu, betapa sang bapak sangat
berterima kasih padanya karena telah menyadarkannya arti sebuah
kehidupan… Dan apa yang akan datang di depannya…
“Yaa Allah, letakkanlah dunia ditanganku, jangan Kau letakkan
dihatiku…”

sumber: kaskus.us
Selengkapnya...

AYAH, MENGAPA TIDAK SHALAT SUBUH

Cerita ini merupakan suatu kisah Islami yang menggambarkan bahwa pencerahan dapat datang dari diri sorang anak.

Suatu hari seorang anak sedang belajar di sekolahnya, dia baru kelas 3 SD. Di salah satu pelajaran, seorang guru menjelaskan tentang shalat subuh dan dia menyimaknya dengan seksama. Mulailah gurunya berbicara tentang keutamaan dan pentingnya shalat subuh dengan cara yang menggugah, tersentuhlah anak didiknya yang masih kecil itu.
Ketika dia pulang ke rumah, berfikirlah dia bagaimana caranya supaya bisa bangun untuk shalat subuh besoknya. Dia tidak mendapatkan caranya selain tidak tidur semalaman sampai bisa melaksanakan shalat subuh. Dia melakukan caranya itu.

Tetapi ada masalah bagi anak kecil ini untuk sampai ke masjid karena letaknya jauh dari rumahnya. Dia tidak bisa berangkat sendirian, maka menangislah dia dan duduk di depan pintu. Tetapi tiba-tiba dia mendengar suara sepatu seseorang dari arah jalan, dibukalah pintu dan keluarlah segera dari rumahnya. Nampaknya kakek ini menuju masjid.

Anak kecil ini melihat sang kakek dan dia kenal.Anak kecil ini mengikuti Kakek Ahmad di belakangnya dengan rasa khawatir dan perlahan-lahan dalam berjalan, jangan sampai Si kakek merasa diikuti dan melaporkan dia ke keluarganya dan yang kemungkinan akan menghukumnya. Berjalanlah peristiwa ini seterusnya sampai pada suatu ketika Si kakek dipanggil oleh Allah Pemilik jiwa dan raganya. Si kakek wafat.

Anak kecil mendengar kabar ini, tertegunlah dia dan menangis sejadi-jadinya. Ayahnya sangat heran melihat kondisi seperti ini, kemudian bertanyalah kepada anaknya, “wahai anakku kenapa kamu menangis sampai seperti ini, dia itu bukan teman bermainmu dan bukan pula saudaramu yang hilang?” Anak kecil itu melihat kearah ayahnya dengan berlinang air mata penuh kesedihan, dan berkata kepada ayahnya, “seandainya yang meninggal itu ayah, bukan dia.”. “Aku tidak kehilangan dia karena hal-hal yang ayah sebutkan.” Bertambah heran ayahnya itu dan bertanya, “lalu karena apa?” Anak itu menjawab, “karena shalat, ayah….karena shalat!” Kemudian anak itu menambahkan pembicaraannya, “Ayah, kenapa ayah tidak shalat subuh? Kenapa ayah tidak seperti si kakek dan seperti orang lain yang aku lihat?” Berkata ayahnya, “dimana kamu melihatnya?” Anak kecil itu menjawab, “di masjid.”

sumber: kaskus.us
Selengkapnya...

AYAH, BOLEH SAYA BELI WAKTUMU ?

Inilah kisah untuk kita renungkan bersama bagi kita yang masih berprinsip ‘ waktu adalah uang ‘.
Seperti biasa Rudi, kepala cabang di sebuah perusahaan swasta terkemuka di
Jakarta, tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya, Imron,
putra pertamanya yang baru duduk di kelas dua SD yang membukakan pintu. Ia
nampaknya sudah menunggu cukup lama akan kedatangan ayahnya pulang kerja.

"Kok, belum tidur?" sapa Rudi sambil mencium anaknya. Biasanya, Imron memang
sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika ia akan berangkat ke
kantor pagi hari. Sambil membuntuti sang ayah menuju ruang keluarga, Imron
menjawab, "Aku nunggu Ayah pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji
Ayah?"

"Lho, tumben, kok nanya gaji Ayah? Mau minta uang lagi, ya?"

"Ah, enggak. Pengen tahu aja."

"Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Ayah bekerja sekitar 10 jam dan
dibayar Rp 400.000,-. Dan setiap bulan rata-rata dihitung 25 hari kerja.
Jadi, gaji Ayah dalam satu bulan berapa, hayo?"

Imron berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar, sementara
ayahnya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika Rudi beranjak menuju
kamar untuk berganti pakaian, Imron berlari mengikutinya.

"Kalau satu hari ayah dibayar Rp 400.000,- untuk 10 jam, berarti satu jam
ayah digaji Rp 40.000,- dong," katanya.

"Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, bobok," perintah Rudi.

Tetapi Imron tak beranjak. Sambil menyaksikan ayahnya berganti pakaian,
Imron kembali bertanya, "Ayah, aku boleh pinjam uang Rp 5.000,- nggak?"

"Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini?
Ayah capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah."

"Tapi, Ayah..."

Kesabaran Rudi habis. "Ayah bilang tidur!" hardiknya mengejutkan Imron. Anak
kecil itu pun berbalik menuju kamarnya. Usai mandi, Rudi nampak menyesali
hardikannya. Ia pun menengok Imron di kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu
belum tidur. Imron didapatinya sedang terisak-isak pelan sambil memegang
uang Rp 15.000,- di tangannya.

Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Rudi berkata, "Maafkan
Ayah, Nak. Ayah sayang sama Imron. Buat apa sih minta uang malam-malam
begini? Kalau mau beli mainan, besok' kan bisa. Jangankan Rp 5.000,- lebih
dari itu pun ayah kasih."

"Ayah, aku nggak minta uang. Aku pinjam. Nanti aku kembalikan kalau sudah
menabung lagi dari uang jajan selama satu minggu ini."

"Iya,iya, tapi buat apa?" tanya Rudi lembut.

