Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 Oktober 2010

ANAK KITA DAN JAMAN

“Wah sudah besar, ya anakmu?” apa yang kita rasakan ketika mendengar sapaan itu. Bangga? Rata-rata demikian. Setiap orang tua akan bangga ketika disapa demikian. Anakku sudah besar, pikir kita.

Tapi pernahkah kita tersentak mendengar sapaan itu, “anakku sudah besar” Ya anakmu sudah besar. Sudah bertambah usianya. Dan apa saja yang telah engkau berikan kepada anakmu sepanjang usianya? Tahukah kau peristiwa apa saja yang telah terjadi sepanjang usianya? Ketika ia tertawa bahagia, mendapatkan momen yang membungakan perasaannya, hadirkah engkau di sana, turut tertawa bahagia bersamanya? Dan ketika ia meneteskan air mata duka karena kecewa dan hatinya luka, apakah engkau ada di sisinya? Engkau jadikan dadamu sebagai tumpahan air matanya? Dan engkau usap rambutnya yang halus agar ia tahu bahwa ia tak menangis sendirian, bahwa engkau ada bersamanya? Berempati merasakan duka dengannya. Seberapa sering itu kau lakukan?

Tahukah engkau dengan siapa saja ia bermain? Apa yang ia mainkan? Ataukah kau hanya berkutat dengan duniamu sendiri dan merasa anakmu akan baik-baik saja?

Dan tahu-tahu, anakmu sudah bertambah besar, bertambah usianya, dan kau tak akan bisa lagi mendampinginya.

Anak kita adalah anak zaman. Ia tumbuh seiring pertumbuhan zaman, dan usianya mengikuti zaman. Tapi kita, orang tua, semestinya menjadi guide baginya mengikuti zaman. Kita harus bisa menjadi rembulan yang bersinar terang bagi anak-anak kita di zaman yang serba gulita. Ketika anak-anak kita menatap ke angkasa mereka merasa akan baik-baik saja, karena ayah bundanya selalu bersama mereka. Kalaupun tak bisa senantiasa bersama, tapi cahayanya, ajarannya, ada dekat dengan mereka.

Tapi sadarkah bahwa orang tua sering ?merampas’ kebersamaan itu? Kesibukan kita mencari nafkah, aktualisasi diri kita, jadi alasan untuk membuang kesempatan emas kita untuk bersama mereka. Lalu kita percayakan anak-anak kita pada orang lain, pengasuh, playgroup, sekolah-sekolah unggulan, dan teman-teman mereka. Maaf, ini bukan saja pemikiran para eksekutif dan kaum karir, tapi tak sedikit pasangan suami-istri pegiat dakwah yang berpikiran demikian.

Sebagian orang tua malah percaya bahwa jika orang tua terus mendampingi anak maka akan melemahkan mental anak. Lebih baik jika diasuh oleh orang lain dan dibiarkan main sesuka mereka.

Masya Allah, lupakah mereka dengan pesan Nabi saw. “Al waladu lil firasy – anak adalah milik orang tua.” Dan bukankah orang tua yang menentukan keyahudian, kenasranian dan kemajusian anak-anak mereka?

Dan, tahu-tahu anakmu sudah besar. Kau sudah tak bisa lagi mendampingi mereka, mereka pun berpaling darimu. Apakah kau akan bangga atau malu? [januar]

[diambil dari Tabloid KELUARGA, edisi 01, 2008]
Selengkapnya...

Sabtu, 28 Agustus 2010

MENGAPA SUAMI HANYA DIAM KETIKA ISTRINYA BICARA ?

Ketika wanita sudah ngomong panjang lebar dan pria hanya menjawab 'Heemm', emosi wanita biasanya langsung naik dan stres karena merasa tidak dianggap atau dihargai.
Gejala itu kemudian diberi istilah Guy Attention Deficit Syndrome (GADS) yang membuat pria hanya diam saat wanita bicara.

Komunikasi adalah masalah penting dalam sebuah hubungan.
Banyak wanita yang mengeluhkan pasangan prianya menderita gejala Guy Attention Deficit Syndrome (GADS) karena tidak memberi perhatian atau tanggapan pada saat berkomunikasi dengannya.

Jika Anda sedang berbicara dengan pria dan hanya mendapatkan tanggapan 'Heemm' tanpa ada kalimat yang terucap dari mulutnya, jangan salahkan pria itu.
Pria bukannya tidak mendengar apa yang diucapkan wanita, tapi memang begitulah cara pria mendengar wanita.

Menurut peneliti dari University of Sheffield , Inggris, otak pria tidak akan langsung terhubung pada saat wanita berbicara. Pria dan wanita punya struktur otak yang berbeda dalam mendengarkan sesuatu.

Pria menggunakan bagian otak primitifnya saat memproses suara wanita, yaitu bagian otak yang berfungsi untuk memilih. Jadi bukan karena pria tidak peduli dengan apa yang diucapkan wanita, tapi memang struktur otaknya yang membuat pria lebih lama dalam mencerna omongan wanita.

Peneliti pernah melakukan tes dengan memutarkan rekaman suara wanita dan pria pada sebuah grup pria. Selama mendengarkan suara rekaman tersebut, otak partisipan di-scan menggunakan alat MRI (Magnetic Resonance Imaging). Dan hasilnya ternyata pria menggunakan bagian otak yang berbeda saat mendengar suara pria dan wanita.