"Aku menunggu Ayah dari jam 8. Aku mau ajak Ayah main ular tangga.
Tiga puluh menit saja. Ibu sering bilang kalau waktu Ayah itu sangat berharga.
Jadi, aku mau beli waktu ayah. Aku buka tabunganku, ada Rp 15.000,-.
Tapi karena Ayah bilang satu jam Ayah dibayar Rp 40.000,-, maka setengah jam harus Rp 20.000,-.
Duit tabunganku kurang Rp 5.000,-. Makanya aku mau pinjam dari Ayah," kata Imron polos.

Rudi terdiam. Ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat, air matanya mengalir deras,
menyesali segala ketidakberdayaannya.

sumber: kaskus.us
Selengkapnya...

SURAT UNTUK AYAH

Ayah,
Dulu ku tak pernah tahu seberapa berat pekerjaanmu, pagi berangkat pulang larut malam, demi untuk menafkahi kami sekeluarga, demi memenuhi permintaan anak anaknya yang terkadang tak sadar akan kemampuan mereka.

Ayah,
Entah sudah berapa banyak nasihatmu masuk ke kupingku, tapi terkadang aku hanya membiarkannya melewati telingaku begitu saja. Maafkan aku ayah karena aku belum bisa menjadi seperti yang ayah mau, walaupun kau selalu tersenyum di hadapanku dan berkata "Semua itu ada waktunya".

Ayah,
Aku tahu kehidupan tak semulus kulit wanita, Aku tahu itu dari guratan guratan di dahi mu, meski kau harus jatuh tersungkur menghujam tanah tapi kau harus bangkit ayahku, ku tahu kau sudah tak sekuat dahulu otot-otot tua mu sudah memperlambatmu, tapi kau tak pernah mau kalah dengan keadaan, memaksa tubuh rentamu untuk bekerja.

Ayah,
Sudahlah berhenti, sekarang sudah saatnya kau duduk dan menikmati hidup, berikan tongkat estafet itu kepadaku agar aku yang berjuang. dan agar kami anak-anakmu bisa engkau banggakan di depan teman-temanmu.

Ayah,
Aku tahu setiap kata yang ku ucap dan setiap huruf yang ku tulis semua itu bisa ku lakukan atas jasamu.
Ayah, kau selalu terbangun lebih awal di banding matahari dan membangunkan kami dengan kata-kata indah. Ayah, Aku tahu pada saat aku masih kecil sampai kini aku selalu merepotkanmu dengan kelakuanku.

Ayah,
Aku tahu kau yang tak pernah terlelap tidurnya dan selalu menghiburku saat aku menangis ditengah kesunyian malam disaat aku teringat Ibu, dan kau membalas semua itu dengan senyuman dan belaian sayang.

Setelah dewasa biar kau tak lagi menemaniku di tengah malam, tapi kutahu setiap malam kau menguras air matamu dan memecah kesunyian malam dengan mengangkat tanganmu dan berdoa kepada Allah, dalam doa mu kau tak pernah memikirkan bagaimana nasibmu tapi yang selalu kau pinta adalah agar aku menjadi anak yang berguna, anak yang shaleh, anak yang kuat dan tabah.

Ayah,
Kau lebih menerangi hidup kami di banding matahari di siang hari. Terima kasih atas nasihat nasihatmu, apa yang kau larang bukan karena kau benci tapi atas dasar cintamu padaku anakmu.

Walaupun ku tak bisa menyampaikan ini padamu Ayah, karena air mataku pasti akan mengalir deras karena mengingat salahku padamu. Aku tahu kau akan selalu memaafkan aku sebesar apapun kesalahanku tapi tekadang Aku lah yang tak mau menyadari kesalahanku sendiri dan meminta maaf. mungkin bahwa Aku berfikir bahwa aku lebih pintar tapi aku terkadang lupa bahwa kau lah sebenarnya perpustakanku. Tanpamu Ayah, aku tak berani membayangkan apa jadinya diriku ini, Aku akan selalu mencintaimu Ayah.


------------------------


Saudaraku,

Lelaki terbaik diantara kita bukanlah orang yang hebat dalam segala hal, tetapi yang bisa berbuat baik (minimal) pada keluarganya. Begitu kata Rasulullah.

Biarpun dia dikenal “waahh” oleh semua orang, tapi jika tidak memberikan kebaikan untuk keluarganya, setidaknya dia bukanlah lelaki terbaik (menurut hadist tadi).

Kenapa? Karena peran keluarga demikian besar dalam pembentukan masyarakat yang lebih luas lagi. Keluarga merupakan pondasi yang paling dasar dari sebuah masyarakat. Jika setiap keluarga itu baik, insya Allah masyarakat (lebih luas lagi dalam lingkup negara dan dunia) akan menjadi baik. Rasanya tidak ada yang berlebihan dari ungkapan ini. Allah sendiri pernah berfirman: “Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” (QS At Tahrim : 6).

Ini adalah dalil yang jelas, bahwa seorang lelaki punya tanggung jawab yang besar bukan hanya untuk dirinya sendiri tetapi juga terhadap keluarga yang menjadi tanggungannya. ia harus berusaha agar dirinya dan keluarganya tetap menjadi baik.

Bagaimana caranya? minimal dengan kata-kata lembut ketika berbicara dengan keluarganya. Tidak memperlakukan mereka dengan kasar secara fisik maupun mental. Berusaha mengambil jalan yang terbaik untuk semua (kebaikan untuk semua orang) ketika dihadapkan pada sebuah permasalahan, berterimakasih karena telah diingatkan ketika ia berbuat salah, tidak egois dan apalagi selalu menyalahkan orang lain, menerima kritik dengan lapang dada, menghargai pendapat orang lain, tidak memandang remeh orang lain sementara memandang dirinya lebih pintar dan seterusnya…

Istri dan anak-anak yang baik tak lepas dari didikan yang baik pula dari suami/ayah mereka. Jangan salahkan istri dan anak yang susah diatur, karena bisa jadi karena suami/ayah mereka bukan orang yang baik.[Tidak ada ada anak buah yang bodoh, yang ada adalah pemimpin yang tidak pandai]. Pendek kata, lihatlah bagaimana lelaki pengatur rumah tangga memperlakukan mereka. Jika mereka diperlakukan baik (dididik dg baik, diingatkan ketika berbuat salah dengan cara yang ma’ruf, tidak sering marah dan berkata kasar dll).

Insya Allah hasil yang didapatkan juga akan baik. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, begitu kata orang. Dan semua ini takkan pernah bisa ia lakukan jika tidak mendapat bimbingan dari Allah. Makanya ia perlu bimbingan dari Sang Maha Pemberi Petunjuk. karena hidup adalah belajar tentang berbagai hal.

Inilah sebuah nasihat diambil dari makna sepucuk surat seorang anak dan nasihat ini ditujukan minimal untuk diri sendiri.

Semoga Allah Azza Wa Jalla menolong kita semua.

Amiin Allahumma Amin..

sumber: kaskus.us
Selengkapnya...

SEORANG ANAK YANG MENCORET MOBIL AYAHNYA

Sepasang suami isteri - seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia tiga setengah tahun. Sendirian ia di rumah dan kerap kali dibiarkan pembantunya karena sibuk bekerja di dapur. Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya.

Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan mobil, tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya… karena mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.

Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja motor.jpgkarena ingin menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah.

Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, “Kerjaan siapa ini !!!” …. Pembantu rumah yang tersentak engan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah adam ketakutan lebih-lebih melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan ‘ Saya tidak tahu..tuan.” “Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?” hardik si isteri lagi.

Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata “Dita yg membuat gambar itu ayahhh.. cantik …kan!” katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja seperti biasa.. Si ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali-kali ke telapak tangan anaknya . Si anak yang tak mengerti apa apa menagis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya.

Sedangkan Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan. Pembantu rumah terbengong, tidak tahu harus berbuat apa… Si ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya. Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar.

Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka-luka dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih saat luka-lukanya itu terkena air. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya. “Oleskan obat saja!” jawab bapak si anak.

Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. “Dita demam, Bu”…jawab pembantunya ringkas. “Kasih minum panadol aja ,” jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya.

Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Dita terlalu panas. “Sore nanti kita bawa ke klinik.. Pukul 5.00 sudah siap” kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya susah serius. Setelah beberapa hari di rawat inap dokter memanggil bapak dan ibu anak itu. “Tidak ada pilihan..” kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah dan infeksi akut…”Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah” kata dokter itu. Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi.

Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata. “Ayah.. ibu… Dita tidak akan melakukannya lagi…. Dita tak mau lagi ayah pukul. Dita tak mau jahat lagi… Dita sayang ayah..sayang ibu.”, katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya. “Dita juga sayang Mbok Narti..” katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris.

“Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita janji tidak akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti ?… Bagaimana Dita mau bermain nanti ?… Dita janji tidak akan mencoret-coret mobil lagi, ” katanya berulang-ulang. Serasa hancur hati si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung-raung dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur.

Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah minta maaf…Tahun demi tahun kedua orang tua tersebut menahan kepedihan dan kehancuran bathin sampai suatu saat Sang Ayah tak kuat lagi menahan kepedihannya dan wafat diiringi tangis penyesalannya yg tak bertepi…, Namun…., si Anak dengan segala keterbatasan dan kekurangannya tersebut tetap hidup tegar bahkan sangat sayang dan selalu merindukan ayahnya..

sumber: kaskus.us
Selengkapnya...

Minggu, 25 Juli 2010

SEORANG ANAK YANG INGIN MEMBELI WAKTU AYAHNYA

Seorang laki-laki yang terlambat pulang dari kerja,merasa lelah dan tidak bersemangat, menemukan anak laki2nya yang berusia 5 th yang sedang menynggu didepan pintu.

"Daddy, bolehkah saya bertanya padamu satu hal?"
"ya, tentu,apa itu?"jawab pria itu.
"ayah, brapa uang yang engkau hasilkan dalam satu jam?"
"Itu bukan urusanmu!apa yang membuatmu bertanya suatu hal yang aneh?"kata pria itu sambil marah.
"Saya hanya ingin tahu. Tolonglah beritahu saya?"pinta anak itu.
"Jika kamu harus tahu, saya menghasilkan $20.00 perjam."
"Oh,"jawab anak itu dengan kepala menunduk. dia melihat keatas dan berkata, "ayah, bolehkah sy pinjam $10.00?"

ayahnya terkejut. "jika itu alasannya kamu bertanya berapa uang yang saya hasilkan adalah agar kamu bisa meminjam untuk membeli sebuah mainan tolol atau benda2 tak berguna, maka pergilah ke kamarmu dan tidulah. pikirkan kenapa kamu bertingkah bodoh. saya bekerja keras seharian dan tidak memiliki waktu hanya untuk mainan2 anak2 itu."
Anak itu perlahan pergi ke kamarnya dan menutup pintu. Pria itu duduk dan mulai merasa liebih kesal dengan pertanyaan anak tadi. Beraninya dia bertanya pertanyaan bodoh hanya untuk mendapat uang. Setelah kira2 satu jam pria itu mulai tenang, dan mulai berpikir mungkin dia selama ini keras trhadap anaknya. Mungkin ada yang benar2 dibutuhkan anak itu dengan $10.00 dan dia jarang mengatakannya. Pria itu menuju ke pintu kmar anaknya dan membuka pintu."apa kamu sudah tidur nak?"dia bertanya.