"Pria memproses suara wanita di bagian otak yang sama saat mendengarkan musik.
Hal ini dikarenakan suara wanita lebih kompleks dan punya kekuatan melodi yang lebih besar. Jadi jika pria mendengar wanita berbicara, ia perlu menganalisisnya lebih lama untuk mengetahui maksud ucapannya," ujar seorang peneliti seperti dikutip dari Thirdage, Jumat (11/12/2009).

Dengan kata lain, ketika seorang wanita berbicara dan pria tidak menanggapinya, bukan berarti si pria tidak mendengarkan ucapan wanita, tapi ia hanya perlu waktu untuk menerjemahkan bahasa 'melodi' yang ia tangkap di bagian otaknya yang berbeda.

"Itulah sebabnya mengapa 5 menit setelah wanita selesai bicara, pria baru mengerti apa yang dibicarakan si wanita," tambahnya.

Jadi jika para wanita mengeluh susah berkomunikasi dengan pria, mungkin riset ini bisa membantu menjelaskan mengapa hal itu bisa terjadi.

Jangan lupa menenangkan hati wanita yang sedang marah atau stres dengan mengatakan, "Sayang, suara kamu bagaikan musik di telingaku.
Bukannya saya tidak mendengarkan ucapanmu, tapi simponi itu membuat saya tidak bisa mendengar kata-katamu,".

sumber: loverlem.blogspot.com
Selengkapnya...

BERTENGKAR: BAIK UNTUK KESEHATAN

Tak selamanya bertengkar itu berefek negatif. Sebuah studi terbaru menunjukkan, bertengkar itu justru baik bagi kesehatan bila dilakukan untuk alasan yang tepat.

Penelitian yang dilakukan Institute for Social Research di Universitas Michigan Amerika Serikat menunjukkan, ketika orang mengalami ketegangan dengan orang lain, entah itu dengan bos, pasangan atau anak, menghindari konfrontasi justru berakibat buruk bagi kesehatan mereka. Menghindari konflik dapat dikaitkan dengan problem fisik pada hari berikutnya dibanding pertengkaran di hari itu.


Sengaja menghindar dari pertengkaran juga dikaitkan dengan hormon stres atau kortisol yang naik turun secara tidak normal sepanjang hari.

"Hubungan memiliki pengaruh penting pada bagaimana kita merasa setiap hari, terutama masalah dalam hubungan kita. Bagaimana kita menangani masalah kita sehari-hari mempengaruhi kesejahteraan," kata Kira Birditt, peneliti yang mempublikasikan temuannya dalam Konvensi Tahunan Asosiasi Psikologi Amerika ke 118 pada 12 Agustus kemarin.

Riset sebelumnya menunjukkan, pasangan yang menikah dan menghindari pertengkaran kemungkinan meninggal lebih cepat dibanding pasangan yang lebih ekspresif. Studi lain menemukan, mengekspresikan kemarahan berperan dalam rasa kontrol dan optimisme yang tidak hadir pada mereka yang menanggapi pertengkaran itu dengan cara menakutkan.

Melawan atau diam
Dalam penelitiannya, Birditt dan timnya menemukan bahwa cara paling umum yang dilakukan orang-orang untuk menangani masalah-masalah interpersonal adalah menghindarinya. Para peneliti lalu mencoba mengungkap dampak kesehatan dari perilaku menghindar tersebut.

Dalam risetnya, peneliti menganalisis data 1.842 orang dewasa usia 33-84 yang ikut ambil bagian dalam studi bertajuk 'Nation Study of Daily Experiences'.
Sekali dalam sepekan, para peserta diminta mencatat apakah mereka terlibat pertengkaran atau pernah mengalami situasi di mana mereka berdebat tetapi memutuskan untuk membiarkannya berlalu tanpa perlawanan. Selain itu, peserta diharuskan memberi sampel air liur selama empat hari.

Hasilnya, sebanyak 62 persen mengatakan mereka mengesampingkan pertengkaran pada beberapa kejadian selama penelitian berlangsung. Sementara, 41 persen dilaporkan terlibat konflik dan sisanya 27 persen peserta tak mengalami tekanan.

Beberapa jenis tekanan yang dialami (apakah dihindari atau tidak) dilaporkan lebih merupakan emosi negatif, seperti rasa kesal atau marah, dan gejala fisik, termasuk mual atau sakit dan nyeri, ketimbang mereka yang tak mengalami konflik selama delapan hari. Meski demikian, menurut Birditt menghindari pertengkaran dikaitkan dengan memiliki gejala problem fisik di kemudian hari.

Stres
Menghindari pertengkaran juga dihubungkan dengan pola harian hormon kortisol yang menjadi tidak biasa. Biasanya, hormon kortisol seseorang mengalami puncaknya setelah bangun pagi, kemudian hormon stres menurun sepanjang hari.

Namun, pada orang-orang yang menghindari pertengkaran, hormon kortisol mereka mengalami peningkatan tajam di pagi hari dan penurunan hormon kortisolnya melambat. "Mereka(menghindari pertengkaran) tidak bisa merasa tenang seharian," kata Birditt.

Menariknya, para mereka yang bertengkar terlihat hormon kortisolnya merendah di pagi hari. Ini mungkin karena "Orang-orang yang sering bertengkar dan mengalami stres seiring dengan berjalannya waktu menjadi kurang reaktif terhadap tekanan," kata Birditt.

Pada dasarnya, mereka yang sering bertengkar kerap melepaskan tekanan secara teratur. Sedangkan mereka yang jarang bertengkar kerap memedam emosinya sehingga seperti bom waktu yang siap meledak kapan saja.

sumber: loverlem.blogspot.com
Selengkapnya...