"Belum ayah, saya masih bangun,"Jawab anak itu.
"saya tadi berpikir mungkin tadi saya terlalu keras kepadamu,"kata pria itu. "Tadi adalah hari yang panjang dan saya telah melampiaskannya padamu. ini $10.00 yang kamu minta."
Anak itu berdiri,merasa senang dan berteriak,"Oh trimaksih ayah!"Kemudian ia merogoh kebawah bantalnya, ia mengeluarkan beberapa uang receh. Pria itu melihat anaknya memiliki uang, mulai terlihat marah lagi. Anak itu berlahan menghitung uangnya, kemudian menatap pria itu.
"kenapa kamu minta lagi kalau kamu sudah punya?" geram si ayah.
"karena saya belum memiliki cukup uang, tapi sekarang saya sudah,"jawab anak itu.
"Ayah saya memilki $20.00 sekarang. bisakah saya membeli waktumu satu jam?"

sumber: kaskus.us
Selengkapnya...

42 HAL YANG TIDAK DISADARI ANAK TENTANG AYAHNYA

1. Ayah ingin anak-anaknya punya lebih banyak kesempatan daripada dirinya, menghadapi lebih sedikit kesulitan, lebih tidak tergantung pada siapapun - dan (tapi) selalu membutuhkan kehadirannya.

2. Ayah membiarkan kamu menang dalam permainan ketika kamu masih kecil, tapi dia tidak ingin kamu membiarkannya menang ketika kamu sudah besar.

3. Ayah tidak ada di album foto keluarga, karena dia yang selalu memotret.

4. Ayah selalu tepat janji! Dia akan memegang janjinya untuk membantu seorang teman, meskipun ajakanmu untuk pergi sebenarnya lebih menyenangkan.

5. Ayah selalu sedikit sedih ketika melihat anak-anaknya pergi bermain dengan teman-teman mereka.karena dia sadar itu adalah akhir masa kecil mereka.

6. Ayah mulai merencanakan hidupmu ketika tahu bahwa ibumu hamil (mengandungmu) , tapi begitu kamu lahir, ia mulai membuat revisi.

7. Ayah membantu membuat impianmu jadi kenyataan bahkan diapun bisa meyakinkanmu untuk melakukan hal-hal yang mustahil, seperti berenang di air setelah ia melepaskanya.

8. Ayah mungkin tidak tahu jawaban segala sesuatu, tapi ia membantu kamu mencarinya.

9. Ayah mungkin tampak galak di matamu, tetapi di mata teman-temanmu dia tampak baik dan menyayangi.

10. Ayah lambat mendapat teman, tapi dia bersahabat seumur hidup

11. Ayah benar-benar senang membantu seseorang...tapi ia sukar meminta bantuan.

12. Ayah di dapur. Membuat memasak seperti penjelajahan ilmiah. Dia punya rumus-rumus dan formula racikannya sendiri, dan hanya dia sendiri yang mengerti bagaimana menyelesaikan persamaan-persamaan rumit itu. Dan hasilnya?... .mmmmhhh..."tidak terlalu mengecewakan" ^_~

13. Ayah mungkin tidak pernah menyentuh sapu ketika masih muda, tapi ia bisa belajar dengan cepat.

14. Ayah paling tahu bagaimana mendorong ayunan cukup tinggi untuk membuatmu senang tapi tidak takut.

15. Ayah akan sangat senang membelikanmu makanan selepas ia pulang kerja, walaupun dia tak dapat sedikitpun bagian dari makanan itu

16. Ayah selalu berdoa agar kita menjadi orang yang sukses di dunia dan akhirat, walaupun kita jarang bahkan jarang sekali mendoakannya

17. Ayah akan memberimu tempat duduk terbaik dengan mengangkatmu dibahunya, ketika pawai lewat.

18. Ayah tidak akan memanjakanmu ketika kamu sakit, tapi ia tidak akan tidur semalaman. Siapa tahu kamu membutuhkannya.

19. Ayah menganggap orang itu harus berdiri sendiri, jadi dia tidak mau memberitahumu apa yang harus kamu lakukan, tapi ia akan menyatakan rasa tidak setujunya.

20. Ayah percaya orang harus tepat waktu. karena itu dia selalu lebih awal menunggumu.

22. Ia akan melupakan apa yang ia inginkan, agar bisa memberikan apa yang kamu butuhkan.....
23. Ia menghentikan apa saja yang sedang dikerjakannya, kalau kamu ingin bicara...

24. Ia selalu berfikir dan bekerja keras untuk membayar spp mu tiap semester, meskipun kamu tidak pernah membantunya menghitung berapa banyak kerutan di dahinya....

25. Ayah mengangkat beban berat dari bahumu dengan merengkuhkan tangannya disekeliling beban itu....

26. Ayah akan berkata ,, tanyakan saja pada ibumu" Ketika ia ingin berkata ,,tidak"

27. Ayah tidak pernah marah, tetapi mukanya akan sangat merah padam ketika anak gadisnya menginap di rumah teman tanpa izin

28. Dan diapun hampir tidak pernah marah, kecuali ketika anak lelakinya kepergok menghisap rokok dikamar mandi.

29. Ayah mengatakan ,, tidak apa-apa mengambil sedikit resiko asal kamu sanggup kehilangan apa yang kamu harapkan"

30. Pujian terbaik bagi seorang ayah adalah ketika dia melihatmu melakukan sesuatu hal yang baik persis seperti caranya....

31. Ayah lebih bangga pada prestasimu, daripada prestasinya sendiri....

32. Ayah hanya akan menyalamimu ketika pertama kali kamu pergi merantau meningalkan rumah, karena kalau dia sampai memeluk mungkin ia tidak akan pernah bisa melepaskannya.

33. Ayah tidak suka meneteskan air mata .... ketika kamu lahir dan dia mendengar kamu menangis untuk pertama kalinya,dia sangat senang sampai-sampai keluar air dari matanya (ssst..tapi sekali lagi ini bukan menangis)

34. ketika kamu masih kecil, ia bisa memelukmu untuk mengusir rasa takutmu...ketika kau mimpi akan dibunuh monster...

35. tapi.....ternyata dia bisa menangis dan tidak bisa tidur sepanjang malam, ketika anak gadis kesayangannya di rantau tak memberi kabar selama hampir satu bulan.

36. Ayah pernah berkata :" kalau kau ingin mendapatkan pedang yang tajam dan berkwalitas tinggi, janganlah mencarinya dipasar apalagi tukang loak, tapi datang dan pesanlah langsung dari pandai besinya. begitupun dengan cinta dan teman dalam hidupmu, jika kau ingin mendaptkan cinta sejatimu kelak, maka minta dan pesanlah pada Yang Menciptakannya"

37. Untuk masa depan anak lelakinya Ayah berpesan: ,, jadilah lebih kuat dan tegar daripadaku, pilihlah ibu untuk anak-anakmu kelak wanita yang lebih baik dari ibumu , berikan yang lebih baik untuk menantu dan
cucu-cucuku, daripada apa yang yang telah ku beri padamu"

38. Dan Untuk masa depan anak gadisnya ayah berpesan :" jangan cengeng meski kau seorang wanita, jadilah selalu bidadari kecilku dan bidadari terbaik untuk ayah anak-anakmu kelak! laki-laki yang lebih bisa
melindungimu melebihi perlindungan Ayah, tapi jangan pernah kau gantikan posisi Ayah di hatimu"

39. Ayah bersikeras, bahwa anak-anakmu kelak harus bersikap lebih baik daripada kamu dulu....

40. Ayah bisa membuatmu percaya diri... karena ia percaya padamu...

41. Ayah tidak mencoba menjadi yang terbaik, tapi dia hanya mencoba melakukan yang terbaik....

42. Dan terpenting adalah... Ayah tidak pernah menghalangimu untuk mencintai Tuhan, bahkan dia akan membentangkan seribu jalan agar kau dapat menggapai cintaNya, karena diapun mencintaimu karena cintaNya.

sumber: kaskus.us
Selengkapnya...

AYAH, AKU SANGAT MENGASIHIMU

Hampir tak pernah terlintas dalam benakku bahwa ayahku akan meninggalkanku untuk selamanya. Semua harapan dan cita-citaku untuk membahagiakan beliau di hari tua sirna sudah. Bahkan selama ini belum pernah terucap dari bibirku “aku sayang ayah”, suatu kalimat yang seharusnya selalu diucapkan seorang anak kepada orangtuanya. Entah mengapa aku merasa malu jikalau mengatakannya. Kini aku tidak punya kesempatan lagi dan penyesalan yang kudapat. Tak ada lagi sosok ayah yang bertanya “mau pergi kemana?” saat aku hendak pergi, mengingatkanku agar berhati-hati di jalan, ataupun meneleponku saat aku pulang agak malam. Terkadang aku agak malas mendengarnya, namun saat ini dan sampai kapanpun kalimat tersebut sangat sangat sangat ingin kudengar.

Pada malam hari pada tanggal 27 november 2009 yang bertepatan dengan hari raya Idul Adha adalah hari terakhir aku bertatap muka dengan ayahku saat hendak ke toilet. Sekitar pukul 20.30, ibuku dengan panik berkata padaku yang tengah nonton naruto bahwa ayahku pingsan. Saat kuhampiri, beliau sudah diangkat oleh beberapa orang. Karena aku berpikir bahwa beliau dibawa ke rumah sakit maka dengan santainya aku mematikan komputer. Namun ternyata beliau dibawa ke teras rumah dan saat kuhampiri lagi beliau sedang dipijiti. Meski begitu aku tidak terlalu khawatir karena sewaktu aku SMA, beliau juga pernah mengalami hal yang sama, hingga ketika ibuku berkata padaku bahwa ayahku telah meninggal. Aku bergegas mendatangi ayahku dan memerikasa nadinya. Alhamdulillah nadinya masih ada, namun beberapa detik kemudian jantung beliau berhenti berdetak. Seakan tak percaya ayahku telah meningal, aku selalu memeriksa nadi beliau. Hingga akhirnya kumenangis karena kuyakin bahwa ayahku telah meninggal dunia. Hari ini benar-benar menjadi hari pengorbanan. Aku harus merelakan orang yang paling kusayangi pergi meninggalkanku.

Saat beliau dibawa dengan ambulan ke Madura, aku menangis dan berkata pada ayahku yang sudah tak bergerak lagi “aba, katanya besok sekeluarga mau ke Madura naik motor, tapi kok naik ambulan. Aba bohong”. Dan saat kupulang ke Surabaya, yang kulihat di kamar beliau hanyalah baju koko yang baru dipakainya saat sholat id dan sholat jum’at. Baju tersebut tergantung dan tak ada sosok ayah yang memakainya lagi. Saat melihat baju itu, aku selalu menangis. Seandainya aku diberi waktu 7 detik saja, maka waktu itu akan kugunakan untuk memeluk beliau dan akan kukatakan “AKU SAYANG AYAH”.

Bagi teman-teman yang masih memiliki orang tua, baik itu ayah maupun ibu – bersegeralah untuk menyampaikan padanya bahwa kamu sayang beliau karena kesempatan tersebut bisa saja tinggal hari ini, agar tidak menyesal seperti yang kualami. Dan bagi teman-teman yang ayahnya merokok mintalah padanya untuk berhenti merokok. Berilah dukungan moril dan kalau beliau mengalami kesulitan, bantulah dengan memberikan permen karet nikotin atau semacamnya.


Ada Band – Yang Terbaik Bagimu (Jangan Lupakan Ayah)

Teringat masa kecilku kau peluk dan kau manja
Indahnya saat itu buatku melambung
Disisimu terngiang hangat napas segar harum tubuhmu
Kau tuturkan segala mimpi-mimpi serta harapanmu

Kau inginku menjadi yang terbaik bagimu
Patuhi perintahmu jauhkan godaan
Yang mungkin ku lakukan dalam waktu ku beranjak dewasa
Jangan sampai membuatku terbelenggu jatuh dan terinjak

Tuhan tolonglah sampaikan sejuta sayangku untuknya
Ku terus berjanji tak kan khianati pintanya
Ayah dengarlah betapa sesungguhnya ku mencintaimu
Kan ku buktikan ku mampu penuh maumu

Andaikan detik itu kan bergulir kembali
Ku rindukan suasana basuh jiwaku
Membahagiakan aku yang haus akan kasih dan sayangmu
Tuk wujudkan segala sesuatu yang pernah terlewati

Ayah, aku sangat menyayangimu

sumber: kaskus.us
Selengkapnya...

CERITA SUNYI SEORANG AYAH

cerita tentang ayah
Mentari itu telah redup, bias cahayanya hampir tenggelam tertutup awan mendung, luka meradang pada pepohonan tumbang tak tersiram dihalaman rumah itu.
bayangan mu ada di sudut itu, tertawa melihat ku disini sendiri berselimut sepi diantara siang dan malam.

Akar rerumputan dan sebatang pohon singkong melambai-lambai tertiup angin sore. Aku duduk disitu mengingat mu tertawa padaku mengodaku pada sebatang pohong nangka yang tak berbuah.
Oh..begini rupa hidup ini.....

Mentari telah kembali ke peraduan, kumandang azan bersahut-sahutan mengetarkan cakrawala, aku tak beranjak. Kakiku terasa kaku untuk pergi dari tempat ini, meninggalkan berjuta kisah indah bersama pujaan hati.

Dibalik sebuah pintu lapuk perselingkuhan rayap dan semut hitam, ada sepeda yang dulu ku beli dengan cinta dan kasih agar sang buah hati tersenyum di sepanjang hari. Kupandangi sepeda itu, seolah kau ada disitu Nak.....menggayuh sepeda itu, dengan lambaian tangan mu pada ku sambil berkata "Ayah aku main dulu ya".
aku berdiri, meraih sepeda warna merah itu, kugayuh sejenak di teras rumah yang tak lagi ramai.
teringat diri mu Nak !!........semoga kau tak menderita seperti ku kelak !!

Gelap telah menyelimuti hari dan mentari benar-benar tak nampak lagi.
masih seperti ini, terdiam disini.......di tempat ini, tak ada tawa, tak ada canda, tak ada lambaian tangan si buah hati, tak ada kata "Ayah aku main dulu ya". Tak ada senyum itu lagi...
Oh.....
Begini rupa hidup ini.......

sumber: kaskus.us


sumber: kaskus.us Selengkapnya...

SURAT UNTUK AYAH

Saat aku lahir di dunia ini
Engkau tersenyum bahagia
Tetesan air mata terjatuh
Dan mulai membasahi pipimu
"Aku akan selalu mencintaimu, aku berjanji"
Katanya sembari tersenyum kepadaku.
Aku tak tahu akan itu.

Saat aku mulai tumbuh
Dan mulai bisa berjalan
Kau tersenyum bahagia
"Aku bangga kepadamu"
Katanya dalam hati
Dan aku tidak tahu itu.

Aku semakin besar dan mulai bisa membaca
Lagi-lagi aku melihatmu tersenyum
"Engkau memang anakku"
Aku tak sadar akan ucapannya.

Saat aku mulai dewasa
Banyak masalah menghampiriku.
Engka berkata kepadaku.
"Aku yakin kau bisa selesaikan itu"
Tapi aku tidak mendengarkan kata-katamu.

Saat aku merasakan kegagalan demi kegagalan
Tanganmu Menyentuh pundakku
"Tak apa-apa nak, itu hal yang wajar"
Aku tak tahu harus menjawab apa.

Saat kusadari engkau semakin tua
Aku mulai menyadari kata-katamu
Aku memarahi diriku sendiri
Dan menyesal setiap hari.

Aku tidak pernah membanggakanmu
Dan aku tidak pernah membuatnya bangga
Kini aku tak malu untuk mengucapkannya

"Aku bangga padamu Ayah"
Akan kubuat engkau bangga padaku
Sama seperti engkau berjanji pada dirimu
Saat aku pertama dilahirkan di dunia ini.

Terimakasih dan maafkan aku.......

sumber: kaskus.us
Selengkapnya...

AYAH JUGA LUPA

Dengar, Nak: Ayah mengatakan ini pada saat kau terbaring tidur,
sebelah tangan kecil merayap dibawah pipmu dan rambutmu yang keriting pirang lengket pada dahimu yang lembap.
Ayah menyelinap masuk seorang diri ke kamarmu.
Baru beberapa menit yang lalu, ketika Ayah sedang membaca koran di ruang perpustakaan,
satu sapuan sesal yang amat dalam menerpa. Dengan perasaan bersalah Ayah datang masuk menghampiri pembaringanmu.

Ada hal-hal yang Ayah pikirkan, Nak: Ayah slama ini bersikap kasar kepadamu.
Ayah membentakmu ketika kau sedang berpakaian hendak pergi ke sekolah karena kau cuma menyeka mukamu sekilas dengan handuk. Lalu Ayah lihat kau tidak membersihkan sepatumu. Ayah berteriak marah tatkala kau melempar beberapa barangmu ke lantai.

Saat makan pagi Ayah juga menemukan kesalahan.
Kau meludahkan makananmu. Kau menelan terburu -buru makananmu. Kau meletakkan sikumu diatas meja. Kau mengoleskan mentega terlalu tebal di rotimu. Dan begitu kau mulai bermain dan Ayah berangkat mengejar kereta api, kau berpaling dan melambaikan tangan sambil berseru, "Selamat jalan ayah!" dan ayah mengerutkan dahi, lalu menjawab, "Tegakkan bahumu!"

Kemudain semua itu berulang lagi pada sore hari.
Begitu ayah muncul dari jalan, ayah segera mengamatimu dengan cermat, memandang hingga lutut, memandangmu yang sedang bermain kelereng. Ada lubang-lubang pada kaus kakimu.
Ayah menghinamu didepan kawan-kawanmu, lalu menggiringmu untuk pulang ke rumah.
Kaus kaki mahal - dan kalau kau yang harus membelinya, kau akan lebih berhati-hati! Bayangkan itu, Nak, itu ke;uar dari pikiran seorang ayah!

Apakah kau ingat, nantinya, ketika Ayah sedang membaca di ruang perpustakaan, bagaimana kau dengan perasaan takut, dengan rasa terluka dalam matamu? Ketika Ayah terus memandang koran, tidak sabar karena gangguanmu, kau jadi ragu-ragu didepan pintu. "Kau mau apa?" semprot Ayah.

Kau tidak berkata sepatah pun, malainkan berlari melintas melompat kearah Ayah, kau melemparkan tanganmu melingkari leher Ayah dan mencium Ayah, tangan tanganmu yang kecil semakin erat memeluk dengan hangat, kehangatan yang telah Tuhan tetapkan untuk mekar dihatimu dan yang bahkan pengabaian sekalipun tidak akan mampu melemahkannya.
Dan kemudian kau pergi, bergegas menaiki tangga.


Nah, Nak, sesaat setelah koran itu jatuh dari tangan Ayah, dan satu rasa takut yang menyakitkan menerpa Ayah.
Kebiasaan apa yang sudah Ayah lakukan? Kebiasaan dalam menemukan kesalahan, dalam mencerca - ini adalah hadiah Ayah untukmu senbagai seorang anak lelaki. Bukan berarti Ayah tidak mencintaimu; Ayah melakukan ini karena Ayah berharap terlalu banyak dari masa muda.

Ayah sedang mengukurmu dengan kayu pengukur dari tahun-tahun Ayah sendiri.
Dan sebenarnya begitu banyak hal yang baik dan benar dalam sifatmu.
Hati mungil milikmu sama besarnya dengan fajar yang memayungi bukit bukit luas.
Semua ini kau tunjukkan dengan sikap spontanmu saat aku menghambur masuk dan mencium ayah sambil mengucapkan selamat tidur. Tidak ada masalah lagi malam ini, Nak. Ayah sudah datang ke tepi pambaringanmu dalam kegelapan, dan Ayah sudah berlutut disana, dengan rasa malu!.

Ini adalah sebuah tobat yang lemah; Ayah tahu kau tidak akan mengerti hal-hal seperti ini kalau Ayah sampaikan hal ini saat kau terjaga. Tapi esok hari Ayah akan menjadi Ayah sejati! Ayah akan bersahabat karib denganmu, dan ikut menderita bila kau menderita, dan tertawa bila kau tertawa. Ayah akan menggigit lidah Ayah kalau kata-kata tidak sabar keluar dari mulut Ayah.
Ayah akan terus mengucapkannya kata ini seolah-olah sebuah ritual: "Dia cuma seorang anak kecil - anak lelaki kecil..! "

Ayah khawatir sudah membayangkanmu sebagai seorang lelaki.
Namun saat Ayah memandangmu sekarang, Nak, meringkuk barbaring dan letih dalam tempat tidurmu, Ayah lihat kau masih seorang bayi. Kemarin kau masih dalam gendongan ibumu, kepalamu berada di bahu ibumu. Ayah sudah meminta terlalu banyak, sungguh terlalu banyak.

sumber: kaskus.us
Selengkapnya...

HATI SEORANG AYAH

Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan, yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya.....

Akan sering merasa kangen sekali dengan Mamanya.
Lalu bagaimana dengan Papa?
Mungkin karena Mama lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari,
Tapi tahukah kamu , jika ternyata Papa-lah yang mengingatkan Mama untuk menelponmu?
Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Mama-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng,

tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Papa bekerja dan dengan wajah lelah Papa selalu menanyakan pada Mama tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?
Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil......
Papa biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda.
Dan setelah Papa mengganggapmu bisa, Papa akan melepaskan roda bantu di sepedamu...
Kemudian Mama bilang : "Jangan dulu Papa, jangan dilepas dulu roda bantunya" ,
Mama takut putri manisnya terjatuh lalu terluka....

Tapi sadarkah kamu?
Bahwa Papa dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.
Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Mama menatapmu iba.
Tetapi Papa akan mengatakan dengan tegas : "Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang"

Tahukah kamu, Papa melakukan itu karena Papa tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?
Saat kamu sakit pilek, Papa yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata :
"Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!".
Berbeda dengan Mama yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut.
Ketahuilah, saat itu Papa benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.

Ketika kamu sudah beranjak remaja....
Kamu mulai menuntut pada Papa untuk dapat izin keluar malam, dan Papa bersikap tegas dan mengatakan: "Tidak boleh!".
Tahukah kamu, bahwa Papa melakukan itu untuk menjagamu?
Karena bagi Papa, kamu adalah sesuatu yang sangat - sangat luar biasa berharga..
Setelah itu kamu marah pada Papa, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu...
Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah Mama....

Tahukah kamu, bahwa saat itu Papa memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya, (
Bahwa Papa sangat ingin mengikuti keinginanmu, Tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu?

Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan Papa melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya.
Maka yang dilakukan Papa adalah duduk di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir...
Dan setelah perasaan khawatir itu berlarut - larut...
Ketika melihat putri kecilnya pulang larut malam hati Papa akan mengeras dan Papa memarahimu.. .

Sadarkah kamu, bahwa ini karena hal yang di sangat ditakuti Papa akan segera datang?
"Bahwa putri kecilnya akan segera pergi meninggalkan Papa"
Setelah lulus SMA, Papa akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang Dokter atau Insinyur.
Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Papa itu semata - mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti...
Tapi toh Papa tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan Papa

Ketika kamu menjadi gadis dewasa....
Dan kamu harus pergi kuliah dikota lain...
Papa harus melepasmu di bandara.
Tahukah kamu bahwa badan Papa terasa kaku untuk memelukmu?
Papa hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini - itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. .
Padahal Papa ingin sekali menangis seperti Mama dan memelukmu erat-erat.

Yang Papa lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata "Jaga dirimu baik-baik ya sayang".
Papa melakukan itu semua agar kamu KUAT...kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.
Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Papa.
Papa pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.

Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan Papa tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan...
Kata-kata yang keluar dari mulut Papa adalah : "Tidak.... Tidak bisa!"
Padahal dalam batin Papa, Ia sangat ingin mengatakan "Iya sayang, nanti Papa belikan untukmu".
Tahukah kamu bahwa pada saat itu Papa merasa gagal membuat anaknya tersenyum?

Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana.
Papa adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu.
Papa akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat "putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang"
Sampai saat seorang teman Lelakimu datang ke rumah dan meminta izin pada Papa untuk mengambilmu darinya.

Papa akan sangat berhati-hati memberikan izin..
Karena Papa tahu.....
Bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.
Dan akhirnya....
Saat Papa melihatmu duduk di Panggung Pelaminan bersama seseorang Lelaki yang di anggapnya pantas menggantikannya, Papa pun tersenyum bahagia....

Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Papa pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis?
Papa menangis karena papa sangat berbahagia, kemudian Papa berdoa....
Dalam lirih doanya kepada Tuhan, Papa berkata: "Ya Allah tugasku telah selesai dengan baik....

Putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita yang cantik....
Bahagiakanlah ia bersama suaminya..."
Setelah itu Papa hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk...
Dengan rambut yang telah dan semakin memutih....
Dan badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari bahaya....

Papa telah menyelesaikan tugasnya....

Pesan :
Papa, Ayah, Bapak, atau Abah kita...
Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat...
Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis...
Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. .
Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa "KAMU BISA" dalam segala hal..

sumber: kaskus.us
Selengkapnya...

AYAHKU TUKANG BATU

Alkisah, sebuah keluarga sederhana memiliki seorang putri yang menginjak remaja. Sang ayah bekerja sebagai tukang batu di sebuah perusahaan kontraktor besar di kota itu. Sayang, sang putri merasa malu dengan ayahnya. Jika ada yang bertanya tentang pekerjaan ayahnya, dia selalu menghindar dengan memberi jawaban yang tidak jujur. "Oh, ayahku bekerja sebagai petinggi di perusahaan kontraktor," katanya, tanpa pernah menjawab bekerja sebagai apa.

Si putri lebih senang menyembunyikan keadaan yang sebenarnya. Ia sering berpura-pura menjadi anak dari seorang ayah yang bukan bekerja sebagai
tukang batu. Melihat dan mendengar ulah anak semata wayangnya, sang ayah bersedih. Perkataan dan perbuatan anaknya yang tidak jujur dan mengingkari keadaan yang sebenarnya telah melukai hatinya. Hubungan di antara mereka jadi tidak harmonis. Si putri lebih banyak menghindar jika bertemu dengan ayahnya. Ia lebih memilih mengurung diri di kamarnya yang kecil dan sibuk menyesali keadaan. "Sungguh Tuhan tidak adil kepadaku, memberiku ayah seorang tukang batu," keluhnya dalam hati. Melihat kelakuan putrinya, sang ayah memutuskan untuk melakukan sesuatu. Maka, suatu hari, si ayah mengajak putrinya berjalan berdua ke sebuah taman, tak jauh dari rumah mereka. Dengan setengah terpaksa, si putri mengikuti kehendak ayahnya.

Setelah sampai di taman, dengan raut penuh senyuman, si ayah berkata, "Anakku, ayah selama ini menghidupi dan membiayai sekolahmu dengan bekerja sebagai tukang batu. Walaupun hanya sebagai tukang batu, tetapi ayah adalah tukang batu yang baik, jujur, disiplin, dan jarang melakukan kesalahan. Ayah ingin menunjukkan sesuatu kepadamu, lihatlah gedung bersejarah yang ada di sana. Gedung itu bisa berdiri dengan megah dan indah
karena ayah salah satu orang yang ikut membangun. Memang, nama ayah tidak tercatat di sana, tetapi keringat ayah ada di sana. Juga, berbagai bangunan indah lain di kota ini di mana ayah menjadi bagian tak terpisahkan dari gedung-gedung tersebut. Ayah bangga dan bersyukur bisa bekerja dengan baik hingga hari ini." Mendengar penuturan sang ayah, si putri terpana. Ia terdiam tak bisa berkata apa-apa. Sang ayah pun melanjutkan penuturannya, "Anakku, ayah juga ingin engkau merasakan kebanggaan yang sama dengan ayahmu. Sebab, tak peduli apa pun pekerjaan yang kita kerjakan, bila disertai dengan kejujuran, perasaan cinta dan tahu untuk apa
itu semua, maka sepantasnya kita mensyukuri nikmat itu." Setelah mendengar semua penuturan sang ayah, si putri segera memeluk ayahnya. Sambil terisak, ia berkata, "Maafkan putri, Yah. Putri salah selama ini. Walaupun tukang batu, tetapi ternyata Ayah adalah seorang pekerja yang hebat. Putri bangga pada Ayah." Mereka pun berpelukan dalam suasana penuh keharuan.

intinya :
Begitu banyak orang yang tidak bisa menerima keadaan dirinya sendiri apa adanya. Entah itu masalah pekerjaaan, gelar, materi, kedudukan, dan lain sebagainya. Mereka merasa malu dan rendah diri atas apa yang ada, sehingga selalu berusaha menutupi dengan identitas dan keadaan yang dipalsukan. Tetapi, justru karena itulah, bukan kebahagiaan yang dinikmati. Namun, setiap hari mereka hidup dalam keadaan was was, demi menutupi semua kepalsuan. Tentu, pola hidup seperti itu sangat melelahkan. Maka, daripada hidup dalam kebahagiaan yang semu, jauh lebih baik seperti tukang batu dalam kisah di atas. Walaupun hidup pas-pasan, ia memiliki kehormatan dan integritas sebagai manusia. Sungguh, bisa menerima apa adanya kita hari ini adalah kebijaksanaan. Dan, mau berusaha memulai dariapa adanya kita hari ini dengan kejujuran dan kerja keras adalah keberanian

sumber: kaskus.us
Selengkapnya...